Senin, 29 Juni 2009

Tugas Mendesak

“(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. (Q.S. Ibrahim: 52)

SEBUAH PARADOKS
Suatu adegan yang menjadi rutinitas sejarah: pemujaan manusia terhadap berhala dan pembajakan kemanusiaan. Merupakan konfrontasi awal pada masyarakat disaat berhala-berhala ini menjelma pada setiap pribadi menjadi; nafsu-syahwat, bintang jasa, jabatan, gelar sarjana, harta kekayaan, ambisi buta, mental oportunis, dan watak hedonistis. Dalam pemujaannya terhadap berhala mengalami pertarungan yang menuntut; KEMENANGAN! Manakala kekuatan berhala lebih besar menguasainya, lebih dicintainya, dipujanya, mereka akan bersujud, takluk dalam penghambaannya terhadap berhala, benar-salah bukan menjadi standar nilai atau norma, sehingga naluri-naluri hewani dalam dirinya beraksi—praktis segala jalan dilaluinya dan penentangan terhadap dirinya adalah lawan yang patut disingkirkan.

“Laa Ilaaha iIlaallaah” merupakan kontrak sosial manusia dengan Dzat Yang Maha Esa adalah Tawhid, yakni manifestasi yang tidak mengakui adanya tuhan selain Alloh ‘Azza wa Jalla. Adapun “Laa” dan “iIlaa” atau antara pengingkaran dan penegasan terletaklah inti dasar Aqidah Islam. “Laa” adalah pengingkaran terhadap ketuhanan apapun. Baik yang kita cintai-sayangi seperti: harta benda, kedudukan, pangkat, kekuasaan, kemewahan maupun wanita yang cantik-molek dan sanak-keluarga. Pada semua itu kita katakan TIDAK! Umumnya manusia menyembah dirinya sendiri, menyembah hawa nafsu dan ketenarannya, menyembah akal dan fikirannya. Ia menganggap dirinya berkuasa atas sesama manusia, pada nafsu yang demikian ini, kita nyatakan TIDAK! Kepada rezim penguasa dan kepada siapa pun kita nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembahmu! Adapun “Ilaah” berarti Tuhan adalah Subyek. Selain Dia, hanyalah sarana-sarana belaka, baik presiden, menteri, jenderal, anggota dewan, pemilik pabrik atau siapa saja, maupun harta benda, kedudukan, kekuasaan, nafsu, akal dengan segala bakat dan kecerdasannya yang luar biasa sekalipun. Kepada semua itu, kita nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembah mereka! Mereka bukan Tuhan! Kecuali (illaa) satu. Satu itulah yang bagi-Nya kita kukuhkan kesubyekan itu. Yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla. Penguasa Tunggal. Pemilik alam raya dan jagad mayapada.

Perseteruan hujjah berlangsung hingga terkobarkan perang antara Tawhid melawan Syirik; Tawhid melawan penguasa tiran; terapresiasi melalui tampilnya Nabi Ibrahim as yang menentang penguasa paganis Namrud, Musa as yang menentang tirani-fascism Fir’aun, Isa as yang menentang imperialis Romawi dan Muhammad Saw yang menentang dominasi berjouis-kapitalis Musyrikin Makkah. Kesemua mereka, para Nabi agung ini adalah para penolak penghambaan atau pemujaan terhadap berhala-berhala, dan mereka berjuang untuk merombak tatanan masyarakatnya yang menyimpang dari kehendak Sang Pencipta yang menghendaki terbentuknya masyarakat ideal yang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, sebuah masyarakat Tawhid, masyarakat yang menjadikan Alloh Sang Pencipta sebagai sumber segala kehidupan, menyemai persamaan dan persaudaraan dan menegakkan keadilan, kedamaian serta kemakmuran. Penentangan dan perjuangan mereka telah menyulut peperangan demi penentangan yang menjadi konsekuensi logis sebuah penolakkan mutlak terhadap berhala-berhala.

Keharmonisan berinteraksi dengan Tawhid sebagai ruh kehidupan bermasyarakat, merupakan tolok ukur dan dasar kecenderungan manusia mengakui eksistensi (keberadaan) Alloh ‘Azza wa Jalla. Daya nalar, pola pemikiran, daya inovasi, daya kreasi dan berbagai idea serta konsep hanya akan mewujudkan kearogansian dan angkaramurka, jika tidak ada muatan Tawhid di dalamnya.

MAZHAB GENERASI PERTAMA: REVOLUSI!

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Alloh sedikitpun; dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali ‘Imran: 144)

Misi ini menolak Plato dan para filusuf spritual lainnya yang mencabut hak sosial para pekerja hanya karena pekerjaannya yang hina dengan membagi masyarakat kedalam kelas-kelas sosial. Misi ini pun menentang Marxisme-Komunisme yang dengan gegap gempitanya mengelukan ‘pembebasan’, tetapi seiring dengan itu telah mencampakkan kemanusiaan dengan menisbatkan manusia sebagai ‘benda’ atau seonggok daging yang kehilangan hak asali. ‘Logika Marx’ telah menjustifikasi (memvonis) manusia menjadi ‘alat-alat produksi’ dari sebuah ‘dialektika-materialisme’, dimana hak-hak substansial manusia direnggut bagi kepentingan mesin raksasa, diktator-proletariat. Adalah bohong belaka dan telah gagal dalam sejarah! Keadilan pada masyarakat Marxisme, pembebasan hak-hak manusia pada ajaran Komunisme, dan serangan gencarnya kepada agama hakikatnya merupakan propaganda dan intrik-politik dari seorang Marx terhadap kaum geraja, rahib-rahib dan borjuasi-kapitalisme ketika itu. Adapun dalam prakteknya, ajaran Marxis-Komunisme begitu jauh kepada apa yang telah digembar-gemborkannya. Cuba, Uni Sovyet, RRC atau di Indonesia sekalipun merupakan kenihilan atau kebohongan! Provokasi dialektika-nya Hegel yang menjelmakan ‘Tuhan sebagai produk sejarah’ menjadi senjata ampuh Marx guna merajam kaum borjuasi-gereja dikalangan kaum proletar dengan jargon nya “agama adalah candu masyarakat”. Berbanding terbalik dengan realita, cuma propaganda muluk belaka. Komunisme adalah satu bentuk penindasan baru. Penindasan baru yang diproduksi dari mesin-mesin Kapitalis yang frustasi. Penindasan dimana rakyat, masyarakat atau komunitas manusia terkurung-sesak didalam mesin-mesin industri yang dikuasai atas nama ‘kepentingan kolektif’. Kepentingan dimana manusia menjadi ‘binatang ekonomi’.

Sejarah mencatat dengan tinta emas dan mengingatnya dalam kitab samawi yang mutlak suci (Al Qur’an), manakala Nabi, Rosul, dan para pengikutnya menderita siksaan demi menegakkan misi estafeta kenabian. Misi yang menyeru masyarakat manusia untuk ber-Tawhid, yakni satu gugus tugas mengenyahkan pemujaan terhadap berhala-berhala; satu perlawanan terhadap seseorang, atau sekelompok orang yang berkuasa demi perbudakan; satu pemberontakan terhadap sistem yang didalamnya sesak oleh kaum oportunis, koruptor, konglomerat hitam, hukum yang dapat dibeli, kebohongan publik, sikap kapitalistik, diskriminasi gender, kemiskinan moral, kebobrokan mental, privatisasi aset bangsa dan negara, penghisapan pemerintahan pusat terhadap daerah, penjahat kemanusiaan berbintang jasa; satu gerakan penyadaran, keadilan dan pembebasan dari anasir-anasir konservatif yang menindas.

Mereka para Nabi, para Rosul dan pengikutnya tahu benar bahwa keteguhan hati dan kemauan mereka menjadikan dirinya tetap sebagai pelita yang menerangi jalan kehidupan. Dikarenakan mereka tidak meragukan lagi eksistensi Alloh Azza wa Jalla sebagai PENGUASA TUNGGAL di jagad raya ini. Sebelum Isa diangkat sebagai Rosul, Alloh telah menunjuk Musa sebagai pembawa berita kebenaran. Musa tunduk atas segala perintah Alloh, sehingga ia pada zaman-nya melakukan perlawanan terhadap; QARUN, sang kapitalis; BAL’AAM, ulama tersohor yang menyokong status quo; dan FIR’AUN, diktator—penguasa-- yang otoriter. Al Qur’an yang mutlak benar mengisahkan dalam surat Thaha 43-44:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Musa pun menyampaikan ayat-ayat Alloh dengan perkataan lemah lembut, tetapi Fir’aun menolak ajakan itu malahan berusaha menentang dan membunuh Musa. Bahkan Fir’aun berusaha mengumpulkan massa dan ia berorasi: ”…akulah tuhanmu...akulah penguasamu...“ Inilah satu bentuk status quo; satu bentuk pemerintahan dibangun melalui sistem perekonomian yang kapitalistik, yakni sistem penghisapan --sistem ekonomi yang berdiri dengan riba, penguasaan pribadi atas alat-alat produksi; satu kebohongan publik dimana atas nama agama--atas seruan yang keluar dari mulut ulama, rakyat dipaksa menerima situasi penindasan. Situasi dan kondisi di mana kedaulatan rakyat, kebenaran, keadilan, tergenggam ditangan rezim, terkuasai oleh kedigdayaan tiran. Sedang ulama dengan legitimasi ‘ulama’-nya dibentuk sebagai cooler --alat pendingin--, sebagai alat untuk menyimpangkan kebenaran Firman Alloh Azza wa Jalla, dan sebagai alat guna meredam perlawanan terhadap penindasan tirani.
.......

http://revolusiana.blogspot.com/2009/06/tugas-mendesak.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar