Sabtu, 27 Juni 2009

Di Atas Sana Kutemukan Kebesaran Nya...

Malam sudah larut. Makan malam terakhir sudah lama selesai. Para penumpang sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing. Tidak banyak penumpang di Raffles Class malam itu. Seperti biasa aku duduk di dekat jendela. Dan kebiasaanku untuk melihat keluar untuk menandai bintang-bintang yang terlihat. Kebesaran Illahi yang tiada habis-habisnya untuk kukagumi. Monitor tv di depanku tidak begitu aku perhatikan. Aku berusaha mencari temaran bulan tapi tidak kudapatkan. Kusadari malam itu semua gelap tak terlihat. Kututup jendela kaca itu dan bersiap untuk tidur. Kurebahkan kursi tempatku berdiam sejak keberangkatanku lebih dari delapan jam yang lalu. Perjalanan ini amatlah panjang. Belasan jam harus ditempuh dan belum setengahnya telah berlalu.

Ketika aku rebahkan tubuhku, guncangan-guncangan kecil itu mulai terasa. Awak kabin dengan ramah ingin membetulkan letak selimutku yang bergeser. Kapten pilot mengumumkan saat itu, kami sedang terbang dalam turbulensi udara yang moderat dan meminta untuk memasang ikat pinggang. Pengumuman itu tidak terlalu menggangguku. Berpuluh-puluh kali dalam penerbangan seperti ini, hal itu telah kurasakan. Penerbangan jarak jauh pastilah beresiko dan aku yakin bahwa Allah SWT pasti melindungi.

Lebih dari 15 menit hal ini telah berlalu, guncangan-guncangan itu makin keras dan tak beraturan. Kapten pilot kembali mengumumkan agar seluruh penumpang menegakkan kursinya dalam posisi take off/landing dan menyuruh seluruh awak kabin untuk duduk. Ia juga mengumumkan bahwa pesawat sedang terbang dalam keadaan “heavy turbulence and thunderstorm”. Aku mulai cemas, terdiam dan berpikir. Satu-satunya hal yang bisa menenangkanku adalah keyakinanku bahwa pesawat ini adalah yang tercanggih dikelasnya dan ‘record’ dari perusahaan penerbangan ini yang hampir ‘zero accident’ selama bertahun-tahun lamanya. Walaupun demikian, kubasahi lisanku dengan dzikir kepada Penguasa sekalian alam. Allah ‘Azza wa Jalla.

Aku masih merasa tenang, tapi tidak untuk saat yang lama. Pesawat kami mulai terangkat ke atas beberapa puluh meter dan dihempaskan dengan tiba-tiba kebawah. Hal itu terjadi beberapa kali. Aku melihat guratan-guratan kilat memancar dari jendela. Dan kabin dalam pesawat terlihat terhuyung-huyung ke kanan dan ke kiri. Jeritan kecil penumpang mulai terdengar dibarengi dengan tangisan bayi dan anak-anak yang merasa tidak nyaman dengan semua ini. Aku melihat kesampingku. Seorang ibu tertunduk dan lisannya terlihat bergerak mengucapkan doa dengan caranya sendiri. Pandanganku kosong. Kulantunkan kalimat-kalimat dzikir yang tiada henti, Subhanallah Wal Hamdulillah Wa La Ilaha Illallaha Wa Allahu Akbar. Terus menerus tiada henti. Terbayang olehku hidup yang amat singkat yang telah dijalani. Belum banyak ibadah yang telah disempurnakan dan amal sholeh yang telah diperbuat. Terbayang juga orang-orang yang kusayangi. Rasanya baru sebentar kami bersama. Amat singkat waktu itu. Tanpa terasa air mata itu mulai berderai membasahi wajahku. Tak ada yang dapat kulakukan selain kepasrahan kepada Allah.

Dalam keadaan genting ini, kuingat teladan Rasulullah saw. Di malam perang Badar, ketika sebahagian sahabat telah beristirahat demi mempersiapkan diri untuk sebuah perang terbuka keesokan harinya, Rasulullah membentangkan sajadahnya di bawah pohon dan terus berdoa kepada Allah dengan begitu khusyuknya tanpa terasa sorbannya jatuh terhampar di sajadahnya. Terdengar ucapannya yang berulang-ulang: “Hasbunallahu wa nikmal wakil” (QS Ali Imran [3]:173, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”). Para sahabat yang melihat Rasulullah berdoa seperti itu meneteskan airmata mereka. Abu Bakr memberanikan diri mendekat dan berkata, “Ya Rasulullah, Bukankah Engkau adalah utusan Allah yang dapat meyakinkan kami bahwa Allah pasti menolong kita?” Dengan bijak Nabi menjawab, “Kalaulah aku tahu sesuatu yang ghaib, pastilah aku telah memilih jalan yang dapat menyelamatkanku dari segala kesulitan.” (HR Muslim). Nabi amat mengharapkan pertolongan Allah SWT saat itu ketika jumlah pasukan muslim yang hanya berjumlah 300 orang dan dengan peralatan perang yang apa adanya dihadapkan dengan pasukan musyrik dengan kekuatan lebih dari 1000 pasukan dengan persenjataan yang lengkap.

Riwayat ini menguatkan diriku. Tidak pantas bagiku untuk yakin. Saat itu juga aku bertayamum dan melakukan sholat sunnat dua rakaat sembari duduk. Guncangan itu tidak lagi kuhiraukan. Setelah salam, kuangkat tanganku dan kurapatkan. Kuawali doa ku dengan bershalawat kepada Rasul yang mulia. “Ya Allah Cukuplah Engkau menjadi penolong kami dan Engkaulah sebaik-baik pelindung. Jika inilah akhir dari ajalku, mudahkan jalanku untuk kembali kepada Mu. Ampuni segala dosa-dosaku dan tutuplah segala kesalahan-kesalahanku. Kutitipkan orang-orang yang kusayangi kepada Mu karena Engkaulah sebaik-baik pewaris. Ya Rabb, disaat-saat akhir ini, jangan Engkau biarkan syaitan memperdayaku walau sekejap matapun. Jangan Engkau biarkan mereka membayangkan kepadaku seluruh keindahan dunia ini yang menyebabkanku enggan untuk meninggalkannya. Ya Allah, jika ini adalah ujian Mu untukku, kasihanilah aku sebagaimana Engkau mengasihani hamba-hamba Mu yang sholeh. Engkaulah pemilik langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya. Janji Mu benar ya Allah. Tolonglah aku sebagaimana Engkau menolong rasul saw dan sahabat-sahabatnya di perang badar. Engkau turunkan ribuan malaikat untuk menolong mereka.”

Kututup doaku dengan membaca ayat kursi untuk meneguhkan diriku. Ayat yang dipenuhi dengan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang begitu agung. Manusia berusaha untuk meraih ketinggian dan kebesaran. Keyakinan akan ilmu dan teknologi telah membuat dirinya terjebak dalam sifat takabur. Inilah saat bagiku untuk kembali kepada Rabb ku. Bagaimanapun juga ciptaan manusia walaupun dalam bentuk pesawat yang canggih sekalipun tak dapat melampaui ketentuan Allah. Kita hanya ‘hamba-Nya’ yang tunduk kepada Yang Maha Tinggi dan Maha besar.

Kucerna kalimat demi kalimat ayat kursi itu. Ketemukan kebesaran-Nya dalam setaip lafaz yang kuucap. Damai hatiku saat itu. Tidak sampai lima menit doa dan ayat kursi itu terucap, guncangan itu tiba-tiba mereda. Kulihat ke jendela luar dan kutemukan bulan dengan bentuknya yang amat indah penuh dengan temaran. Itulah tanda cuaca malam itu kembali bersahabat. Aku bertakbir, “Allahu Akbar”

Kudengar pengumuman dari Kapten Robert Ting malam itu, “Our dear passenger, we all saved by the Almighty, the Most Gracious. In the past thirty years in the wings, I never been engaged in such experience….

Aku tersenyum mendengarnya. Kuhela nafas lega. Kutundukkan wajahku untuk bersujud seraya memuji-Nya aku berkata: “Ya Rabb, Engkau memberiku kesempatan untuk hidup kembali. Ajari aku untuk selalu mengingat Mu, mensyukuri nikmat Mu dan beribadah kepada Mu dengan sebaik-baiknya.”


Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana (di darat, laut dan udara), yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al An’am [6]:63)

http://edakwahkita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar