Senin, 29 Juni 2009

Kemusyrikan...

Syirik, adalah kata yang digunakan untuk kemusyrikan yang di dalam bahasa Arabnya bermakna "menyekutukan". Dalam Al-Qur'an, melakukan kemusyrikan adalah menyekutukan sesuatu, seseorang, atau konsep dengan ALLAH dan menganggapnya sama dengan ALLAH.

Dalam penterjemahan Al-Qur'an, kemusyrikan dijelaskan sebagai menyekutukan Allah atau bertuhan selain kepada Allah.

Tetapi dalam artinya yang lebih luas, kemusyrikan berarti menganut prinsip-prinsip dan nilai-nilai, atau gaya hidup tertentu yang bertentangan dengan pengajaran Al-Qur'an. Orang yang berbuat begitu dengan demikian telah menetapkan prinsip-prinsip tersebut sebagai sekutu Allah. Orang tersebut bisa siapa saja; nenek moyang, para pendiri ideologi, dan para pengikutnya. Karenanya dalam arti yang luas, kemusyrikan berarti mengikuti cara hidup yang berbeda dari apa yang digariskan oleh Al-Qur'an... Orang tersebut bisa saja beragama Islam dan sholat lima waktu, puasa dan mematuhi hukum Islam. Tetapi kalau orang itu memiliki pendirian yang bertentangan dengan Al-Qur'an, tetap saja dia musyrik sebab dengan begitu, dia menerima keberadaan aturan selain aturan ALLAH...

Kemusyrikan tidak mengharuskan pengingkaran mutlak dari keberadaan Allah. Tetapi orang-orang musyrik itu menyangkal disebut musyrik; bahkan sampai hari Kiamat sekalipun, seperti yang tertulis pada ayat di bawah ini:

Dan ingatlah pada hari di mana mereka Kami kumpulkan semuanya, kemudian Kami bertanya kepada orang-orang yang mempersekutukan Tuhan: "Mana dia berhala-berhala sembahanmu itu yang dahulu kamu katakan sekutu Kami?. Mereka terpojok sehingga tidak dapat berdalih lagi kecuali mengatakan: "Demi ALLAH, Tuhan Kami! Kami tidak mempersekutukan Tuhan". Lihat! Betapa mereka telah membohongi diri sendiri! Betapa berhala-berhala pujaan mereka itu telah lenyap (QS. Al-An'am 22-24)

Seorang musyrik tidak perlu membuat pernyataan seperti: "Saya dengan ini mengakui tuhan selain ALLAH". Tanpa berkata begitupun, seseorang bisa terjerumus kepada kemusyrikan karena kemusyrikan adanya di dalam hati dan terungkap lewat ucapan dan perbuatan. Menurut Al-Qur'an, lebih mencintai sesuatu atau seseorang daripada apa yang telah digariskan oleh ALLAH adalah kemusyrikan...

Karenanya jelaslah bahwa kemusyrikan adalah beralihnya rasa cinta dari cinta kepada ALLAH menjadi cinta kepada hal lain. Kecintaan yang kuat terhadap para pujaan dijelaskan dalam ayat di bawah ini:

Dan di antara manusia itu ada yang mempertuhan sesuatu yang lain daripada ALLAH sebagai tuhan-tandingan; dicintainya seperti mencintai ALLAH. Orang yang beriman hanya lebih mencintai ALLAH semata. Seandainya orang yang zalim itu dapat memikirkan ketika mereka melihat siksaan nanti di hari kiamat, sungguh seluruh daya dan kekuatan hanya kepunyaan ALLAH. Dan sungguh-sungguh ALLAH Maha dahsyat siksa-Nya. (QS. Al-Baqarah 165)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa "cinta" yang diberikan kepada orang yang salah, menjadi dasar bagi bertuhan selain ALLAH dan juga kemusyrikan. Tidak seperti orang beriman, orang kafir tidak pernah dapat memiliki hubungan dekat dengan Pencipta mereka. Mereka mencintai diri sendiri atau orang lain. Mereka membagi cinta mereka diantara ayah, anak, kerabat, saudara, istri, suami, kekasih, dan orang-orang di sekeliling mereka. Sebagaimana halnya cinta kepada manusia, orang kafir juga mencintai benda mati seperti uang, rumah, mobil, kedudukan, gengsi,...

Padahal pemilik dari semua itu adalah ALLAH, karenanya hanya ALLAH yang pantas untuk dicintai dan menjadi curahan dari kesetiaan yang kita miliki. Mencintai hal lain selain ALLAH adalah menyekutukan ALLAH...

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa orang kafir meninggalkan ALLAH dan memperkuat ikatan dengan berhala-berhala mereka:

Ibrahim mengatakan kepada kaumnya: "Yang kalian sembah selain dari ALLAH itu, hanyalah berhala-berhala, karena terbawa oleh rasa kasih sayang terhadap penyembah-penyembah berhala di antara kalian dalam masyarakat kehidupan kalian di dunia, bukan karena dalil-dalil atas sahnya penyembahan itu sendiri. Nanti di hari kiamat, keadaan jadi sebaliknya, sebagian kalian mengutuk yang lain, bahkan sebagian lagi mengutuk yang lain pula. Namun tempat kembali kalian semuanya, toh ke neraka juga, tanpa ada yang menolong kalian. (QS. Al-Ankabut 25)

Nafsu terhadap wanita adalah contoh paling jelas dari menyekutukan ALLAH dalam hal cinta. Wanita yang dimaksud bisa siapapun; pasangan hidup, pacar, atau bahkan kepada wanita yang seseorang tertarik secara persaudaraan. Akibatnya, jika cinta yang dirasakan pada seorang wanita membuat seseorang berpaling dari ALLAH dan membuatnya memandang wanita itu sama atau bahkan lebih dari ALLAH, yang biasanya terungkap dengan ucapan: "Engkau adalah segala-galanya bagiku, aku tidak bisa hidup tanpamu", maka dengan demikian orang itu telah menyekutukan ALLAH. Sikap mental semacam itu dianggap sebagai hal biasa di masyarakat; tetapi pada dasarnya memiliki akibat yang membahayakan. Firman ALLAH:

Yang mereka seru selain ALLAH itu hanyalah benda-benda mati Di kalangan orang Arab menjadi kebiasan mengumpamakan perempuan dengan benda mati, karena lemahnya, sedangkan berhala-berhala yang mereka sembah-sembah itu biasanya diberi nama dengan nama perempuan, misalnya: al Laata al Uzza dan Manah. Dengan seruan itu, mereka hanyalah menyeru setan-setan yang durhaka. (QS. An-Nisa 117)

Hal yang sama juga berlaku bagi wanita. Cinta semacam ini tidak dapat diterima di hadapan ALLAH tetapi didukung di masyarakat yang terbukti dengan tingginya rating acara-acara televisi tentang "cinta", "romantisme" atau "perkencanan". Doktrin romantisme yang utamanya ditujukan kepada anak muda itu, memiliki efek yang merusak karena menghalangi perkembangan kesehatan mental dan kesadaran. Sebagai hasil dari doktrin ini, generasi yang kurang pemahaman, terperosok kepada ketidaksadaran total tentang apa arti hidup di dunia berdasarkan agama dan iman. Orang semacam itu terjerumus kepada hidup tanpa mengetahui apa arti cinta dan rasa takut kepada ALLAH itu sesungguhnya.

Alasan lain bagi seseorang untuk terjerumus kepada musyrik adalah rasa takut. Sama seperti halnya cinta, rasa takut hendaknya hanya diperuntukkan bagi ALLAH. Seseorang yang merasa atau menunjukkan takut kepada makhluk adalah musyrik. Firman ALLAH :

"Janganlah kamu menyembah dua Yang dimaksud denga kata "dua" di sini bukanlah jumalah dari bilangan 1+1. Ayat ini menunjukkan bahwa ALLAH itu satu. Yang menyimpang dari itu, adalah musyrik. Sedangkan angka yang mula-mula menyimpang dari satu adalah angka dua tuhan! Sebenarnya ALLAH itu adalah Tuhan Yang Maha Esa! Karena itu, hanya terhadap siksaan-Ku sajalah kamu takut". Dan kepunyaan-Nya-lah segalanya: baik yang ada di langit, maupun yang ada di bumi, begitu juga untuk Dialah ketaatan itu selama-lamanya. Mengapa kamu masih bertakwa kepada selain ALLAH...? (QS. An-Nahl:51-52)

Sulit memang..., bahkan bisa jadi bertentangan dengan keinginan, kesenangan, logika manusia... namun itulah kemusyrikan... tipis...
samar... dan menipu.

Sebisa mungkin kita menghindarinya, butuh pengorbanan... namun bukan mustahil kita untuk melakukannya... Wallahu'alam...

Panji Istiqomah
diterjemahkan sebagian dari "The Basic Concepts in The Qur'an" karya Harun Yahya.

Perhatian : jika ingin me-reply pesan ini, agar menuliskan atau mengirimkannya ke FORUM DISKUSI Grup... Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar