Sabtu, 27 Juni 2009

Sukses Sejati...(bag. 2)

Sifat Kelima, Keenam dan Ketujuh
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). Yakni dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal sholeh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS Al Furqan [25]: 68-70)

Setelah diayat sebelumnya dibahas mengenai sifat-sifat ‘Ibad (hamba) Allah yang terpuji dalam membina hubungan dengan Allah dan dengan sesamanya, sifat kelima, keenam dan ketujuh ini penekanannya pada keterhindaran dari sifat-sifat yang tercela.

Sifat yang kelima adalah keterhindaraan dari sifat syirik kepada Allah. “Menyembah tuhan yang lain beserta Allah” dapat diartikan dengan mempercayai sesuatu kekuatan ghaib yang lain selain dari kekuasaan Allah. Banyak dari masyarakat kita yang masih melakukannya seperti meminta wangsit, nyekar ke makam orang-orang yang dianggap suci dan berdoa disana dengan harapan orang suci itu akan menyampaikan doa yang kita panjatkan kepada Allah. Demikian juga kebiasaan mencuci keris dan membuat sesajen kecil ketika ada hajatan di rumah kita agar tidak turun hujan. Demikian juga ketika kita melewati sebuah pohon besar, kita akan meminta izin, yang katanya kepada penunggu pohon, agar kita dapat lewat dengan selamat. Semua hal ini adalah syirik.

Rasulullah bersabda, “Yang kutakutkan dari kalian sepeninggalku adalah syirik yang tersembunyi.” (HR Bukhari)

Sebagai manusia modern yang penuh dinamika dan kesibukan kita kadang meremehkan sholat kita yang seharusnya dilakukan di awal waktu. Kita baru sholat Dhuhur pada jam 14.00 siang atau sholat ashar pada jam 17.30 sore. Meremehkan sholat sama dengan meremehkan perintah Allah SWT. Sebagian besar ulama memasukkan “kebiasaan meremehkan sholat” ini ke dalam syirik yang tersembunyi seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam hadish diatas.

Sifat ke enam adalah tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah dapat dipahami dengan tidak membunuh secara fisik ataupun moral manusia itu sendiri. Berapa banyak dari kita yang ingin meraih sukses dengan cara menyingkirkan teman sejawat atau memfitnahnya dihadapan atasan kita. Demikian juga seorang atasan yang ingin meraih sukses dengan cara menguras habis tenaga dan pikiran bawahannya dengan cara-cara yang tidak wajar hanya untuk menopang keberhasilannya. Hal ini mengakibatkan stress ataupun depresi terhadap orang yang kita eksploitasi dan sama saja dengan membunuh jiwanya.

Sifat ketujuh adalah tidak berzina. Begitu banyak kehancuran moral, pribadi, harga diri dan keluarga terjadi hanya karena zina. Begitu banyak riwayat dan sejarah yang telah nyata tapi manusia tidak dapat mengambil pelajaran dari hal ini. Allah SWT sekali lagi mengingatkan kita bahwa keterhindaran dari sifat tersebut dapat mengantar seorang hamba-Nya untuk menjadi pribadi yang sukses.

Bagaimana dengan hamba-hamba Allah yang telah terlanjur melakukannya? Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskannya pada penggalan QS Al Furqan ayat 70 diatas, bahwa Allah masih membuka pintu taubat-Nya. Allah Maha Mengerti bahwa hamba-hamba-Nya itu adalah lemah dan terkadang tidak dapat menghindari dorongan hawa nafsunya. Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran untuk menjadi hamba-Nya yang optimis. Allah pasti mengampunkan dosa-dosa kita asal kita bertaubat kepada-Nya dengan kesungguhan hati dan dibuktikan dengan iman yang tulus dan amal sholeh yang selalu dilakukan dalam kehidupannya. Sesuatu yang luar biasa yang dapat kita pahami dari ayat diatas adalah segala kejahatan yang pernah dilakukan oleh seorang hamba itu akan diganti menjadi kebajikan oleh Allah SWT.

Sifat Kedelapan
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal sholeh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (ayat 71)

Sifat kedelapan ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan ayat sebelumnya. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa permohonan taubat kepada Allah SWT harus selalu dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini dapat dipahami dari sifat manusia yang selalu berada dalam dosa dan kesalahan. Permohonan ampun yang disertai dengan taubat dapat menguatkan jiwa dari hamba itu sendiri. Dan hal ini harus dibuktikan dengan amal sholeh yang dilakukannya.

Rasulullah saw bersabda, “Aku memohonkan ampun (taubat) kepada Rabb ku lebih dari 70 kali dalam sehari.” (HR Bukhari)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla sangat senang menerima taubat salah seorang hambanya, melebihi kegembiraan seseorang diantara kalian yang telah putus asa menemukan untanya kembali yang hilang di padang pasir yang luas.” (HR Muslim)

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar