Sabtu, 27 Juni 2009

Perang Melawan Nafsu (repost)

Dikutip dr Kisah-kisah Teladan Untuk Keluarga, oleh DR.Mulyanto (dg judul asli : Peperangan Ali r.a.)

Pada suatu hari dalam sebuah pertempuran besar, kaum muslimin berhadapan dengan kaum kafir dalam jumlah besar yang tak seimbang. Ali r.a. berhadapan dengan musuh besarnya, pertarungan pedang yang sangat menegangkan karena sang musuh sangat kuat dan ahli menggunakan pedang. Terkadang Ali r.a. terdesak oleh serangan yang dahsyat. Namun terkadang ia mampu mendesak lawannya ke posisi sulit.

Hingga akhirnya Ali berhasil memojokkan musuhnya dan mementalkan pedang yg dipegang musuhnya. Sang musuh pun jatuh tersungkur dan terlentang, pedangnya jatuh jauh dari tangannya. Habis sudah perlawanannya. Wajahnya pucat, takut Ali akan memenggal kepalanya atau menghunuskan pedang ke dadanya. Namun yang mengejutkan,bukannya menyerah, malah dengan berang dia meludahi wajah Ali r.a.

Ali r.a. pun gusar, amarah memenuhi dadanya, wajahnya pun memerah. Ingin sekali ia memenggal kepala musuhnya. Namun ia malah menurunkan pedangnya, dan menyarungkan pedangnya dan hendak segera pergi meningglakan musuhnya.
Sang musuh terkejut. Mengapa Ali r.a. malah meninggalkannya dalam keadaan hidup, padahal ia sudah menghinanya dengan meludahinya. Dengan penasaran ia pun bertanya kepada Ali r.a.,
" Hai Ali mengapa engkau tak membunuhku? Seharusnya kau bisa sangat mudah melakukannya. Aku telah meludahimu."

Ali yang telah menguasai dirinya kembali, dengan tenang menjawab," Hai fulan, engkau benar. Kalau aku mau, aku dapat segera membunuhmu. Apalagi kau telah meludahiku dan membuatku sangat marah.
Ketahuilah, aku berperang, jihad fi sabilillah. Bukan untuk kepentinganku, tapi untuk membela agamaku. Aku berperang menghadapi musuh-musuh yang tidak pernah aku kenal sebelumnya dan juga bukan musuh-musuhku, adalah karena dorongan agamaku. Maka sebelum kau meludahiku, niatku ikhlas kepada Allah SWT berperang melawanmu sampai aku membunuh atau terbunuh. Tak ada kekhawatiran maupun ketakutan bagiku atas keduanya. Kalau aku terbunuh, maka syahidlah aku dan surga menungguku. Kalau aku menang, maka kejayaan Islam adalah buahnya.
Namun, setelah kau meludahi wajahku, hatiku geram, merasa terhina. Ingin nafsuku membunuhmu. Tapi jika itu kulakukan, maka jatuhlah aku ke posisi hina. Karena aku membunuhmu menuruti hawa nafsuku, bukan karena tuntutan agama dengan ikhlas. Maka apalah artinya membunuhmu jika hanya kerugian yang akan kuterima. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu dan meninggalkanmu."

Sang musuh tercengang, terpesona oleh keagungan pribadi Ali r.a. Ia tak menyangka bahwa Islam telah membentuk manusia yang ikhlas dan ihsan. Manusia tangguh yang bebas dari belenggu nafsu. Ia iri melihatnya, tak disadari hatinya luluh atas pancaran nilai robbani. Ia membatin," Mengapa aku harus mempertahankan diri melawan Islam, agama yang demikian mulia? Bukankah akan lebih beruntung jika aku justru berjuang bersama agama ini?" Hatinya terdesak. Akhirnya ia bersedia mengakui kebodohannya, kejahatannya. Dan ia dengan hati ikhlas bersedia untuk bergabung dengan Ali r.a., menjadi seorang muslim, berjuang atas nama Allah, bukan atas nama dirinya.

Sang musuh telah kalah sekaligus menang. Ia kalah dalam pertempuran melawan Ali r.a., tapi ia menang, karena mendapat perasaan baru yang menenteramkan dan keyakinan akan keagungan Islam yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT melalui sikap Ali r.a.

Berbuat bukan karena Allah adalah kesia-siaan.
Berbuat karena menuruti hawa nafsu adalah kehinaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar