Sabtu, 27 Juni 2009

Sukses Sejati...(bag. 3)

Sifat Kesembilan dan Kesepuluh
“Dan orang-orang yang tidak bersaksi palsu dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatannya” (ayat 72)

Sifat yang kesembilan dari ‘Ibad (hamba) Allah adalah selalu jujur dalam menjalani hidupnya. Tidak berbohong dan tidak mengatakan sesuatu yang bukan pada tempatnya adalah identitas dirinya.

Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Perbuatan apa yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga?” Rasulullah menjawab, “Bertaqwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik.” Kemudian sahabat bertanya lagi, “Perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka?” Rasulullah menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR At Tirmidzi)

Sifat yang kesepuluh dari ‘Ibad (hamba) Allah adalah menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat yang dalam bahasa arab disebut sebagai al-laghw yang berarti tidak bermanfaat/berfaedah. Al-laghw bukanlah sesuatu yang haram karena hal itu bagi seorang hamba Allah pastilah sudah ditinggalkan, tetapi suatu hal yang berpotensi untuk berbuat dosa. Hal yang dapat dijadikan contoh adalah mengobrol/berdiskusi yang tidak jelas arahnya yang dapat membawa kepada bergunjing dan memfitnah.


Sifat Kesebelas
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (ayat 73)

Sifat yang kesebelas adalah menyangkut keterbukaan diri untuk menerima kebenaran. Allah ingin menjelaskan bahwa kebenaran yang hakiki itu adalah datang dari Allah SWT semata. Salah satu sifat manusia yang buruk adalah jika merasa dirinya sudah berkuasa dan memiliki harta yang banyak, ia enggan untuk menerima kebenaran dari seorang yang ia anggap lemah. Ia menganggap dirinya yang paling benar dan semua orang harus tunduk kepadanya. Ia selalu memonopoli kebenaran dan orang-orang disekelilingnya akan takut untuk menyampaikan kebenaran kepadanya.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling kubenci dan paling jauh kedudukannya denganku di hari akhirat kelak adalah orang yang banyak bicara, suka mengobrol dan bermulut besar.” Para sahabat Nabi berkata, “Ya Rasulullah, kami telah tahu tentang orang yang banyak bicara dan suka mengobrol, tapi jelaskanlah kepada kami orang yang bermulut besar itu?” Rasulullah saw menjawab, “yaitu orang-orang yang sombong. Mereka itu menolak kebenaran yang disampaikan kepadanya dan merendahkan sesama manusia.” (HR At Tirmidzi)


Sifat Keduabelas
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan hidup dan keturunan-keturunan yang menjadi penyejuk hati kami dan jadikanlah kami contoh teladan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa.” (ayat74)

Sifat keduabelas dari ‘Ibad (hamba) Allah yang membawa kesuksesan adalah perhatian mereka dalam membangun rumah tangga yang sakinah. Ayat ini membuktikan bahwa sifat-sifat mereka tidak hanya berupaya untuk menghiasi dirinya dengan amal-amal terpuji tapi juga berusaha untuk memberi perhatian kepada pasangan hidup dan anak-anak keturunan mereka agar juga dihiasi dengan sifat-sifat terpuji yang akan menjadi contoh atau teladan bagi lingkungan disekelilingnya. Mereka berusaha dengan niat yang baik dan ikhtiar yang maksimal untuk berupaya mendidik pasangan hidupnya dan anak-anaknya agar menjadi manusia terhormat yang dihiasi dengan akhlak terpuji dan tidak menjadi beban bagi masyarakat tempat mereka berdiam.

Disadari atau tidak bahwa akhlak suatu masyarakat akan dimulai dari lingkungan keluarga sebagai satuan terkecil dari sebuah masyarakat. Jika akhlak dari tiap-tiap anggota keluarga baik, maka baik pula masyarakat itu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita saat ini? Kita sendiri yang dapat menjawabnya.


Demikianlah keduabelas sifat dari ‘Ibad (hamba) Allah yang akan membawa kesuksesan dunia dan akhirat. Sebagai penutup atas penjelasan akan sifat-sifat hamba-hamba-Nya ini Allah SWT berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka, dan mereka disambut disana dengan penghormatan dan salam. Mereka kekal didalamnya. Alangkah baik tempat menetap dan tempat kediaman itu.” (ayat 75 dan 76)

Allah ingin menjelaskan kepada kita bahwa kesempurnaan balasan itu adalah kelak di hari akhirat. Dunia adalah tempat ujian bukanlah tempat menuai hasil. Cukuplah di dunia ini kita memperoleh rahmat-Nya yang selalu menyertai dimanapun kita berada. Yang dengan rahmat Allah SWT tersebut, apapun kesempitan yang dihadapi terasa sebagai sebuah jalan untuk memperoleh kelapangan. Kesusahan yang kita hadapi terasa sebagai pintu pembuka kebahagian. Ketika kita memperoleh nikmat-Nya kita bersyukur dan ketika memperoleh mushibah-Nya kita bersabar….

(Habis)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar