Senin, 29 Juni 2009

Rasulullah saw dan Kematian

Untuk seorang sahabat yang baru kehilangan istri yang amat dikasihinya. Semoga tulisan ini menjadi penawar baginya…

Suatu malam, setelah Rasulullah memerintahkan persiapan penaklukan kekuasaan Romawi di Syam (Syria), Nabi memanggil salah seorang pembantunya yang dahulu adalah budak yang dibebaskannya yaitu Abu Muwayhibah. Rasulullah berkata, “Aku telah diperintahkan Allah untuk memohonkan ampun bagi para ahlil kubur, ikutlah bersamaku.” Merekapun pergi bersama menuju perkuburan Baqi. Sesampainya disana Rasulullah berkata, “Keselamatan atasmu wahai penghuni kubur. Bergembiralah di alam-mu yang jauh lebih baik dari negeri yang kini dihuni manusia. Dunia yang dipenuhi oleh fitnah yang akan selalu menyertai kehidupan seorang hamba yang terus menerus datang seperti beruntunnya potongan-potongan malam yang gelap. Yang terakhir menyusul yang terdahulu dan yang terakhir datang lebih buruk dari yang sebelumnya.” Rasulullah kemudian menoleh kepada Abu Muwayhibah dan berkata, “Baru saja aku ditawari oleh Allah SWT melalui jibril dua pilihan. Yang pertama adalah seluruh perbendaharaan dunia ini yang penuh dengan kekayaan dan aku akan kekal didalamnya. Yang kedua adalah pertemuan dengan Tuhanku dan surga.” Abu Muwayhibah berkata, “Wahai engkau yang lebih kukasihi dari ibu dan ayahku, pilihlah perbendaharaan dunia ini baru sesudah itu surga.” Rasulullah menjawab, “Tidak wahai sahabatku, aku memilih pertemuan dengan Tuhanku dan surga.”

Setelah peristiwa ini, beberapa hari kemudian Rasulullah saw jatuh sakit dan semakin hari bertambah parah keadaannya. Sampai-sampai Rasulullah saw tidak sanggup untuk sholat berjamaah di masjid Nabawi kecuali waktu shubuh di hari kepergiannya. Sahabat-sahabatnya begitu bergembira ketika melihat Rasulullah saw datang, sampai-sampai shalat shubuh berjamaah yang telah diimami oleh Abu Bakr hampir saja bubar kalau tidak Rasulullah memberi isyarat agar shalat mereka diteruskan dan Rasulullah memilih menjadi makmum. Nabi shalat disebelah kanan Abu Bakr dengan posisi duduk.

Setelah shalat usai, tidak banyak kata yang keluar dari lisan Nabi kecuali senyuman. Wajah Rasulullah begitu berseri-seri melihat ketaatan para sahabatnya. Mereka bergantian memeluk Nabi satu persatu dengan wajah yang bahagia karena mengira Nabi telah sembuh dari sakitnya.

Ketika Rasulullah kembali ke rumahnya, keadaannya berubah. Ia meminta Aisyah rha untuk mengumpulkan seluruh kerabatnya. Dan ketika kerabatnya telah berkumpul, ia memandang wajah mereka satu persatu. Nabi melihat putrinya, Fatimah Azzahra rha, terisak-isak diantara yang hadir. Rasulullah memanggilnya. Dengan suara yang lirih, Nabi bertanya, “Kenapa engkau menagis wahai putriku?” Fatimah menjawab, “Ayah, bisa jadi sebentar lagi aku akan berpisah denganmu. Itu membuatku amat sedih.” Nabi tersenyum dan berkata, “Wahai putriku, lihatlah kearah sana.” Nabi menunjuk ke arah hadapannya. “Kesanalah aku akan pergi. Jibril telah menyampaikan kepadaku bahwa orang pertama yang akan menyusulku kesana adalah engkau wahai putriku.” Fatimah tersenyum dan sejak saat itu ia tidak pernah terlihat bersedih dan menagis lagi. Beberapa hari setelah Nabi berpulang, Fatimah menceritakan kepada Abu Bakr dan Umar ibn Khatab bahwa ayahnya telah menunjukkan kepadanya suatu tempat yang teramat indah yang tiada bandingannya di dunia ini. Dalam suatu riwayat Fatimah rha menyusul berpulang setelah 3 bulan kepergian Nabi. Rasulullah sendiri wafat dipangkuan Aisyah. Dengan lirih, terdengar kata-kata terakhir dari lisan yang agung, “Ya Allah, aku ridha bersama teman yang paling baik (kematian).”

Rasulullah saw bersabda, “Setiap istri yang meninggal dunia dan suaminya meridhainya, ia pasti masuk surga.” (HR At Tirmidzi)




Referensi: “Muhammad” karya Abu Bakr Siraj Al-Din dan "Sejarah hidup Muhammad" karya M. Husain Haekal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar