Sabtu, 27 Juni 2009

Kesaksian Seorang Dokter (KSD) 1 (Repost)

Dikutip dari buku (terbitan Darus Sunnah) dengan judul yg sama, disusun oleh dr.Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair berdasarkan pengalaman pribadinya menjadi dokter spesialis bedah dan jantung.

Seorang pemuda berusia 17 tahun terkena tembakan peluru nyasar, maka kedua orangtuanya membawanya ke RSAB di Riyadh.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, sang pemuda memandang ibunya dan berkata, "Bunda,janganlah bersedih, demi Allah aku dalam keadaan baik. Sesungguhnya aku akan meninggal, demi Allah aku mencium semerbak wangi surga."
Begitu tiba di ruang UGD, seorang dokter berusaha menanganinya. Tapi pemuda itu berkata," Saudaraku, sungguh aku akan mati, aku telah mencium semerbak wangi surga, karena itu janganlah engkau merepotkan dirimu. Aku hanya menginginkan kehadiran ayah ibuku di sisiku."

Setelah kedua orangtuanya berada di sisinya, pemuda itu menyampaikan selamat tinggal kepada keduanya untuk selamanya, lalu mengucapkan syahadat, "Asyhadu Alla Ilaaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah".
Ia meninggal dengan jari telunjuk tangan kanan menunjuk, seperti orang yang sedang membaca tasyahud dalam sholat.

Setelah sholat Maghrib, saya menemui Dhiya', seorang pegawai yang bertugas memandikan jenazah di RSAB, ia menceritakan tentang kejadian tersebut dan meyakinkan bahwa dirinyalah yang membuka genggaman tangan pemuda tersebut. Ia mendapati jenazah pemuda dalam keadaan segar bugar, suatu keajaiban yang belum pernah ia jumpai sebelumnya.

Saat orangtuanya ditanya mengenai kehidupan pemuda itu, mereka berkata, "Almarhum sejak akil baligh adalah orang yang selalu membangunkan kami untuk sholat Subuh, ia selalu menunaikan sholat malam dan membaca Al Qur'an, selalu berusaha mengikuti sholat wajib berjamaah di masjid. Dan ia selalu mendapat nilai yang memuaskan dalam setiap pelajarannya, ia termasuk peraih rangking atas di kelasnya."

Kemudian saya ceritakan kisah ini kepada dokter ahli bedah jantung yang lain. Tiba-tiba dokter itu mengajukan cuti selama 1minggu tanpa alasan yg jelas. Ia hanya mengatakan, "aku ingin bermuhasabah, apa artinya diriku dibandingkan dengan pemuda tersebut.

Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab, "Masih adakah orang yang mau berlomba-lomba bersama saudaranya dalm beramal sholeh?
Masih adakah orang yag apabila melihat saudaranya duduk memegang mushaf setelah sholat Ashar lalu membacanya ia tertegun dan berkata pada dirinya sendiri, mengapa ia tidak ikut duduk dan membaca Al Qur'an seperti yang dia lakukan.
Masih adakah di antara kita ketika melihat tetangganya atau kerabatnya bangun di malam hari menunaikan sholat malam merasa iri dan berkata pada dirinya, mengapa ia bangun untuk menunaikan sholat malam sedangkan dirinya tidak. Betulkah dirinya mengharapkan surga sebgaimana kerabatnya mengharapkannya. Lalu orang itu beranjak untuk menunaikan sholat malam meski sebentar."

Lalu timbul pertanyaan lain, "Berapa banyak umat Nabi Muhammad SAW yang selalu menjaga sholat malamnya pada masa sekarang ini?"
Sungguh sangat sedikit, sungguh sayang sekali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar