Sabtu, 04 Juli 2009

KEPEMIM PINAN DIRI

Ass, wr, wb,

Terima kasih kepada semua anggota group yang masih saling sharing dan ber-tausiyah demi kemajuan bersama.

Berikut ini saya kirimkan ‘sekedar pencerahan’ saja. Hal ini merupakan cuplikan materi training (motivasi/leadership/pola pikir) yang pernah sy berikan kepada karyawan2 semua level.

Sy mixed juga dengan sentuhan2 islami dari tausiyah2 yang sy berikan di berbagai majlis ta’lim.

Mudah2 bermanfaat.
__________

Menyambung dari konsep sebelumnya :

Pikiran --> perasaan --> tindakan

Tindakan atau perbuatan Anda merupakan hasil dari perasaan Anda sendiri.

Perasaan merupakan buah dari pikiran Anda terhadap suatu hal.

Misalnya, bila dalam satu lorong gelap kita berpikiran yang tidak-tidak, maka sosok guling putih kumal di kejauhan akan kita pikirkan sebagai sosok yang menyeramkan.

Pikiran ini menimbulkan perasaan takut bukan main dan membuat Anda untuk mengambil tindakan lari terbirit-birit bahkan sampai tidak disadari ‘pipis di celana’.

Sikap Anda yang ada saat ini merupakan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dari berbagai umpan balik yang berasal dari orang tua, teman-teman, lingkungan, dan juga pengalaman Anda sendiri

Hal ini membentuk bagaimana cara Anda melihat diri sendiri dan juga pandangan Anda tentang dunia.

Sikap ini kita “pelihara” dengan dialog dalam diri, baik secara sadar maupun tak sadar.

Bila Anda bedialog dengan script atau skenario yang positif, hal ini merupakan suatu awal yang baik.

Sebaliknya, bila Anda berdialog dengan script atau skenario yang negatif, maka merupakan suatu awal yang buruk
___________

“Cara Pandang Tentang Kesuksesan”

Sukses bukanlah bersifat materi belaka seperti memiliki kekayaan yang berlimpah, memiliki pacar/istri cantik, jabatan tinggi, jumlah mobil seri terbaru, sering berkunjung ke luar negeri, dll.

Keberhasilan dan kegagalan ibarat dua sisi dari satu mata uang, yang satu memerlukan yang lain.

Orang yang tak memerlukan orang lain, orang yang tak pernah gagal, tak bakal mampu memahami makna keberhasilan.

Kegagalan adalah sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada keberhasilan.
Semakin kita gagal, maka semakin dekat dengan keberhasilan.

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Jadi, tidak ada dalam kamus hidup ‘kegagalan’ ini. Yang ada adalah proses menuju keberhasilan.

Kegagalan justru penting untuk selamat. “nothing last forever”.
Tak ada yang abadi …. Kegagalan pun tidak, so …… ?

Setiap kesulitan merupakan tantangan, setiap tantangan merupakan suatu peluang,
dan setiap peluang harus disambut.
___________

“Makna Perubahan”

Perubahan merupakan bagian suatu perjalanan yang harus diterima dengan baik.

Maukah kita melakukan perubahan …..?

Kehidupan tidak ada yang tetap, semua berubah …..
Hanya ada satu hal yang tetap, yaitu perubahan …..

Ada 3 Jenis Manusia, yaitu :

1. YANG MEMBUAT sesuatu terjadi
2. YANG MEMBIARKAN segala sesuatu terjadi
3. YANG TIDAK MENGETAHUI apa yang terjadi

Mereka yang MEMBUAT sesuatu terjadi, apa kualitas terbaik mereka ?
___________

“Kunci Keberhasilan”

Menyadari Potensi Diri (inner resources) dan merasakan tantangan (outer resources).

Tumbuhkanlah rasa percaya diri, nikmati dan sukurilah ‘dunia kerja’ Anda.

Belajarlah dari kegagalan. Janganlah takut gagal. Jadikanlah hambatan menjadi suatu ‘peluang emas’.

Jadikanlah ‘kompetitor’ sebagai ‘partner’ untuk meraih predikat terbaik.

Kesempatan masih terbentang lebar ……
Hari esok masih mau bersahabat ……
Jari tangan yang rapat, masih menyimpan celah ……
Hidup yang penuh liku, jalanan yang terjal …..
Persaingan yang ketat …..
Masih menyimpan secercah harapan
___________

“Kepemimpinan Diri”

Marilah kita mengkaji firman Allah pada surah Al-Baqarah (2) : 30 : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi....”.

Jika kita analisa dari struktur kalimatnya, maka ada 4 uraian utama, yaitu :

1. Allah SWT sendiri langsung berfirman kepada malaikat dengan menggunakan kata ‘qoola‘ (fi’il madhi) atau past tense, yang berarti telah berfirman.

2. Menggunakan kata ‘innii‘ yang sangat menekankan dan adanya keterjaminan akan kebenarannya. Mengandung arti ‘sesungguhnya Aku” dan berkonotasi ‘ngewanti-wanti’ atau ‘ngomat-ngomat’ dalam hal kebenarannya.

3. Allah SWT sebagai ‘jaa’ilun‘ (isim fa’il), yakni pelaku/ subjek yang bermakna ‘yang menjadikan’ (the Maker).

4. Allah menjadikan (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dalam konteks di atas, Allah menggunakan istilah ‘kholifah’, bukan ‘rois’. Keduanya sama-sama berarti ‘pemimpin’, tetapi berbeda maknanya.

Bila saya meminjam teori manajemen modern, istilah yang berhubungan dengan ini, terdapat istilah ‘leader’, selain ada istilah ‘manager’, sehingga, ‘kholifah’ = ‘leader’, ‘rois’ = ‘manager’.

Pendekatan kepemimpinan (leadership approach) ada 3, yakni :

1. Trait (sifat). Bahwa pemimpn adalah dilahirkan, ia ada sejak lahir dan bawaan. Faktor alamiah (nature)

2. Behavior (perilaku). Bahwa pemimpin adalah diciptakan, dibentuk. Faktor lingkungan (nurture)

3. Situational. Fleksibel, tergantung situasinya.

Allah SWT menggunakan kata ‘kholifah’ mengandung makna bahwa ‘status pemimpin’ sudah melekat pada diri manusia. Dan ini ditujukan kepada seluruh manusia, tanpa pengecualian. Tidak pandang ia pintar, kaya, dungu, cacat, jenius, idiot, dll.

Bila saya meminjam lagi teori manajemen modern, seorang ‘khalifah’ (leader) “melakukan sesuatu yang benar”. Sementara seorang ‘manager’ “melakukan sesuatu dengan benar”.

Pada kalimat “melakukan sesuatu yang benar” tersebut, ada simbolisme ‘nilai-nilai’ (core value), bahwa sudah seharusnya seorang ‘leader’ selalu melakukan sesuatu yang benar.

Untuk selanjutnya penulis menggunakan istilah ‘khalifah’ dengan istilah ‘pemimpin’ (leader).

Memang, sudah seharusnya pemimpin melakukan sesuatu yang benar. Ia harus dilandasi dengan nilai-nilai kebenaran (akhlaqul karimah). Namun, kenyataannya masih banyak ditemukan pemimpin yang belum menjadi ‘pemimpin’ seperti yang Allah SWT inginkan. Sehingga, perintah dan titah seorang pemimpin tidak mutlak harus diikuti.

Allah SWT berfirman : “atii’ullaaha wa ’atii’ur rasuula wa ulil amri minkum”, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu…”. Q.S. An-Nisa (4) : 59.

Ayat di atas menggunakan 2 kali seruan dengan kata ‘atii’uu‘ (fi’il amr) atau kata seru saat memerintahkan agar taat kepada Allah dan Rasul. Tetapi, sebelum kata ‘ulil amri‘ tidak diawali dengan kata ‘atii’uu‘, sehingga langsung diartikan : “dan ulil amri/pemimpin (pemeritah) di antaramu”. Bukan “dan taatlah kamu sekalian kepada ulil amri/pemimpin (pemerintah) di antaramu”.

Hal ini mengandung makna bahwa taat kepada Allah dan Rasul adalah mutlak (absolute). Sedangkan taat kepada ulil amri/pemimpin (pemerintah) adalah nisbi (tidak mutlak), tergantung benar atau tidaknya.

Mengenai pemimpin ini, pertanyaan yang muncul adalah : pemimpin siapa ? bagaimana dengan orang yang lemah ? Bagaimana dengan orang yang cacat, idiot, dan kurang kemampuan ?

Dalam konteks ini, Allah SWT mensinyalir dan menegaskan dalam ayat-Nya di atas tidak pandang bulu, karena ditujukan pada sekalian manusia tanpa kecuali.

Hal ini dipertegas dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa : “kullukum rooin wakullu mas’uulin ‘an roiyatih”, “setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya”.

Dari firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW tersebut di atas, jelas bahwa manusia adalah seorang pemimpin. Ini mengandung arti bahwa siapapun orangnya, dia adalah seorang pemimpin.

Lalu bagaimana jika ia hidup sendiri, tanpa teman, tidak punya anak buah, tidak punya kemampuan untuk memimpin orang, apakah dia juga seorang pemimpin ?

Jawabannya adalah ‘YA’. Dia adalah pemimpin untuk ‘DIRI SENDIRI’. Manusia adalah pemimpin untuk makhluk lain seperti jin, tumbuhan, hewan, benda-benda, dan alam semesta.

Jika dia tidak memimpin orang lain, maka dia memimpin manusia dalam konteks ‘PEMIMPIN DIRI SENDIRI’ (self leader).

Jadi, benang merahnya adalah kita harus bisa ‘memimpin diri’.

Seorang pemimpin perang pernah mengatakan bahwa : “Jangan bermimpi Anda bisa memimpin/mempengaruhi orang lain jika belum mampu memimpin diri sendiri”.

“Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri”. Q.S. An-Naml (27) : 81.

“(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan)”. Q.S. An-Nahl (16) : 111.

“…Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu)”. Q.S. Fathir (35) : 18.

Maukah kita memulai dengan memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain???

Kuncinya kita mau memulai dan mencoba…
Try ….., try ….., ant try again ….., and again …..

Semua itu dimulai dari memimpin diri sendiri…

Wallahu a’lam bish shawab…

Wass. wr. wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar