Senin, 29 Juni 2009

Amrodhul Qulub…Seri Mengenal Penyakit Jiwa (Bag.II)

Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Dengan ilmu Islam, dengan mempelajari tekun agama Islam, banyak membaca buku-buku Islam, membuka situs-situs Islam di Internet. Yang paling bagus pergi ke Masjid, cari majelis taklim, berteman dengan orang baik dan soleh, yang bagus agamanya.
Wah saya shalat nggak pernah tinggal kok, senin kamis puasa nyunah, tahajud, witir, duha nggak pernah tinggal tuh.”
Mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, shalat puasa, haji, dan zakat tidak akan mendidik kita menjadi seseorang muslim yang selamat hati dan mulut! Loh kok bisa?
Bagaimana mungkin kita beribadah tapi akal dan hati kita tidak berkualitas? Hati dan akal kita jauh dari ilmu Islam? Apakah akhirnya shalat itu akan membantu kita?
Iya donk kan itu bentuk taat dan wajib lagi bagaimana anda sih?
Ntar dulu, saya kasih contoh, kita kan harus makan minimal 3 x sehari? Nah apakah dengan makan 3 x sehari ini akan menjamin semua orang sehat? Ada yang berpenyakit kanker, diabetes dll dan ada yang sehat dan semuanya makannya sama 3 x sehari.
Soal penyakit itu kan karena salah satunya karena pola makan yang sehat kan! Orang yang banyak belajar tentang makanan yang sehat dimungkinkan dia memiliki pengetahuan memadai mana makanan yang menyehatkan atau tidak? Betul kan? Nah dipastikan dia akan lebih sehat dibanding orang yang tidak tahu sama sekali mana makanan yang menyehatkan.
Apa bedanya dengan shalat? Shalat itu kewajiban, suka atau tidak kita harus shalat! Nah berkualitas atau tidaknya ibadah itu sangat dipengaruhi oleh ilmu Islam yang kita miliki. Semakin tinggi orang itu meraup ilmu Islam, dipastikan nilai ibadahnya semakin berkualitas.
Begitu pula dengan pengenalan penyakit hati, kan harus tahu Kajian Islam yang membahas tentang itu, kalau nggak pernah belajar Islam, malas membaca, malas mendatangi majelis taklim mana tahu penyakit itu kan!! Apa dengan saya rajin shalat tiba-tiba saya tahu bahwa hati saya terjangkit ghibah, suu zhan, namimah dll? Nggak mungkin kan!

Metode Penyembuhan

Nah penyakit hati itu sama seperti penyakit badan, seperti demam berdarah, flu, jantung dll diperlukan pengobatan, begitu pula dengan penyakit hati.
Cara yang paling efektif itu tutup mata, artinya jangan menyelidiki keburukan orang lain, tutup telinga, jangan pernah atau jangan sekalipun mendengar keadaan orang lain, dan tutup akal, jangan membayangkan keburukan orang lain apapun bentuknya, apakah kita bicarakan dalam lingkup agama, politik, rumah tangga.
Jangan komentar, kritik, bicara sana sini nggak karuan, coba rasa! Hati panas kan??
Kalaupun masih sulit coba katakana pada diri sendiri , “Dia lebih baik, dia lebih baik, aku yang jelek.” Atau yg sejenisnya, akhirnya penyakit hati ini tidak menjalar kemana-mana.
Atau bisa juga gini,….Seharusnya Ulama itu tahu donk, nggak boleh plin-plan..emang ulama sekarang tahunya cuman duit..(ini perkataan yang paling menyakitkan saya)
Coba kita cerna ucapan ini, dibicarakan di satu tempat dengan temannya. Bodoh nggak orang yang bicara seperti ini? Mau mengkritik tapi dibicarakan dengan temannya! Di salah satu kedai kopi lagi?
Salah tempat nggak? Apa dengan ucapan seperti ini ulama/kyai/ustadz yang dia maksud akan mendengarnya? Malah mungkin ditulis lagi di FB? Apa orang yang dimaksud akan membaca satu persatu setiap wall yang berjumlah 14 ribu?
Terus kenal nggak dia ustadz/kyai/ulama yang dimaksud? Apa dengan ucapan ini, tiba-tiba apa yang dia harapkan tiba-tiba terwujud di hadapannya?
Kalau begitu apa yang terjadi? Mulut berlumur dosa karena ghibah, hati suuz zhan karena buruk sangka, yang mendengarnya dosa pula karena mendengar ghibah, apalagi sambil tertawa, komplit sudah menjustifikasi kerendahan tanda syiar agama! Apalagi orang ini shalat juga nggak? Jadi apa donk? Ya sudah boleh jadi dia berbicara dengan temannya, tapi tanpa disadari di sebelahnya sudah ditemanin Setan.
Pastinya keluar dari tempat banyak dosa yang dilakukannya. Karena apa? Karena satu dosa dilalui sudah menunggu dosa lainnya.
Lawan hati agar tidak memberi komentar, kritik atau apapun mengenai orang lain, coba tujukan pada kita sendiri.
Coba berbaik sangka saja bahwa orang lain itu ternyata lebih baik dari kita. Kita mungkin baru belajar Al-Qur’an, orang lain dah lancar, kita mungkin dah lancar, orang lain dah bagus tajwidnya, kita mungkin dah bagus tajwidnya, orang lain dah hafal satu surat, kita mungkin dah hafal satu surat, orang lain dah hafal 2 surat dst.
Latih terus hati hari demi hari, seperti kita berlatih mengendarai sepeda, seperti kita berlatih bahaa inggris dll.
Pertama sulit namun sekali waktu kita akan terbiasa

Islam Adalah Nasihat dan Doa
Nah kalau kita hendak mengkritik atau lainnya, Islam sudah memberikan jalur tersendiri yang disebut dengan Nasihat. Bagaimana caranya? Kalau hendak mengkritik dengan jalur nasihat ini, misalnya kepada pemerintah, coba tunjukan kepiawaian anda. Tulis di kolom-kolom Koran, majalah dll dengan bahasa yang bagus, bukan menyudutkan. Kalau anda lulusan Political Science, coba uraikan menurut disiplin ilmu yang anda miliki, nah dengar atau tidaknya bukan masalah tapi anda sudah berpahala dengan cara yang sudah ditentukan oleh Akhlak Islam.
Tapi kalau ternyata kita tidak tahu apa-apa, kritik sana sini, tapi kita juga gagal dalam rumah tangga, kritik ulama, tapi kita juga tidak tahu agama, kritik pemerintah, tapi kita juga nggak pernah bayar pajak, kritik umat Islam, kita juga nggak pernah ngasih yang terbaik untuk Islam, kritik lurah, kita juga marah kalau ditagih iuran sampah, kritik para caleg, kita juga kalau dikasih amanah suka khianat dll.
Nah sebaiknya berdoa saja, “ Ya Allah mudah2an para caleg itu, mengemban amanah, Ya Allah mudah2an banyak yang bayar pajak, agar jalan nggak macet begini” dll
Kalau kita merasa bahwa orang-orang sudah lupa pada agama, tidak usahlah berbicara kesana kemari dengan teman sepengajian. Coba kita ajak anak kita aja agar giat belajar Islam, belajar Qur’an, beri pendidikan Islam, ajak keluarga ke Masjid, majelis taklim, ajak tetangga, ajak saudara lainnya.
Selamat kan lidah kita, selamat pula hati, terus berpahala lagi.
Ternyata bahagia itu tidak susah dicari, kesedihan, kepedihan itu ternyata selalu ada disamping kita.
Selamat hati Insya Allah bahagia akan datang berkunjung, buruk hati dengan cepat kepedihan akan berkawan dengan kita

Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan bisa di add teman lainnya yang belum bergabung ke Al-Qur’an Pelitaku

Waasalamu ‘Alaikumn Wr Wb

Ustadz Ackmanz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar