Selasa, 07 Juli 2009

LAUTAN : SEBUAH PERSPEKTIF

Allah SWT berfirman: "Dia membiarkan dua lautan mengalir, kemudian keduanya bertemu; di antara keduanya ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh masing-masingnya; maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan?; dari keduanya keluar mutiara dan marjan”. Q.S. Ar-Rahman (55) : 19-22.

Di antara ahli Tafsir ada yang berpendapat bahwa “la yabghiyan” maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan), maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), maka bertemulah dua lautan itu. Hal ini bisa dilihat seperti terusan Suez dan terusan Panama.

Kita mengenal bahwa air laut itu adalah asin. Ayat di atas berbicara tentang laut dan apa yang keluar dari salah satu laut berupa marjan dan dari laut lainnya lagi berupa mutiara. Laut yang pertama rasanya asin, demikian juga yang kedua. Dan kapan manusia mengetahui bahwa laut yang asin itu berbeda-beda, dan bukannya laut yang memiliki kandungan sama.

Hal ini belum diketahui oleh manusia kecuali setelah mereka memasuki tahun 1942. Dari sini diketahui bahwa ada tempat tertentu di dalam laut yang kandungan airnya berbeda-beda.

Ketika para peselancar melakukan selancar dan mengelilingi lautan dunia selama 3 tahun dengan menggunakan kapal, maka ini menjadi tonggak pembatas antara ilmu kelautan kuno, penuh dengan khurafat, dengan penelitian mendalam yang didasarkan kepada penelaahan atas fakta laut tersebut. Dan ini merupakan awal dari gelombang kemajuan ilmu pengetahuan bahwa laut yang asin memiliki kandungan air yang berbeda-beda. Dan sudah pernah dilakukan penelitian dan evaluasi terhadap penelitian ini bahwa air laut berbeda-beda kadar panas, berat jenis (BJ air), dan kandungan oksigennya.

Pada tahun 1942, muncul untuk yang pertama kalinya sebuah hasil penelitian yang sangat panjang. Penelitian ini dilakukan oleh ratusan para peneliti dasar laut, dan mereka menemukan bahwa samudera Atlantik bukanlah laut yang hanya merupakan satu lautan, akan tetapi ternyata terdiri atas beberapa laut yang masing-masing berbeda. Masing-masing peneliti menemukan perbedaan dari masing-masing air laut yang mereka temui. Air laut di sebelah sana memiliki keistimewaan dan karakteristik tersendiri, demikian juga air laut bagian lainnya; masing-masing berbeda kadar suhu, BJ air, oksigennya, semuanya bersatu dalam satu samudera, Altlantik.....

Laut-laut lain pun yang berbeda kemudian bertemu, seperti laut Tengah, laut Merah, dan teluk 'Adn yang bertemu di satu tempat yang sempit.
Oleh karena itu, tahun 1942 tersebut adalah pertama kalinya diketahui ada satu laut yang masing-masing bagian laut tersebut memiliki perbedaan dalam kandungan dan sifat-sifatnya, dan bertemu pada satu tempat tertentu.

Pada pakar kelautan (oceanolog) mengatakan bahwa sifat yang paling kentara dari laut dan airnya adalah bahwa laut dan airnya tidak pernah tetap... tidak pernah tenang, dan hal yang paling terlihat adalah ia selalu bergerak. Panjang, lebar, gelombang air, dan arah pergerakannya adalah di antara faktor-faktor yang sangat banyak mempengaruhi keadaan air laut.

Dari sini ada satu pertanyaan: “Bila memang demikian keadaannya, maka mengapa air-air yang berbeda itu tidak bercampur dan tidak menyatu (melebur) menjadi satu jenis?".

Maka mereka pun mempelajari, meneliti, dan menelaahnya. Akhirnya mereka pun menemukan jawabannya, yaitu bahwa ada "dinding air pembatas" yang memisahkan setiap pertemuan dua laut dalam satu tempat, baik di dasar samudera atau pun di dalam palung (jurang di dalam lautan). Tempat inilah yang ternyata memisahkan antara laut yang satu dengan laut yang lainnya.

Dari sini dapat diketahui batas laut ini dan bagaimana karakteristiknya. Akan tetapi dengan apakah mereka bisa mengetahuinya ? Apakah dengan kedua mata kita ...?

Tidak, akan tetapi dengan meneliti secara mendetail dan rinci terhadap kandungan kadar garam, kadar suhu, BJ air. Dan hal inilah yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.

Wallahua’lam bish shawab…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar