Sabtu, 27 Juni 2009

MADRASAH RAMADHAN (menyambut ramadhan)

Allahu rabbul’alamin, adalah Allah Rabb semesta alam. Setelah Allah ciptakan jagad raya dan seisinya ini, Dia tidak tinggalkan begitu saja, tetapi Dia jaga dan pelihara. Dia jaga keseimbangan alam. Dia jamin makan-minum para penghuninya tanpa terkecuali. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin.

Allah adalah Rabb langit dan bumi, karena itu Dia jaga dan pelihara agar langit dan bumi memberi kemaslahatan dan kebahagiaan bagi penghuninya. Allah juga Rabb manusia, yang menciptakan sekaligus juga mendidik manusia agar menuju kesempurnaan, kemaslahatan dan kebahagiaan.

Kata Rabb berarti tarbiyah : pendidikan. Allah telah menciptakan manusia tetapi tidak ditinggalkan begitu saja. Dia didik agar menjadi sempurna. Allah maha sempurna, maka orang-orang yang ingin kembali pada-Nya juga harus sempurna.
Bulan suci Ramadhan adalah salah satu sarana pendidikan yang Allah sediakan untuk manusia. Sebagai institusi pendidikan, Ramadhan memiliki proposal yang di dalamnya tertera dengan sangat jelas ; (1) siapa yang berhak menjadi peserta didik, (2) apa dan bagaimana program pendidikannya, (3) berapa lama waktu yang ditempuh, (4) jaminan kesuksesan yang telah diperlihatkan dan dibuktikan oleh para alumninya, dan (5) tujuan pendidikannya. Proposal itu tercantum dalam Al Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman (Peserta didik), diwajibkan atas kamu berpuasa (Program pendidikan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (Para alumni) agar kamu bertakwa, (Tujuan pendidikan)” (QS. 2 : 183)

Puasa adalah program pendidikan Ramadhan yang utama, yang begitu hebat dan luar biasa. Pendidikan puasa bersifat individual meski dilakukan secara massal. Proses pendidikan terjadi secara pribadi antara seorang murid dengan Sang Maha Guru. Proses itu berlangsung selama 24 jam sehari semalam. Guru manakah yang sanggup berbuat seperti itu ? Yang mampu mengawasi tiap-tiap muridnya detik demi detik? Tidak ada guru kecuali Allah Sang Maha Guru. Lalu murid manakah yang sanggup merasa diawasi oleh Sang Maha Guru itu, kapan saja dan dimana saja dia berada? Murid manakah yang mampu dengan tulus dan ikhlas mendengar apa yang dikatakan, menerima pelajaran, dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh Sang Maha Guru, tanpa perlu bertanya untuk apa dan mengapa ? Tidak ada murid kecuali murid yang bersarang iman di dalam dadanya, iman yang mampu menggerakkan seluruh anggota badan dan pikirannya hanya kepada Allah Sang Maha Guru.

Karena itu, tidak sembarang murid dapat masuk ke dalam madrasah, hanya murid yang punya iman. Tanpa Iman, seorang murid hanya beroleh kesia-sian dalam keikut-sertaannya di madrasah Ramadhan, “Berapa banyak orang yang puasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan bahagia…”(Bukhari-Muslim)

Saat pembukaan madrasah Ramadhan, bisa saja para calon murid mengaku beriman atau merasa punya iman. Malu rasanya tidak bersekolah sementara yang lain bersekolah. Mengaku agar bisa diaku. Apakah perlu polisi mengaku polisi ? Atau maling mengaku maling? Murid yang beriman tidak perlu mengaku beriman. Iman bukan hanya soal pengakuan dan rasa, melainkan soal bukti yang perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.

Jadi sebelum madrasah Ramadhan dibuka, murid yang beriman sudah mempersiapkan dirinya untuk dapat diterima dan berhasil menempuh pendidikan Ramadhan. Jauh-jauh hari dia sudah melayangkan harapannya kepada sang maha guru : “Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan.” Murid sejati pasti telah mengkondisikan jiwa dan raganya untuk siap memasuki madrasah agung, untuk menerima pelajaran dari Sang Guru sejati.

Saat madrasah Ramadhan dibuka, banyak yang antusias ingin menjadi murid, namun hanya beberapa saja yang benar-benar setia menerima dan memegang ajaran Sang Maha guru. Banyak yang mengaku beriman tetapi hanya sedikit yang setia dalam imannya. Mengaku menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi banyak Tuhan yng bersarang dihatinya. Memakai sorban tetapi tetapi tak mampu menutupi otak kotor di kepalanya. Melafalkan Al Qur’an dengan indah tetapi tak berdaya menahan kata-kata keji yang mengalir deras dari mulutnya. Memakai jubah tetapi tak kuasa menutupi kesombongannya.

Murid sejati dengan setia dan penuh kesungguhan menghadap Sang Guru sejatinya di tiap-tiap malam Ramadhan. Dia jadikan malam-malam itu menjadi berbeda dengan malam-malam selain Ramadhan. Dengan harap dan cemas, senantiasa dia bersenandung, “Ya Allah, aku memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu dan aku memohon perlindungan dari kemarahan-Mu dan neraka-Mu.” Di hadapan-Nya, dia tampakkan kehinaan, kelemahan dan kebodohan dirinya.

Murid sejati benar-benar tenggelam dalam proses belajarnya. Dia belajar menahan segala keinginan hawa nafsunya. Puasa adalah menahan, bukan meninggalkan. Dunia gemerlap beserta isinya ini tidak perlu ditinggalkan, tetapi dia tahan hingga tak menyentuh hatinya dan hatinya tak menyentuhnya pula. Banyak makanan dan minuman beserakan di sekelilingnya, tetapi dia tahan. Dan dia tidak menjadikan saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan. Dia menjaga agar makanan itu tidak balas memakannya.

Ketika murid sejati memasuki hari-hari terakhir madrasah Ramadhan, hatinya diliputi oleh kesedihan dan kerisauan, Apakah setelah keluar dari Madrasah ini, dia akan akan mampu melalui lika-liku kehidupan yang penuh sesak dengan jerit tangis kepalsuan, senyum manis penuh dusta ? Air yang mengalir tenang, tak setenang kelihatannya, bagaiman dia harus menyeberanginya ? Hamparan pasir tak selembut butiran-butiran, bagaimana dia harus menapakinya ? kecemasannya menghadapi sebelas bulan setelah Ramadhan memacu semangatnya untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.

Menjelang hari-hari terakhir madrasah Ramadhan, murid sejati tidak tertarik hatinya memburu pesiapan lahir untuk merayakan hari kelulusan. Hatinya sibuk berharap, semoga Allah Sang Maha Guru sejati menganugerahinya baju taqwa yang penuh tertaburi hiasan rasa malu, sabar, dan tawadhu’. Baju dan perhiasan itu ia pakai sebagai baju zirah dalam jihadnya di sebelas bulan sampai memasuki Ramadhan berikutnya, madrasah sejati yang disediakan oleh Sang Maha sejati untuk murid sejati. Apakah kita murid sejati itu ?

Salam,
http://sutris.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar