Kamis, 09 Juli 2009

Musim Panas///// :) Tulisan ini memaparkan tentang hal-hal yang terkait dengan musim.

Musim Panas///// :)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahiim...

Tulisan ini memaparkan tentang hal-hal yang terkait dengan musim. Penulis memulai dengan menerangkan hadits-hadits yang terkait dengan musim panas, kemudian keutamaan-keutamaan ibadah di musim panas, dan terakhir penulis menceritakan tentang ibadah para salafus shalih di musim panas.

Dalam hitungan hari dan minggu, insya Allah, musim panas akan segera tiba. Waktu berputar begitu cepat tanpa terasa diiringi dengan usia kita yang terus merangkak naik. Dalam tulisan kali ini, saya akan mengutip satu judul dari kitab Lata`if al-Ma'arid karya Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah yang membicarakan tentang hal-hal yang terkait dengan musim.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah , dari Nabi , beliau bersabda:

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: يَارَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٌ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٌ فِى الصَّيْفِ, فَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ مِنَ الْحَرِّ مِنْ سُمُوْمِ جَهَنَّمَ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ مِنَ الْبَرَدِ مِنْ زَمْهَرِيْر جَهَنَّمَ

"Neraka mengadu kepada Rabb-nya, ia berkata, 'Ya Rabb, sebagian dariku memakan yang lain.' Maka Dia mengijinkan baginya dua nafas: satu nafas di musim dingin dan satu nafas lain di musim panas. Maka panas membakar yang kamu dapatkan berasal dari angin panas neraka jahanam dan dingin menusuk tulang yang kamu rasakan bersumber dari dinginnya neraka jahannam."1

Tidak diragukan lagi, sesungguhnya Allah telah menciptakan untuk hamba-hamba-Nya dua negeri untuk membalas amal perbuatan mereka, serta tetap berada di dua negeri tersebut tanpa ada lagi kematian. Dan Dia menciptakan dunia untuk beramal dan Dia menjadikan kematian dan kehidupan di dalamnya. Dia menguji hamba-hamba-Nya dengan memberi perintah dan larangan kepada mereka di dalam negeri ini. Dia mewajibkan kepada mereka untuk beriman kepada yang gaib, yang di antaranya adalah percaya terhadap negeri pembalasan dan dua negeri yang diciptakan untuknya.

Dia menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul, menegakkan dalil-dalil yang jelas terhadap perkara gaib yang Dia perintahkan untuk beriman kepadanya, membuat tanda-tanda yang menunjukkan adanya dua negeri pembalasan. Maka sesungguhnya dua negeri yang diciptakan untuk pembalasan itu adalah negeri kenikmatan murni yang tidak dicampuri rasa sakit, dan yang lain adalah negeri siksaan murni yang tidak ada rasa lapang.

Di dalam negeri yang fana ini tercampur antara kenikmatan dan penderitaan. Kenikmatan yang ada padanya mengingatkan kenikmatan surga dan penderitaan di negeri dunia ini mengingatkan penderitaan di neraka. Dan Allah telah menjadikan di negeri ini berbagai perkara yang mengingatkan manusia akan negeri gaib yang kekal abadi.

Di antaranya, ada yang mengingatkan surga berupa tempat dan waktu. Adapun tempat, maka Allah menciptakan beberapa negeri seperti Syam dan negeri lainnya yang di dalamnya terdapat berbagai makanan, minuman, pakaian, dan kenikmatan dunia lainnya yang mengingatkan kenikmatan surga. Adapun waktu, maka seperti musim semi, kesejukannya mengingatkan akan kenikmatan surga. Dan seperti waktu-waktu sahur, maka dingin dan kesejukannya mengingatkan akan kesejukan surga.

Selain itu, ada pula yang mengingatkan tentang neraka. Sesungguhnya Allah telah menjadikan berbagai hal yang mengingatkan manusia akan neraka yang disediakan untuk orang yang durhaka kepada-Nya, penderitaan dan siksaan di berbagai tempat dan waktu yang mengingatkan tentang neraka tersebut. Adapun yang berkaitan dengan tempat, maka banyak negara yang suhunya sangat panas atau sangat dingin. Dinginnya mengingatkan kita terhadap neraka zamharir (neraka yang sangat dingin) dan panasnya mengingatkan kita akan panasnya api dan hawa panas di neraka jahanam.

Dan sebagian tempat mengingatkan neraka seperti mata air panas. Abu Hurairah berkata, 'Sebaik-baik rumah adalah mata air panas yang dimasuki oleh orang beriman, maka ia menghilangkan kotoran dengannya dan ia berlindung kepada Allah dari api neraka.
Salafus shalih mengingat neraka dengan memasuki tempat pemandian air panas, maka hal itu menjadi ibadah bagi mereka. Ibnu Wahb rahimahullah memasuki pemandian air panas, lalu ia mendengar seseorang membaca firman Allah :
وَإِذْ يَتَحَآجُّونَ فِي النَّارِ

Dan (ingatlah) ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, …" (QS. Ghafir:47)
Maka ia pun pingsan.

Shilah bin Asyyam rahimahullah menikah, maka ia memasuki pemandian air panas. Kemudian ia memasuki kamar istrinya pada malam itu, lalu ia berdiri shalat hingga subuh, dan ia berkata, "Kemarin aku memasuki rumah yang mengingatkan aku terhadap api neraka dan tadi malam aku memasuki rumah yang mengingatkan aku terhadap surga, maka fikiranku selalu terarah pada keduanya hingga pagi."

Sebagian salafus shalih apabila ditimpa kesakitan di pemandian air panas, akan berkata, "Wahai Yang Maha Baik, Yang Maha Penyayang, berilah nikmat kepada kami dan peliharalah kami dari panas api neraka."
Sebagian orang shalih menuangkan air dari pemandian air panas di kepalanya, maka ia merasakan sangat panas, lalu ia menangis dan ia berkata:
"Aku teringat firman Allah :

يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ
Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. (QS. al-Hajj:19)"

Semua yang ada di dunia ini menunjukkan ada yang menciptakannya, disebutkan dengannya dan menunjukkan sifatnya. Maka segala kenikmatan dan kesenangan yang ada di dunia ini menunjukkan kemurahan penciptanya, keutamaan, ihsan, dan kelembutan-Nya. Dan siksaan dan penderitaan menunjukkan kerasnya siksa dan azab-Nya. Perbedaan kondisi di dunia berupa panas dan dingin, malam dan siang, dan yang lainnya menunjukkan akan punah dan sirnanya sesuatu yang ada di dunia.

Khalifah al-Abdi berkata, "Jikalau Allah tidak disembah kecuali berdasarkan penglihatan niscaya tidak ada seorangpun yang menyembah-Nya, akan tetapi orang-orang beriman berfikir pada datangnya malam apabila telah tiba, yang melapisi segala sesuatu dan melenyapkan kekuasaan siang, lalu mereka berfikir pada 'angin yang ditundukkan di antara langit dan bumi' dan berfikir pada 'kapal-kapal yang berlayar di lautan yang memberi manfaat kepada manusia', dan mereka berfikir tentang datangnya musim dingin dan musim panas.

Demi Allah, orang-orang beriman senantiasa berfikir pada sesuatu yang Rabb ciptakan untuk mereka, hingga hati mereka menjadi yakin, dan akhirnya mereka menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya.
Orang-orang arif tidak melihat sesuatu di dunia kecuali mereka teringat terhadap janji yang diberikan Allah dari jenisnya di akhir, dari segala kebaikan dan afiat.
Hati orang-orang yang 'arif mempunyai mata

Bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang memandang
Al-Hasan rahimahullah berkata, "Setiap dingin yang membinasakan sesuatu berasal dari napas neraka jahanam, dan setiap hawa panas yang membinasakan sesuatu maka ia berasal dari napas neraka jahanam." Dan dalam hadits yang shahih, dari Nabi , beliau bersabda:

إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوْا عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

"Apabila suhu panas sangat tinggi, maka dinginkanlah dengan shalat, maka sesungguhnya suhu panas yang tinggi berasal dari hawa neraka jahanam."2
Dan perkara yang diperintahkan untuk bersabar ketika panas matahari menyengat adalah pergi berjihad di musim panas, sebagaimana firman Allah yang menceritakan tentang orang-orang munafik:

وَقَالُوا لاَتَنفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
dan mereka berkata:"Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah:"Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)", jikalau mereka mengetahui. (QS. at-Taubat:81)

Demikian pula berjalan ke masjid untuk shalat Jum'at dan berjama'ah, menghadiri jenazah dan perbuatan taat lainnya, dan duduk di panas terik matahari untuk menunggu hal itu di tempat yang tidak ada tempat berteduh. Seorang salafus shalih pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum'at, lalu ia melihat orang-orang sudah mendahuluinya ke tempat yang teduh, maka ia duduk di tempat yang panas. Lalu seseorang memanggilnya dari tempat yang teduh agar masuk kepadanya, maka ia enggan melangkahi manusia, kemudian ia membaca:
وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ

dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman:17)

Sudah seharusnya bagi orang yang berada di bawah panas matahari untuk selalu mengingat panasnya di mauqif (padang mahsyar), matahari dengan panasnya yang membakar sangat dekat dari kepala hamba di hari kiamat. Sudah sepantasnya bagi orang yang tidak sabar terhadap panas matahari di dunia agar menjauhi amal perbuatan yang menyebabkan masuk neraka, karena sesungguhnya tidak ada yang tahan dan sabar terhadap siksaannya. Qatadah rahimahullah berkata, -dan dia menyebutkan tentang minuman penghuni surga, yaitu air yang mengalir dari nanah mereka dari kulit dan daging- ia berkata, "Apakah kamu mempunyai kekuatan terhadap hal ini ataukah kamu sabar atasnya? Taat kepada Allah lebih mudah bagimu, wahai kaumku, maka taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya."

Engkau melupakan api neraka saat menuruti hawa nafsu
Dan engkau menjaga diri dari panas matahari yang membakar
Seolah-olah engkau tidak mengubur air yang panas dan tidak akan pernah mati, yang suatu saat pasti akan tiba.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah melihat suatu kaum menghadiri pengurusan jenazah, mereka berlari dari panas matahari ke tempat yang teduh dan menghindarkan diri dari debu. Kemudian ia membaca sya'ir:

Barangsiapa yang saat matahari menerpa keningnya
Atau debu, takut mendapat malu dan rambut kusut
Senang di tempat teduh untuk menetapkan keceriannya
Ia akan tinggal pada satu hari terhina di dalam kubur
Di tempat teduh yang tidak berpenghuni, berdebu lagi gelap
Tinggal di bawah tanah dalam duka cita dalam waktu yang panjang
Persiapkanlah dengan persiapan yang kamu sampai dengannya
Wahai nafsu, sebelum terhina, kamu tidak tidak ciptakan tersia-sia/tanpa tujuan.

Pahala berlipat ganda di musim panas
Di antara amal ibadah yang dilipatgandakan pahalanya di hari musim panas adalah puasa, karena kehausan yang sangat pada saat itu. Dan karena inilah, Mu'adz bin Jabal merasa sayang karena berlalunya kehausan di musim panas, demikian pula para salaf yang lain.

Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa beliau berpuasa di musim panas dan berbuka (tidak puasa) di musim dingin. Umar berpesan di akhir hayatnya kepada putranya Abdullah , ia berkata, "Kamu harus menjaga perkara-perkara iman…" dan ia menyebutkan yang pertama adalah puasa di saat suhu yang sangat panas di musim panas. Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata, "Aisyah radhiyallahu 'anha berpuasa di saat musim panas. Kemudian ada yang bertanya, "Apakah yang mendorongnya melakukan hal itu? Ia menjawab, "Ia menunggu datangnya ajal."

Cerita orang-orang shalih
Tatkala Ibnu 'Abdi Qais rahimahullah berjalan dari Bashrah menuju Syam, Mu'awiyah bertanya kepadanya untuk memenuhi kebutuhannya, maka ia enggan. Maka tatkala ia terus bertanya, ia berkata, 'Kebutuhanku adalah agar engkau mengembalikan panas kota Bashrah agar puasa sedikit lebih berat bagiku, sesungguhnya ia lebih ringan atas di negerimu.;

Al-Hajjaj singgah di sebagian perjalanannya di antara Makkah dan Madinah. Ia pun meminta makanannya, dan ia melihat seorang arab badawi lalu ia mengajaknya makan bersamanya. Ia berkata, "Orang yang lebih baik darimu telah memanggilku lalu aku memenuhi ajakannya." Al-Hajjaj bertanya, "Siapakah gerangan dia?" Ia menjawab, "Allah mengajakku berpuasa, lalu aku berpuasa." Al-Hajjaj bertanya, "Di panas yang sangat terik ini?" Ia menjawab, "Benar, aku telah berpuasa di saat yang lebih panas darinya." al-Hajjaj berkata, "Berbukalah dan puasa esok hari." Ia menjawab, "Jika engkau bisa menjamin aku masih hidup hingga esok hari." Al-Hajjaj berkata, "Aku tidak bisa menjamin hal itu." Ia berkata, "Bagaimana engkau meminta kepadaku sesuatu yang segera dengan sesuatu yang tertunda yang engkau tidak mampu atasnya."

Ibnu Umar keluar bersama para sahabatnya dalam sebuah perjalanan jauh. Mereka meletakkan sufrah, lalu lewatlah seorang penggembala kambing, mereka pun memanggilnya agar makan bersama mereka. Ia menjawab, "Aku puasa." Ibnu Umar berkata, "Di hari seperti ini yang sangat panas, engkau berada di antara lembah ini di belakang kambing ini, sedangkan engkau berpuasa." Ia menjawab, "Aku menyegerakan hari-hari yang berlalu ini." Ibnu Umar merasa heran kepadanya dan berkata, "Apakah engkau mau menjual kepadaku satu ekor kambingmu,kami akan memberikan kepadamu dagingnya untuk engkau berbuka dan kami berikan kepadamu harganya?" Ia menjawab, "Kambing ini bukan milikku, ini milik tuanku." Ibnu Umar berkata, "Engkau bisa mengatakan kepada tuanmu bahwa serigala telah memakannya?" Maka penggembala itu pun pergi sambil mengangkat telunjuknya ke langit seraya berkata, "Di mana Allah?" Maka Ibnu Umar senantiasa mengulangi kata-kata ini. Tatkala ia telah sampai di Madinah, ia mengutus seseorang kepada majikan penggembala itu, lalu membeli penggembala itu dan kambingnya. Kemudian ia pun memerdekakan penggembala itu dan memberikan kambing kepadanya.

Rauh bin Zanba' rahimahullah singgah di satu tempat di antara Makkah dan Madinah di saat panas terik yang membakar kulit, maka datanglah seorang penggembala dari gunung, lalu Rauh berkata kepadanya, "Wahai penggembala, datanglah ke sini untuk makan siang." Ia menjawab, "Sesungguhnya aku puasa." Rauh bertanya, "Apakah engkau puasa di saat panas ini?" Ia menjawab, "Apakah aku rela membiarkan hari-hariku berlalu sia-sia?" Rauh berkata kepadanya, "Sungguh aku telah berbuat bakhil dengan hari-harimu, wahai penggembala, saat Rauh bin Zanba' datang kepadamu."
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar berpuasa sunnah hingga pingsan, maka tetap tidak berbuka.

Imam Ahmad rahimahullah berpuasa hingga hampir pingsan, maka diusapkan air di wajahnya. Dan ia ditanya tentang orang yang puasa, lalu ia merasakah suhu udara yang sangat panas. Ia menjawab, "Tidak mengapa ia membasahi pakaian untuk mendinginkan dan disiram air kepadanya."
Abu ad-Darda` berkata, "Berpuasalah di hari yang sangat panas untuk panasnya di hari kebangkitan, dan shalatlah dua rekaat di kegelapan malam untuk kegelapan di dalam kubur."

Dalam ash-Shahihain, dari Abu ad-Darda` , ia berkata, "Sungguh aku melihat kami bersama Rasulullah dalam perjalanan di saat hari yang sangat panas, dan sesungguhnya seorang laki-laki meletakkan tangannya di atas kepalanya karena sangat panasnya, dan tidak ada seorang pun yang puasa selain Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah . Dan dalam satu riwayat: sesungguhnya hal itu terjadi di bulan Ramadhan.


1 Al-Bukhari 537 dan 3260, dan Muslim bab al-Masajid – sunat mendinginkan dengan zhuhur.
2 Al-Bukhari 536 dalam kitab 'Waktu-waktu shalat' dan Muslim dalam kitab 'Masajid' bab 'sunat mendinginkan di waktu zhuhur' 1/180, dari jalur az-Zuhri, dari Sa'id bin Musayyab dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah .


Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah
Terjemah : Muhammad Iqbal Ghazali
Editor : Eko Abu Ziyad

http://www.islamhouse.com/p/207724

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar