Sabtu, 27 Juni 2009

Sukses Sejati...(bag 1)

Mohammad Yasser Fachri


Semua manusia pada hakikatnya ingin menjadi sukses. Mengantarkan manusia untuk menjadi sukses telah menjadi lahan baru bagi bisnis jasa konsultansi. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus buku dengan berbagai judul telah dicetak dan diterbitkan demi untuk menjelaskan hal ihwal jurus-jurus kesuksesan. Buku-buku seperti ‘Seven Habits’ (yang terakhir menjadi 8th Habits) dan ‘ESQ way’ telah menjadi best seller dimana-mana. Demikian juga pelatihan-pelatihan baik yang short course maupun long term course telah menjadi suatu ‘kebiasaan’ bagi sebuah masyarakat modern sebagai upaya untuk meraih kesuksesan.

Al Quran dalam bahasanya yang begitu agung telah lama berbicara mengenai resep-resep kesuksesan bagi seorang manusia. Kita dapat menemukannya dalam QS Al Furqan [25]:63-77.

Sifat Pertama:
“Dan hamba-hamba ar Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan lemah lembut dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik (salam).” (ayat 63)

Dalam ayat ini, Allah memanggil hamba-hamba-Nya dengan kata-kata ‘Ibad. Di dalam Al Quran, ada dua kata yang diartikan dengan ‘hamba-Nya’. Yang pertama adalah ‘Ibad yang berarti hamba-Nya yang taat kepada-Nya yang telah bertaubat dan menapaki jalan-Nya yang lurus. Yang kedua adalah ‘Abid yang berarti hamba-Nya yang masih bergelimang dosa dan enggan untuk bertaubat.

Salah satu dari sifat-sifat yang membuat ‘Ibad (hamba) ini sukses adalah kebiasaannya dalam berjalan, beraktivitas dan berinteraksi penuh dengan sifat kelemah lembutan, halus, rendah hati dan penuh dengan wibawa. Salah satu bukti sifat kelemah lembutan ini tercermin dalam sikap mereka menghadapi orang-orang jahil. Jika orang-orang jahil menyapa mereka dengan sesuatu yang menyakitkan atau mengundang amarah dan kekesalan, mereka tetap mengucapkan kata-kata yang menyebarkan kedamaian (salam). Mereka bisa jadi menasehati orang yang jahil tersebut atau sama sekali meninggalkannya dengan tidak menunjukkan kekesalan atau amarah.

Dalam konteks keadaan saat ini, kesemerawutan lalu lintas bisa menjadi contoh yang sangat nyata. Setiap saat pengendara motor ataupun mobil hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan peraturan lalu lintas. Berapa banyakkah pengendara yang saat ini tetap konsisten pada aturan?

Demikian juga budaya ‘Aji Mumpung’ yang saat ini merasuki segala keadaan kehidupan kita. ‘Ibad (hamba) Allah yang memiliki sifat kesuksesan ini selalu menghindari dalam segala hal yang menyangkut budaya aji mumpung. Budaya yang selalu hanya mementingkan diri sendiri, memperkaya diri sendiri walaupun dengan cara-cara yang tidak wajar.

Rasulullah saw bersabda, “Di akhir zaman kelak akan timbul masanya dimana orang-orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan pengingkaran terhadap hak orang lain.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami lakukan?” Nabi menjawab, “Sampaikanlah kebenaran yang kamu ketahui sesuai kesanggupanmu dan banyaklah memohon kepada Allah untuk mendapatkan hakmu.” (HR Bukhari & Muslim)


Sifat Kedua:
“Dan orang-orang yang melewati malam hari -demi untuk Rabb mereka- dalam keadaan sujud dan berdiri.” (ayat 64)

Sifat ‘Ibad (hamba) Allah yang mencerminkan kesuksesan itu adalah orang-orang yang melewati malamnya dengan tulus dan ikhlas beribadah demi untuk Rabb mereka tanpa pamrih dalam keadaan sujud dan berdiri (sholat). Ibadah malam dapat dipandang sebagai sebuah muhasabah (introspeksi) diri dalam melewati malam. Disaat dimana semua manusia lebih memilih untuk tidur, mereka lebih memilih untuk beribadah kepada-Nya; memohon ampun, menyesali akan dosa yang siang hari ia lakukan baik secara sengaja ataupun tidak dalam aktivitas ke-duniawian-nya. Sungguh indah kata-kata Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat ini, karena Allah mendahulukan kata-kata ‘sujud’ daripada ‘berdiri’ yang berarti kedekatan kepada Allah.

Rasulullah bersabda, “Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Rabb nya adalah di dalam sholat ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Bukhari & Muslim)


Sifat Ketiga:
“Dan orang-orang yang berkata, “Tuhan kami, jauhkanlah dari kami siksa jahannam, sesungguhnya siksanya adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya ia seburuk-buruk tempat menetap dan berdiam.” (ayat 65-66)

Walaupun dalam aktivitas sehari-hari mereka telah diliputi oleh akhlak yang terpuji (sifat pertama) dan ibadah malam yang baik (sifat kedua), sifat yang ketiga ini lebih mempengaruhi sifat kejiwaan mereka. Bagi mereka hidup di dunia ini adalah sementara dan suatu saat mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Cepat atau lambat. Sesuatu yang mereka takuti adalah ketika mereka kembali, mereka memperoleh siksa api neraka (jahannam). Karena hal ini menyangkut sifat kejiwaan, mereka selalu menjaga dirinya baik dengan tindakan maupun lisan untuk tidak terjerumus kedalam sebuah kemaksiatan yang mengantarkan mereka kepada jahannam.

Rasulullah bersabda, “Hidupku di dunia ini adalah bagai seorang musafir yang sebentar berteduh dibawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At Tirmidzi)


Sifat Keempat:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir. Dan adalah ia pertengahan antara yang demikian.” (ayat 67)

Sifat ‘Ibad (hamba) Allah yang ke empat yang mencerminkan kesuksesan itu adalah sikap mereka yang tidak berlebihan dalam hal membelanjakan harta terutama untuk kepentingan dunia. Juga bukanlah mereka termasuk golongan yang kikir dalam bersedeqah atau membantu orang lain.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar