Sabtu, 27 Juni 2009

Obat Termurah Iin Yuliana Manopo

Suatu hari seorang pejabat tiba-tiba jatuh sakit. Semua panik. Dan membawanya langsung ke rumah sakit terbaik untuk mendapatkan pelayanan terbaik.

Sang dokter langsung memeriksa dengan berbagai alat medis. Ia melakukan check up total dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk menemukan sumber penyakit. Entah berapa puluh juta biaya yang mereka keluarkan untuk check up itu.

Setelah beberapa waktu dengan serangkaian tes yang dijalani, ternyata dokter tak menemukan penyakit apapun dalam diri sang pejabat. Padahal pejabat merasa seperti akan mati. Tubuhnya terasa lemas seperti mendadak lumpuh, meski jantung dan otaknya sehat. Napasnya sesak, meski paru-parunya normal. Seluruh keluarganya menangis. Sang dokter pun angkat tangan tak tahu apa penyakitnya. Ia hanya menyarankan sang ppejabat untuk beristirahat total karena mengira sang pejabat tengah stress berat.
Dengan terpaksa para kerabat membawanya pulang.

Keesokan harinya, kondisinya tak berubah. Maka para kerabat berusaha membawanya ke pengobatan alternatif. Berharap ada cara lain untuk menyembuhkannya. Sang tabib memberi berbagai macam ramuan baik untuk diminum maupun dilumuri di sekujur tubuh, dengan harga yang sangat mahal. Para kerabat menurut, dan membawanya pulang. Tiga hari lamanya mereka melakukan pengobatan seperti yang disuruh sang tabib, tapi sedikitpun tak ada tanda-tanda akan membaik.

Akhirnya para kerabat membawanya ke dukun yang paling terkenal, mengira sang pejabat pastilah terkena ilmu hitam. Karena dokter tak menemukan penyakit apapun, dan sang tabib pun tak mampu menyembuhkannya. Sang dukun dengan sangat meyakinkan memberi tahu bahwa sang pejabat terkena santet dari lawan politiknya. Para kerabat dan sang pejabat merasa sedikit lega. Akhirnya terjawab juga masalah penyakitnya. Sang dukun meminta persyaratan macam-macam yang kadang tidak masuk akal ditambah dengan biaya ini itu yang tidak murah. Semua berusaha mencari dan menemukannya. Beberapa waktu kemudian setelah terkumpul segala persyaratan, sang dukun pun mulai melakukan berbagai ritual. Setelah selesai, karena kelelahan, sang pejabat pun tertidur. Para kerabat dan keluaraga tersenyum puas, mengira sang pejabat telah sembuh karena dapat tidur pulas.

Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba sang pejabat sakit lagi. Keluhannya sama, gejalanya pun sama. Para kerabat dan keluarga pun dibuat bingung. Tak tahu lagi harus berbuat apa.
Di tengah kebingungan, seorang pembantu sang pejabat tiba-tiba berbicara dan menyarankan mereka untuk membawa sang pejabat ke seorang alim di desanya.
Karena telah putus asa mereka pun menyetujuinya.

Menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya sampailah mereka di desa sang pembantu dan berhasil bertemu sang orang alim. Mereka mengutarakan masalahnya.

Sang orang alim memandang sang pejabat dan menjawab,"Carilah pengemis dan berilah mereka sedekah"
"Berapa orang?" tanya kerabatnya
"Aku tak menyebut berapa banyak pengemis atupun jumlahnya."jawab orang alim.
Para kerabat bingung, namun tetap membawa pejabat itu pulang dan berusaha melaksanakan perintah itu meski dalam hati meragukan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan selama bersedekah akhirnya sang pejabat tak lagi sesak napas. Para kerabat pun mulai percaya pada sang orang alim. Mereka pun membawanya kembali.
Lalu orang alim itu berkata,"Lakukan puasa sunnah nabi Daud."
"Berapa lama?" tanya kerabatnya.
"Aku tak menyebut berapa lama." jawab orang alim itu.
Para kerabat bingung, tapi tetap membawa sang pejabat pulang. Sang pejabat pun melaksanakan puasa sunnah. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Akhirnya sang pejabat mulai dapat berjalan meski masih terseok-seok. Para kerabat bahagia dan membawanya kembali lagi ke orang alim.
"Lakukan sholat malam"
"Berapa malam?" tanya seorang kerabat.
"Aku tak menyebutkan berapa malam." jawab sang orang alim.
Para kerabat saling memandang bingung. Tapi mereka tetap membawa sang pejabat pulang. Malam itu juga sang pejabat melaksanakan sholat malam. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan sang pejabat akhirnya sembuh total.

Mereka pun menemui kembali orang alim itu untuk berterima kasih.
Orang alim itu memberitahu sang pejabat.
"Aku menyuruhmu bersedekah untuk membersihkan hartamu yang kotor karena tak pernah berzakat. Allah lah yang menentukan berapa banyak harta yang harus kau keluarkan hingga akhirnya hilang sesak napasmu."
"Aku menyuruhmu berpuasa untuk membersihkan tubuhmu dari makanan-makanan ataupun minuman-minuman ataupun nafsu-nafsu lain yang haram. Allah lah yang menentukan berapa lama kau harus membersihkan dirimu hingga akhirnya kau mampu berdiri dan berjalan meski masih terseok-seok."
"Aku menyuruhmu sholat malam untuk membersihkan hatimu dari iri, kesombongan, keserakahan dan segala sifat yang telah membusukkan hatimu. Allah lah yang menentukan berapa lama kau harus membersihkan hatimu hingga akhirnya kau telah sembuh total."
"Ingatlah akan pesan-pesanku tadi jika kau tak ingin kembali ke keadaanmu sebelum ini. Kau masih sangat beruntung diberi penyakit oleh Allah dan diberi kesempatan membersihkan diri. Sementara banyak temanmu yang tak diberi kesempatan dan dimatikan dalam keadaan kotor. Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? Semoga ini menjadi peringatan bagimu dan bagi keluargamu."

Maka menangislah sang pejabat beserta keluarganya. Menyesali kebodohan dan kesalahan mereka dulu.
Alhamdulillah sang pejabat dan keluarganya itu meninggalkan kehidupan mereka dulu secara total dan menjalani kehidupan hingga akhir hayat dengan tetap berada di jalan Allah SWT.

Manusia selalu mendatangi Allah di saat putus asa setelah mencoba berbagai cara menyelesaikan masalah. Padahal di tangan Allah lah segala kebijaksanaan dan segala penyembuh. Allah tak menuntut biaya apapun. Cukup membersihkan diri dengan taubatan nasuha, bersungguh-sungguh, berikhtiar dan tawakkal maka Allah akan memberikan segala obat, segala pemecahan masalah. Gratis...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar