Sabtu, 27 Juni 2009

Dua Tetes Air Mata

Dikutip dr Kisah-kisah Teladan Untuk Keluarga, oleh DR.Mulyanto

Alkisah, ada seorang pria bernama Ahmad bin Miskin hidup dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Kesusahan terus menerus menderanya. Tak ada pekerjaan yang dilakukan, juga tak ada uang untuk membeli makanan. Suatu malam, setelah seharian tak makan, hatinya gelisah dan tak dapat tidur. Hatinya perih sama seperti perutnya yang lapar. Anaknya menangis seharian, karena tak ada air susu dari istrinya yang juga lapar. Sungguh kemiskinan ini membuatnya sangat menderita, hingga timbul niat untuk menjual rumahnya besok pagi.

Paginya, setelah sholat subuh ia menemui sahabatnya, Abdullah As sayad, dan berkata,
"Wahai Abdullah bisakah kau pinjamkan bebrapa dirham untuk keperluan hari ini? Aku bermaksud menjual rumahku. Nanti setelah laku akan kubayar hutangku."

"Wahai Ahmad, ambillah bungkusan ini untuk keluargamu, dan pulanglah! Nanti aku akan menyusul ke rumahmu membawa semua kebutuhanmu.", jawab Abdullah.

Maka Ahmad langsung pulang sambil bingung memikirkan dimana dia akan tinggal setelah rumahnya dijual. Sambil melangkah pulang hatinya senang dengan bungkusan makanan yang didapatnya. Tentu istrinya juga akan gembira dan anaknya tidak akan menangis lagi.
Belum sampai setengah jalan, tiba-tiba seorang wanita dengan menggendong bayi menghampirinya, berkata,
" Tuan, berilah kami makanan. Sudah beberapa hari ini kami belum makan. Anak ini anak yatim yang kelaparan.
Tolonglah...Semoga Allah SWT merahmati tuan..."

Ahmad pun iba.Ditatapnya wajah bayi yang digendong bayi itu, wajahnya tampak layu dan pucat karena kelaparan. Sungguh memelas, Ahmad tak mampu memandang lama-lama. Ahmad membatin,
" Dibandingkan keluargaku ibu dan bayi ini lebih membutuhkan. Biarlah aku akan mencari makanan yang lain untuk keluargaku."

"Ini, bu. Ambillah...aku tak punya yang lain, semoga dapat meringankan bebanmu. Kalau saja aku mempunyai yang lain mungkin aku dapat membantumu lebih banyak." Kata Ahmad samil menyerahkan bungkusan yang sama sekali belum disentuh isinya.

Dua tetes air mata jatuh dari mata sang ibu,
"Terima kasih..terima kasih tuan..Sungguh tuan telah menolong kami. Semoga Allah membalas budi baik tuan dengan balasan yang lebih besar." kata ibu itu sambil menunduk hormat.

Ahmad pun melajutkan perjalanan. Ia lalu bersandar di bawah pohon sambil merenungi nasibnya. Namun ia teringat kembali akan janji kawannya, Abdullah, yang akan membawakan keperluannya. Dan Abdullah tidak pernah ingkar janji sedikitpun. Ia pun langsung bangkit dan bergegas pulang. Di tengah perjalanan ia bertemu sahabatnya Abdullah.

"Kemana saja kau Ahmad? Aku mencarimu kemana-mana." kata Abdullah sambil tersengal-sengal."Aku datang ke rumahmu membawakan seluruh keperluanmu yang aku janjikan. Tapi di tengah perjalanan aku bertemu seorang saudagar dengan beberapa unta bermuatan penuh. Dia ingin bertemu ayahmu. Dia bilang ayahmu pernah memberinya pinjaman 30tahun yang lalu. Setelah jatuh bangun berdagang, kini ia telah menjadi saudagar besar di Bashrah. Sekarang dia ingin mengembalikan uang pinjamannya, keuntungannya serta hadiah-hadiah." jelas Abdullah."Sekarang segera pulanglah, Ahmad!Harta yang banyak menunggumu. Tak usah kau jual rumahmu."

Ahmad sangat terkejut, hampir tak percaya, "Benarkah Abdullah?Benarkah?" Lalu ia langsung berlari pulang menuju rumahnya. Dan melihat sendiri kenyataan yang diceritakan sahabatnya. Sejak saat itu Ahmad pun menjadi orang terkaya di kotanya. Tapi tidak membuatnya lupa diri. Ia tetap berbuat banyak kebajikan.

Pada suatu malam Ahmad bermimpi. Sepertinya saat itu ia sedang dihisab oleh para malaikat. Maka pertama-tama dosanya ditimbang. Ahmad khawatir dengan banyaknya dosa yang telah ia lakukan.
"Apakah amal kebaikanku dapat melebihi dosa-dosaku?" Ahmad membatin.
Lalu amal kebaikannya juga ditimbang. Pahala berderma hanya ringan-ringan saja karena harus dipotong oleh kesombongan dan riya', dan juga lainnya. Hingga akhirnya amal kebaikannya tak mampu mengimbangi dosanya. Ahmad pun menangis.

Para malaikat bertanya, "Masih adakah amal lain yang belum ditimbang?"

"Masih ada, ada dua amal yang belum dihitung." Jawab malaikat yang lain.

Ternyata salah satu amal itu adalah makanan yang ia dulu berikan kepada seorang ibu dan bayinya. Makin takutlah Ahmad, "Bagaimana mungkin amalan itu akan mampu mengimbangi dosa yang berat?"
Namun, ketika ditimbang, timbangan itu langsung terangkat hingga sejajar dengan dosanya. Tak menyangka Ahmad betapa berat bobot amalan itu. Ia gembira dan sedikit lega.
"Tapi amalan apalagi yang tersisa, karena timbangan masih seimbang." katanya dalam hati.

Lalu malaikat mendatangkan dua tetes air mata syukur ibu dan anak yatim yang ditolong Ahmad dulu. Ahmad tak menyangka air mata itu dinilai sebagai pahala untuknya. Ia bersyukur.
Para malaikat pun menimbang tetesan air mata itu. Seketika tetesan air mata itu berubah menjadi lautan yang luas. Lalu muncul seekor ikan yang sanga besar dari dalamnya. Malaikat menangkap dan menimbang ikan itu yang disetarakan dengan amal baik Ahmad.
Ketika ikan menyentuh timbangan seketika timbangan langsung condong ke arah kebaikan.
"Dia selamat, dia selamat!" kata para malaikat.

"Alhamdulillah, seandainya dulu aku mementingkan diri dan keluargaku sendiri maka tak akan ada berat amal makanan dan air mata itu." Saat itu pula Ahmad terbangun dari mimpinya..

Amal yang ikhlas di tengah himpitan kesempitan bernilai sangat tinggi di mata Allah SWT...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar