Senin, 29 Juni 2009

You Are Everything To Me Dech…(Bag.III Habis)`

Kata Pengantar

“Beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.”(QS. Al-Mukminun:1-2)

Sekarang apa fungsi pengetahuan Islam yang berhubungan dengan shalat khusuk? Apa ada hubungannya? Yah jelas sekali.
Tapi sebelum itu, silahkan saja teman-teman memberi pengertian apa itu khusuk sesuai pengalaman pribadi, atau mendengar seminar tentang khusuk, membaca buku tentang khusuk, bisa saja berarti shalat dengan tenang di satu tempat, rileks, kosentrasi, jauh dari keramaian, mata terpejam, ataupun dengan menggunakan istilah “ma’rifat, tajjali, takholi” dll.
Sayang sekali kitab-kita berbahasa Arab (turats) yang ada dalam perpustakaan saya, tidak ada penjelasan tentang itu (mungkin ada tapi saya yang tidak punya judulnya), bahkan kitab modern pun kayaknya sulit menemukan judul ini. Meskipun ada buku berbahasa Indonesia yang membahas masalah ini.
Kayaknya kita menanti tulisan tentang khusuk oleh Syaikh Dr. Sudais atau Syaikh Dr. Suraim (keduanya Imam besar Masjid al-Haram Mekkah) yang sering kita dengar. Karena keduanya sering menagis ketika shalat. Tapi sayangnya bahasannya belum ditulis juga. “Padahal ok banget kalau ditulis, loh wong Imammya dari masjid yang jadi kiblat seluruh dunia kok!!”
Sepertinya masalah khusuk itu diserahkan pada pribadi muslim masing-masing. Khusuk menurut yang satu dalam keadaan begini, tapi belum tentu juga hal itu menjadikan kusuk bagi yang lainnya.

Important Note
Tapi ada satu catatan penting yang tidak bisa kita lupakan, yaitu bahwa khusuk sedikit banyaknya berhubungan erat dengan Al-Qur’an Dan jawabannya tentu saja ada dalam Al-Qur’an itu sendiri.

Banyak ayat Qur’an yang mengajurkan taddabur Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal: 2).


Dengan demikian kata taddabur adalah sebuah proses yang akan menghasilkan kekhusukan dalam shalat. Meskipun ada faktor lainnya yang bisa membantunya.
Dengan demikian sekali lagi, ternyata pengetahuan Islam dapat menyuguhkan khusuk bagi para pengemarnya.

Lah kok bisa begitu?
Misalnya seorang makmun ataupun imam shalat. Ketika membaca al-Fatihah, pastilah ada penyatuan atau terbentuknya kosentrasi antara akal dan jiwa. Timbul pencernaanoleh akal yang kemudian di transfer dalam hati.
Jika orang itu sudah banyak belajar ilmu Islam, sudah belajar nahwu shorof, ma’ani, bayan, banyak baca tafsir, fikih hadist dll. Ketika membaca
“Bismillahirahmanirahim….Alhamdulillahirahmanirahim.”
“Dalam akalnya terlukis gambaran…..kata Al dalam Alhamdulilah itu kan Al ma’rifat (umum) dan fungsinya Istighroq (semuanya tanpa terkecualii) bahwa seluruh pujian itu hanya milik Allah….Ya Allah selama ini saya senang dipuji, seharusnya kalau saya dipuji harusnya saya mengembalikan pujian iu pada Allah..”
Atau begini…Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in…..akal berputar mencocokan apa yang didengar oleh telinga dengan ilmu Islam yang telah diperoleh.
“..Wah kata Iyyaka…. itu kan dhomir munfashil (kata ganti orang pertama), yang disimpan di awal kalimat (memang seharusnya dhomir ini di simpan di akhir kalimat)..dalam ilmu balaghoh (ilmu yang mempelajari tata bahasa dari segi keindahannya)..kalau disimpan di awal berarti ada keharusan untuk selalu meminta sama Allah. (Ini diluar kontek) kalau ada dua kalimar penyataan: Kami menyembah kepada Allah dan Hanya Allah yang kami sembah. Kalimat pertama hanya menyatakan kami menyembah pada Allah dan dimungkinkan percaya pula atau suka menyembah kepada selain Allah. Sedangkan kalimat kedua menyatakan: Hanya kepada Allah saja kami menyembah dan tidak pada selain-Nya..
“Wah sedangkan saya sering terbesit dalam hati minta petunjuk ke paranormal, tarot, zodiac.”.dll.
Mendengar hasil visum dari akal, hati mulai resah, kemudian timbul harapan agar dia mau kembali ke jalan yang benar dan sudi kiranya Allah memaafkan.dan sejenisnya.
Setelah bacaan itu diserap akal kemudian di transfer dalam hati. Hati mulai merasa ketakutan ketika mendengar dialog akal itu. Raga mendengar celotehan akal dan hati, dan mulai ikut-ikutan terpaku yang akhirnya diam tidak berkutik, malah tenggelam bersama dalam syahdu ketika mendengar diskusi antara akal dan hati.
Nah kira-kira seperti ini apa tidak akan terasa nikmat ketika shalat? Shalat inilah yang berkualitas, setiap shalat dia seakan-akan terus diberi peringatan dan penyengaran, refreshing batin.
Nggak jarang ada yang sampai menangis ketika shalat! Ada yang sampai berjam-jam shalat walaupun masih satu rakaat. Walaupun hanya sebagai makmun misalnya, Imamnya bacaan nya buru-buru, cepat lagi…wah no problem…karena khusuk tidak melihat cepat atau tidaknya, enak atau nggaknya, tapi kualitas penyerapan oleh akal, hati dan raga.
Semakin tinggi akal menyerap Ilmu Keislamannya semakin tinggi pula nilai khusuknya.


Paling Capek Mencari Paling Banyak Bahagianya

“Wah sulit kalo gitu! gue harus nyari elmunya dulu donk kalo gitu!!kelamaan coy!! Yang instan ade nggak?
“Yah mau apa dikata! Khusuk itu kan sesuatu yang selalu dicari, dan tidak mudah didapat, kalau mudah di dapat dimana kenikmatannya? Kalau nggak mau capek, yah seperti mau kenyang tapi nggak mau makan donk!!!
‘Ah gue kurang setuju nih, menurut gue khusuk tuh gini gitu?
“Nggak apa silahkan saja, tidak ada yang akan maksa you kok! kalau harus gini gitu !”
“Cuman kan yang you baca dalam shalat Qur’an dan doa-doa dari hadist, kalau you nggak bisa meresapi apa yang dibaca kira-kira apa yang akan you kerjakan dalam shalat? Trus ati ama akal lo ngapain? Ngangur?”
“Weit..jangan sombong coy! Ane nih gini-gini juga dah hafal arti fatihah mah! Al-Baqarah, atawa Juz Amma, ane dah hafal artinya.”
“Alhamdulilah…apa ada minat untuk terus belajar nggak?”
?Ntar dulu deh, ane sibuk bangedh di kantor/kuliah, ntar deh kalo ade waktu.”
“Eh..mister...you bisa basa Inggris kagak?” “Kagak!, mang napa?
“Kalo you lagi ngelakonin Romeo Juliet misalnya di perayaan 17 agustusan umpamanya, terus you ngapalin dialog Inggrisnya…trus you bakalan ngeresepi nggak dialognya?? Mungkin saja dialognya sedih tapi you ketawa, dialognya lucu, tapi mimik you sedih?
“Apa mungkin!!!”
“Kalo gitu yang bisa basa Arab pastinye bakalan khusuk dunk kalo sholat?? Wah enak bener tuh orang Arab, pastinya semuenye khusuk kabeh!”
“Nggak donk, kalau memang iya, pastinya orang Arab semuanya jadi ulama. Kagak bakalan datang ke puncak tuh??”
“Ntar dulu bung…anda bicara seakan-akan sudah khusuk dalam shalat? Anda jangan sombong yah?? Allah Maha Tahu kok, biar aja Gusti Allah yang menilai?”
“Aduh bang jangan suuz zhan donk, saya cuman berbagi info saja. Kalau khusuk jelas saya belum dan saya sedang dalam proses kearah itu.”
“Tapi bentar bang, apa harus nunggu ntar di akhirat apakah kita baik atau salah?, kalau begitu apa fungsinya Al-Qur’an diturunkan??”

Teman-teman, ternyata pengetahuan Islam bisa menjawab semua pertanyaan, meskipun khusuk itu bisa diperoleh berbagai cara, namun antara tadabur, pengetahuan Islam, dan khusuk sulit dipisahkan.
Akhirnya kita angkat topi kepada pengetahuan Islam sambil menunduk penuh hormat…You Are Everything To Me….aaargghh..luv u!!

Kesimpulan:
1. Kita baik dan taat salah satu prosesnya adalah pencarian pengetahuan Islam
2. Kita buruk dan keji, karena hati dan akal tidak mau memberi tempat pada pengetahuan Islam.
3. Tadabur Al-Qur’an, khusuk, stabilnya iman sangat erat kaitannya dengan pengetahuan Islam

Yang benar dari Allah dan Rasulnya, kesalahan ada pada diri saya pribadi.

Wallahu A’lam Bishawwab

Kang Ackmanz

Terima kasih pada teman-teman atas supportnya...Allah akan membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik lagi. Indah dan menawan sekali mengangkat tinggi kalimat Allah....amiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar