Sabtu, 27 Juni 2009

Kyai Dan Ahli Maksiat (repost)

Oleh : Akhsanul In am

Di surau kecil yang terletak di perbukitan, hiduplah seorang yang cukup alim, Kyai Santoso namanya. Setiap bulan romadon datang, beliau selalu membina santri-santrinya sambil menunggu datangnya maghrib. Di saat Kyai sedang menyampaikan pengajian, datanglah seorang lelaki yang dikenal sebagai seorang yang terkenal suka berbuat maksiat ikut bergabung dalam pengajianya. Para santri Kyai Santoso terheran, malaikat mana yang telah menuntunnya sehingga lelaki ini ikut pengajian, belum sirna keheranan para santri melihat kedatangannya, dikagetkan dengan pertanyaan yang sampaikan lelaki tersebut kepada Kyai.

"Wahai Kyai, apa syarat yang harus saya penuhi agar saya tetap dapat berbuat maksiat?" Tanya lelaki tersebut.

Mendengar pertanyaan tersebut, para santri terlihat marah kepada lelaki tersebut, namun Kyai Santoso mendengarkan pertanyaan terebut dan menyambutnya dengan penuh senyum dan kewibawaan. Kyai Sanroso menatap lelaki yang ada di hadapanya, ia tahu bahwa lelaki tersebut sesungguhnya sedang bimbang, ada sebuah kehendak untuk bertaubat, namun belum mampu menghindari dari apa yang biasa dilakukannya.

"Wahai saudaraku, jika engkau ingin berbuat maksiat, penuhilah lima perkara berikut", kata Kyai Santoso

Kemudian lelaki tersebut dengan bersemangat menyampaikanny," Apakah lima syarat tersebut wahai Kyai? "
Kemudian Kyai Santoso menjelaskannya :
"Pertama, jika engkau masih tetap ingin berbuat maksiat, janganlah engkau makan dari rizki-Nya, lelaki tersebut terdiam dan menjawabnya," Lho bagaimana mungkin? bukankah semua yang di atas bumi ini rizki dari Allah."

Kyai Santoso sambil tersenyum menyampaikan," Nah bagaimana mungkin engkau mengambil rizkinya sementara engkau durhaka kepadaNya"

lelaki tersebut menjawabnya," Betul kyai, kemudian apa syarat kedua? "

"Kedua, janganlah menempati negeri-Nya jika engkau hendak berbuat maksiat."

lelaki itu pun menjawabnya,"Lho semua tempat di muka bumi ini kan negeriNya, lantas saya harus tinggal dimana?"

"Jadi pantaskah engkau mengambil rizkiNya, menempati buminya, sedangkan engkau berbuat maksiat."

"Bailklah Kyai, lantas syarat berikutnya apa?"

"Ketiga, jika engkau berbuat maksiat di negeriNya, jangan sampai diketahui oleh-Nya."

lelaki itu pun menjawab," Bukankah Allah Maha Mengetahui semua yang dilakukan oleh umatNya, mana mungkin saya dapat melaksanakannya?"

" Jadi mana mungkin engkau makan rizkiNya, mendiami bumiNya, sementara Allah Maha Mengetahui terhadap semua yang dilakukan oleh umatNya."

"Oke Kyai, syarat berikutnya apa?"

"Keempat,jika datang malaikat maut,mintalah ijinuntuk diberi waktu hingga mempunyai peluang untuk bertobat dan beramal saleh."

Dengan perasaan takut, lelaki itupun menjawab," Mana mungkin malaikat maut menerima permohonan saya."

Kyai Santosa pun menyambungnya," Nah, jika engkau tidak dapat menangguhkan masa kematianmu ketika malaikat datang, kapan engkau dapat bertaubat dan berbuat saleh sebagai bekal kehidupan di akhirat dan selamat dari nerakaNya."

" Kemudian apa syarat kelima, Kyai?",Tanya lelaki tersebut.

"Kelima, jika malaikat Zabaniyah telah datang di har iQiyamat untuk membawamu keneraka, janganlah engkau mengikutinya."

"Lho apa mungkin malaikat membiarkan saya untuk hal yang demikian?" Lanjut lelaki tersebut.

Kyai Santoso meneruskannya," Wahai saudaraku, dengan mengetahui syarat tersebut, mana mungkin kamu dapat selamat dari berbuat maksiat dan mendurhakakan perintahNya."

Lelaki itu pun menegakkan wajahnya dan memandang dengan penuh senyum kepada Kyai dan menyampaikan," Jika memang demikian, mulai hari ini saya bertaubat kepada Allah dan
akan meninggalkan semua perbuatan maksiat yang biasa saya lakukan."

Para santri pun terharu mendengar kesaksian lelaki yang dikenal ahli maksiat dan juga merasakan suatu pelajaran yang sangat berarti dari pengajian Kyai Santoso dalam membawa seorang lelaki kembali kepada jalan yang benar.

Dari cerita tersebut dapat diambil pelajaran, bagaimana membawa seseorang untuk kembali ke jalan yang benar
dengan cara menuntun kesadaran diri seseorang sehingga ia dapat membuat sebuah keputusan berdasarkan
rasionalitas yang sudah dimilikinya dan dikembangkan sesuai dengan arahan seorang yang pakar dalam
bidangnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar