Sabtu, 27 Juni 2009

Sebuah Pelajaran Tentang Kebahagiaan…

Mohammad Yasser Fachri


Dalam kehidupan yang telah dijalani, Allah SWT telah mempertemukanku dengan dua orang sahabat yang luar biasa yang selalu menjadi pembanding dalam hatiku. Dua orang yang membuatku melihat bahwa bagaimana sebuah kehidupan itu dapat memberikan kebahagiaan tanpa dipengaruhi oleh status dan harta yang melimpah.

Orang yang pertama adalah seorang pengusaha. Ia berkantor di gedung megah di sebuah jalan dengan nama jenderal yang tersohor di Jakarta. Seorang dengan kekayaan yang lebih dari 100M dan hidup sangat mapan. Makan siangnya ia habiskan dari satu hotel mewah ke hotel mewah lainnya. Makan siang yang dengan harga yang begitu fantastis, tapi tidak pernah membuatnya puas. Pernah sekali waktu ia bercerita kepadaku, ia harus makan siang di Singapura untuk memenuhi rasa puasnya. Tapi tetap saja ia mengeluh. Ada saja suasana yang salah dalam makan siang nya itu. Hidupnya begitu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat setia kepadanya. Orang-orang yang tidak dapat membantah keinginannya. Tetapi ia tetap mengeluh dan merasa hidupnya tidak dihargai oleh mereka. Ia menganggap istrinya hanya menghabiskan kekayaannya dan anak-anaknya tidak mengerti akan susahnya mencari uang. Ia mencap anak-anaknya dengan “Terbiasa Hidup Enak” dan selalu mencurigai mereka ketika mereka ingin mengajaknya berbicara atau bertukar pendapat. Ketika anak-anaknya bertanya kepadanya akan sesuatu hal, ia selalu mengomentarinya dengan mengatakan, “pasti ujung-ujungnya duit”. Lain lagi dengan istrinya yang ia anggap sebagai sebuah mesin “Vacum Cleaner” yang menyedot uang berapapun ia berikan.

Setiap bertemu denganku, keluh kesah itu selalu terdengar. Ia merasa hidupnya amat terasing, dan tidak dicintai oleh orang-orang terdekatnya sekalipun. Ia bosan dengan orang-orang yang selalu menuruti kemauannya. Ia ingin dihargai dengan seseorang yang mengatakan “tidak” kepadanya. Aku hanya tersenyum. Aku bertanya kepadanya, “Jika istri atau anak-anak mu berkata tidak kepadamu, apakah engkau marah?” “Tentu” Jawabnya. “Kalau begitu, belajarlah untuk tidak marah terlebih dahulu.” Jawabku.

Dalam berbagai pertemuan denganku selalu yang menjadi topik pembicaraan adalah tentang usahanya. Ia selalu berkeluh kesah tentang segala macam hal-hal kecil yang sebenarnya tak perlu ia khawatirkan. Suku bunga yang naik, pajak ekspor, sampai dengan ketakutannya kalau pemilu akan gagal dan dampaknya kepada bisnisnya. Sesuatu yang sebenarnya riak-riak biasa dalam sebuah usaha yang tidak perlu ditakuti bagi perusahaan sebesar yang ia miliki.

Ia terkena insomnia beberapa tahun yang lalu. Jika malam menjelang, ia hanya menghabiskan waktunya dengan membaca dan menonton tv. Sesekali jika bosan, ia memanggil salah seorang satpamnya yang selalu “bertengger”di pos depan rumahnya untuk bertanding catur dengannya. Sungguh sebuah hidup yang ironis ditengah tumpukan kekayaan dan kemapanan.

Berkali-kali aku mengingatkan akan pentingnya arti sholat baginya. Tapi ia selalu menampiknya. Baginya sholat itu tidak terlalu penting. Dalam sebuah kesempatan kutuliskan sebuah catatan baginya:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaahaa [20]:124)


Sahabat kedua yang luar biasa bagiku adalah seorang yang teramat biasa. Aku bertemu dengannya di masjid tempatku biasa berjamaah. Ia seorang “office boy” dari sebuah perusahaan majalah wanita. Dalam pertemuan sehabis berjamaah Dhuhur dan Ashar, ia selalu bercerita kepadaku tentang keluarganya. Ia memiliki anak 7 orang. Yang paling besar duduk di kelas 2 SMP dan yang terakhir berumur 5 bulan. Setiap ia bercerita tentang keluarganya kepadaku, matanya begitu berbinar dan raut wajahnya begitu ceria. Ia bercerita, ia masih menumpang kepada mertuanya. Mertuanya itu memberinya sebuah kamar untuk ia tinggali bersama istri dan anak-anaknya. Ia sadar bahwa itu tidak cukup baginya dan keluarga kecilnya, tapi ia juga tak mampu untuk mengontrak rumah. Sejak kelahiran putrinya yang terakhir, ia mengalah dan tidur di musholla sebelah rumahnya bersama anak pertamanya. “Saya senang, pak, karena tiap malam saya bisa bertahajud dengan suasana yang sangat hening dan damai di musholla.” Begitu ia bercerita kepadaku.

Setiap kami bertemu, tidak pernah ia berkeluh kesah kepadaku. Tidak juga memohon belas kasihan atau bantuan. Ia selalu berbinar dan ceria. Hidupnya yang jauh dari kecukupan tidak pernah menyurutkannya. Ia bercerita kepadaku, beberapa minggu yang lalu, salah seorang keluarga istrinya, yang tidak memiliki keturunan, datang untuk mencoba membujuk dirinya dan istrinya agar mengasuh salah satu atau dua anaknya. Ia menampiknya dan percaya bahwa Allah SWT akan mencukupi segala kebutuhan mereka.

Tidak tampak kelelahan atau kesusahan dalam raut wajahnya. Setiap habis sholat berjamaah, doa-doanya begitu panjang ia panjatkan. Aku teringat akan seorang sahabat Rasulullah saw dengan sebutan “Bastul Wajhi” (Wajah yang bercahaya). Billal bin Rabbah namanya. Seorang “bekas” budak dengan warna kulit yang gelap tapi mendapat gelar yang begitu agung dari Rasulullah. Setiap Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya dalam sebuah majelis, jika Bilal tidak kelihatan, Rasulullah selalu mencarinya dengan mengatakan, “Dimana Bilal?” Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada Bilal di depan para sahabatnya , “Wahai Bilal, ditampakkan kepadaku surga, dan aku melihat langkahmu mendahului langkahku di dalam taman surga. Amalan apa yang engkau perbuat sehingga begitu?” “Bilal menjawab, “Ya Rasulullah, tidak ada sesuatu yang melebihi Engkau selain daripada setiap aku habis berwudhu, aku kerjakan sholat sunnat dua rakaat.” (HR At Tirmidzi).

Suatu kali, setelah sholat berjamaah, sahabatku ini datang kepadaku dengan membawa sesuatu. Ia berkata kepadaku, “Pak, tetangga saya baru pulang haji, saya diberi oleh-oleh tasbih ini, mohon Bapak pergunakan saja. Saya lihat Bapak suka berdzikir, pakailah tasbih ini supaya saya juga mendapat kebaikan dari amal sholeh Bapak.” Mataku berkaca-kaca. Tak pernah rasanya aku dihargai orang lebih dari apa yang ia perbuat kepadaku. “Insya Allah” Jawabku. Suatu ketulusan yang luar biasa. Ia bercerita, ia ingin selalu berbuat amal sholeh. Tapi ia sadar ia tidak dapat membantu orang lain dengan harta yang dimiliknya. Ia ingat apa yang Rasulullah saw sampaikan, “Senyum itu juga sedeqah.”(HR Muslim). Ia ingin berbuat baik kepadaku, tapi ia memiliki keterbatasan. Ia bahagia dengan apa yang ia lakukan. Sejak itu tasbih itu selalu menyertaiku dan sebuah ketulusan yang selalu menjadi panutan bagiku.

“…Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath Thalaaq [65]:3)

Aku bersyukur kepada Allah SWT, dua sahabat yang telah mengajarkan kepadaku sebuah arti kebahagian. Kebahagian bukanlah terletak pada tumpukan harta tapi ketaqwaan kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Wahai sahabat-sahabat ku tidaklah disebut kaya seseorang itu karena banyak hartanya, tapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari & Muslim)

Aku teringat akan sebuah doa Rasulullah saw, “Ya Allah cukupkanlah bagiku rezeki yang halal daripada yang haram dan anugerahkanlah kepadaku kekayaan, dengan kemurahan-Mu, melebihi siapapun selain Engkau.” (HR At Tirmidzi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar