Sabtu, 27 Juni 2009

...WANITA SUFI...

Dunia Sufi bagi perempuan sebenarnya sama dengan dunia pria. Tidak ada perbedaan sama sekali, sebagaimana kebutuhan manusia terhadap agama, tanpa membeda-bedakan gender.
Tentu, karena kebanyakan pria yang berada di arena public, dunia sufi pun juga lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh pria, dan secara kebetulan memang tidak sebanyak tokoh pria dalam dunia sufi dibanding tokoh perempuan.

Jika tulisan ini memulai di era Rabi'ah Adawiyah, hanyalah untuk mencatat bahwa munculnya gendering sufi perempuan, mulai tampil dalam era Rabiah Adawiyah dan seterusnya. Disamping banyak pengaruh pandangan Rabiah yang mengilhami pandangan sufistik generasi berikutnya khususnya mengenai bab Cinta.

Kami semua meyakini para isteri-isteri Rasulullah saw, Ummahatul Mu'minin adalah para Sufi agung perempuan yang representative di zamannya. Bahkan di zaman ini banyak sekali Sufi-sufi perempuan dengan kondisi dan situasi yang berbeda pula.

Beberapa Sufi perempuan di bawah ini, lebih sebagai potret untuk dijadikan titik pandang, bandingan dan refleksi kita bersama:

--------------------------
1. Rabi'ah Adawiyah
--------------------------

Rabiah al-Adawiyah dari Bashrah yang sangat menomental dalam sejarah dunia Sufi. Sufyan Tsaury ra sangat mengagumi nasehat dan doa-doanya, dan seringkali bertanya dan berpegang pada pandangannya.
Suatu hari Ja'far bin Sulaiman mengatakan, "Ats-Tsaury memegang tanganku dan mengatakan, "Antar aku ke seorang perempuan pendidik, dimana aku tak pernah istirahat manakala aku berpisah dengannya."

Ketika kami masuk pada ruang Rabi'ah, tiba-tiba Ats-Tsaury mengangkat tangannya sembari berdoa, "Ya Allah aku mohon keselamatan…"
Mendengar itu Rabi'ah menangis.
"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Sufyan ats-Tsaury
"Kaulah yang membuatku menangis…" jawabnya.
"Bagaimana bisa demikian?"
"Toh, anda sudah tahu, bahwa keselamatan di dunia itu justru dengan meninggalkan seisi dunia, sedangkan engkau berjibat dengan dunia?" jawab Rabi'ah

Syaiban al-Ubaly mengatakan, "Aku pernah mendengar Rabiah berkata, "Segala sesuatu itu ada buahnya. Sedangkan buah ma'rifat itu adalah diterima (dihadapan Allah)…"
"Aku mohon ampun kepada Allah atas sedikitnya kebenaranku dalam (ucapan) "Astaghfirullah"
Suatu saat beliau ditanya, "Bagaimana cintamu kepada Rasulullah saw.?"
"Sungguh aku mencintainya. Hanya saja cinta pada Sang Khaliq membuatku sibuk dibanding cinta kepada sesame makhluq."
Suatu hari Rabiah melihat Royyah mencium bocal kecil.
"Kau mencintainya?" tanya Rabiah.
"Benar."
"Aku tidak menyangka jika di hatimu masih ada tempat cinta kepada selain Allah Azza wa-Jalla!", kata Rabiah.

Seketika Royyah pingsan. Ketika sadar ia mengatakan, "Bahkan kasih sayang yang telah diberikan Allah Ta'ala dalam hati hambaNya…"
Muhammad bin wasi' memasuki ruang Rabi'ah, sedang Rabiah dalam keadaan sempoyongan.
"Kenapa anda sempoyongan?"
"Aku sedang mabuk atas cinta Tuhanku semalam, dan ketika pagi serasa saya mabuk kepayang."

Suatu hari Sufyan ats-Tsaury mengatakan pada Rabiah, "Apa yang paling bisa mendekatkan hamba kepada Allah Ta'ala?". Tiba-tiba ia menangis sembari berkata, "Pertanyaan itu kau tujukan padaku? Yang paling bisa mendekatkan hamba kepada Allah Ta'ala adalah bahwa ia harus mengetahui kalau ia tidak suka pada dunia dan akhirat, segala selain Allah."
Ketika di hadapan rabiah suatu hari Tsaury mengeluh, "Duh, susah banget ya?"
"Jangan dusta kamu! Tapi katakana, Duh betapa sedikitnya rasa susahku. Jika negkau susah pasti engkau tak dapat menikmati kesempatan hidup," jawab Rabiah.
Rabiah mengatakan, "Rasa susahku bukan karena kesusahanku. Rasa susahku karena aku tak merasa susah itu saja."

Suatu hari ia lewat bertemu dengan seseorang yang sedang dieksusi karena perbuatan buruknya. Lalu Rabiah berucap,"Demi ayah, lisan itu yang anda ucapkan, "Laa Ilaaha Illallah…"
"Rabiah sedang menyebut kebaikan orang itu," komentar Ats-Tsaury.
Saleh al-Mary sedang ada di hadapan Rabiah,"Siapa yang banyak mengetuk pintu, akan dibukakan pintu," katanya.
"Pintu sudah terbuka. Masdalah adalah ada nggak yang mau memasukinya?" tangkas Rabiah.

----------------------------------
2. Lubabah Al-Muta'abbidah
----------------------------------

Ia adalah penduduk Baitul Maqdis, tergolong ahli ma'rifat dan mujahadah.
Muhammad bin Rauh mengatakan: Lubabah al-Muta'abbidah mengatakan, "Aku sungguh malu pada Allah Ta'ala, jika ia memandangku sedangkan aku sibuk dengan yang lainNya…"
Lubabah pernah mengatakan, "Sepanjang aku tekun ibadah hingga aku bersenayawa dengan ibadah. Jika aku lelah bertemu sesame makhluk, tiba-tiba muncul rasa suka cita mengingat Allah. Bila aku terdorong untuk bicara tentang makhluk, tiba-tiba ada dorongan untuk beribadah kepada Allah, dan khidmah kepadaNya."

"Mohonlah kepada Allah dua hal," kata Lubabah, "Hendaknya Dia ridlo kepadamu, dan menempatkan dirimu di kalangan ahli ridlo, dan kedua, hendaknya bersembunyi deari disebut diantara para kekasihNya."

------------------------------
3. Maryam, al-Bashriyah
------------------------------

Seperiode Rabiah Adawiyah ada Maryam al-Bashriyah, dan terkenal kemudian sebagai perempuan sufi, sepeninggal Rabiah. Ia salah satu murid Rabiah. Ia pun berbicara tentang cinta, dan jika mendengarkan pembicaraan tentang cinta, ia langsung fana'.

Serpanjang malam ia habiskan untuk ibadah, kadang ia sebut-sebut Allahu Lathif bi-'ibadahi.." hingga pagi hari.
Kisah Maryam pasti banyak sekali, walau tak tertulis dalam syair-syair monumental seperti gurunya, Rabi'ah, Maryam lebih memasuki esensinya, bahkan setiap mendengar kata cinta saja ia selalu mengalami ekstase.

Diantara kata-katanya yang terkenal hingga saat ini, "Aku tak pernah berhasrat dan berambisi dalam bekerja menyongsong rejeki, sejak aku mendengar Allah swt berfirman, "Dan di dalam langit ada rizkimu dan rizki yang dijanjikan padamu." (Qs. Ad-Dzariyat 22)

Ketika ia hadir dalam sebuah majlis pengajian, tiba-tiba ia bicara tentang cinta. Ia menjerit dan pecahlah empedunya, hingga wafat seketika di tempat itu.

-----------------------------
4. Mu'minah binti Bahlul
-----------------------------

Mu'minah tergolong seorang sufi perempuan dari Damasykusy, Syiria, tercatat sebagai tokoh besar yang memiliki pandangan kema'rifatan kepada Allah Ta'ala.

Dalam suatu kesempatan ia mengatakan ucapan yang cukup dahsyat.
"Dunia dan akhirat tak akan bagus kecuali bersama Allah, atau dengan memandangnya sebagai efek ciptaan dan kekuasaanNya. Siapa yang mencegah diri dari dekat dengan Allah, berarti ia sedang suka dengan ciptaan (makhluk), dan tak ada yang lebih menakutkan jika di dalamnya kita tidak mengingat Allah walau sejam."

Suatu hari beliau ditanya, "Darimana anda meraih kondisi ruhani yang hebat ini?"
"Dari mengikuti Perintah Allah dan jejak sunnah Rasulullah SAW, disamping mengagungkan hak-hak asasi muslim, serta berbakti kepada orang-orang baik yang saleh."
Ia juga bermunajat kepada Allah Ta'ala, "Duhai penyejuk matahatiku, tak ada bagus-bagusnya dunia dan akhirat ini kecuali besertaMu, dan jangan Engkau kumpulkan padaku kehilangan diriMu dan adzabMu."

----------------------------------------------
5. Mu'adzah bin Abdullah al-Adawiyah
----------------------------------------------

Dia tergolong kawan-kawan dekat Rabiah Adawiyah. Bahkan Mu'adzah sangat mencintai rabi'ah. Sepanjang empat puluh tahun, ia tak pernah mengangkat pandangannya kearah langit (saking merasa malu dihadapanNya).

Hidupnya lebih sering tidak makan di siang hari, dan tidak tidur di malam hari.
"Apakah kau menyakiti dirimu?" tanya seseorang padanya.
"Tidak! Aku hanya sekadar mengakhirkan waktu ke waktu saja. Akhu akhirkan waktu tidur dari malam hingga siang, dan aku akhirkan makan di siang hari hingga malam."
Seorang pembantu Mu'adzah menyebutkan, bahwa Mu'adzah selalu menghidupkan malam dengan sholatnya. Jika ia diserang rasa kantuk, ia berdiri dan mengitari rumah sembari berkata, "Oh diriku, kantuk di depanmu. Jika kau mati maka tidurmu akan panjuang dalam kuburan penuh dengan penyesalan atau kebahagiaan. " Hal demikian selalu ia katakana hingga subuh.

LUV,
Vi's

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar