Kamis, 09 Juli 2009

Arti dari Islam adalah menyerah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan bertauhid, ////

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahiim


Islam: Sunnah & Jama`ah

Arti dari Islam adalah menyerah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan bertauhid, kepada-Nya di atas ajaran-ajaran Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam. Islam adalah agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala satu-satunya.
Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diridhai-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Tidak ada satu agama pun akan diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala selain Islam. Barangsiapa yang datang di hari kiamat dengan agama selain Islam, maka orang itu pun akan kekal di neraka jahannam.


Islam adalah agama tauhid, Islam adalah agama para rasul, sejak Nabi Adam as hingga Nabi dan junjungan kita, Muhammad bin Abdillah Salallohu Alaihi Wasalam.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub.(Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam.

Adakah kalian hadir ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kalian ibadahi sepeninggalku. Mereka menjawab: Kami akan beribadah kepada Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu, Ibrahim, Isma'il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tundukkepada-Nya” [QS. al-Baqarah (2): 132-133]

Yahudi bukanlah agama Nabi Musa Alaihi Salam dan Nasrani bukanlah agama Nabi Isa Alaihi Salam, kedua nabi tersebut dan seluruh nabi yang lainnya, semuanya diutus dengan Islam.

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para hawariyyin (shahabat-shahabat setia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam” [QS. Āli Imrān (3): 52]

“Berkata Musa: Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang-orang Islam” [QS. Yūnūs (10): 84]

Islam adalah agama yang sempurna, kesempurnaan Islam adalah mutlak dari semua segi, baik aqidah, hukum-hukum maupun dari segi-segi lainnya. Yang demikian itu dikarenakan Islam adalahhaq dan karena Islam datang dari Dzat yang Maha Sempurna, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kesempurnaan Islam bertolak dari kesempurnaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Islam adalah agama yang abadi, tidak akan punah sepanjang zaman dan tidak akan tertinggal oleh zaman manapun.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama kalian” [QS. al-Mā’idah (5): 3]

Islam diturunkan untuk jaya selamanya, untuk selalu berada di tingkat tertinggi di atas semua agama yang ada di bumi ini. Hal itu dikarenakan Islam adalah haq dan agama-agama lainnya adalah batil. Kejayaan Islam tidak akan pudar selamanya. Pemeluknya pun akan tetap jaya selama mereka berpegang kepada Islam yang murni

Bagaimana suatu kaum tidak akan jaya apabila mereka mengikuti petunjuk-petunjuk Dzat yang Maha Mengetahui hal-hal gaib dan yang nampak? Bagaimana tidak akan jaya ketika suatu kaum tunduk menyerah pada Ilah yang agung yang di tangan-Nyalah kejayaan itu sendiri? Dialah yang memberikan kejayaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan menanggalkannya dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya” [QS. al-Tawbah (9): 33]

“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” [QS. al-Fath (48): 28]

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur” [QS. Fāthir (35): 10]

Ketika para pemeluk Islam meninggalkan pasal-pasal dari agama suci ini, maka mereka pun mulai ditinggalkan kejayaan mereka sendiri seperti halnya yang terjadi pada abad terakhir ini. Tiada jalan untuk mengembalikan kejayaan mereka selain kembali berpegang teguh kepada agama mereka yang murni.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” [QS. Muhammad (7): 7]

Di saat kondisi tidak menentu seperti yang diambarkan di atas, di mana kaum muslimin berada dalam kondisi perpecahan faham keagamaan yang begitu meluas, Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam sejak dini mengingatkan hal tersebut dengan segala konsekwensi jalan keluarnya:

لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ فِرْقَة،ً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَ ثِنْتَانِ وَ سَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: اَلجَمَاعَةُ

“Sesungguhnya ummatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Satu golongan di dalam surga dan 72 golongan di dalam neraka. Ditanyakan kepada beliau: Siapakah mereka (yang satu golongan) itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: al-Jama`ah” (HR. Ibnu Mājah No: 3992, Ibnu Abī `Āshim No: 63 dan al-Lālikāi 1 / 101)



فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشُ مِنْكُمْ فَسَيَرَى بَعْدِى إِخْتِلَافًا كَثِيْرًا ِو عَلَيْكُمْ بِسُنَتِى وَ سُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِديْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِيْد

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak sekali. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad 4/126, Abū Dāwud: 4607, al-Tirmidzi: 2676 dan dia berkata: Hasan Shahih, Ibnu Mājah: 44, Ibnu Abī ‘Āshim: 4 dan al-Hākim: 95-95)

Sunnah (dalam hadits kedua) dan jama’ah (dalam di hadits pertama) telah menjadi sifat manhaj keselamatan yang diperintahkan Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam untuk dipegang teguh.

Sunnah itu sendiri mempunyai banyak arti, yang hampir semuanya merupakan lingkaran-lingkaran yang terkadang berbeda-beda besarnya, yang masing-masing berada dalam arti yang lainnya. Arti-arti itu dari arti yang terluas sampai arti yang tersempit sebagai berikut:

1. Mencakup seluruh isi agama Islam, al-Qur’an dan al-Hadits, mencakup seluruh keadaan rasul, baik dari segi ilmiah maupun amaliah.

Ibnu Taymiyyah berkata:

“Sunnah adalah syari’at, yaitu apa-apa yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya“ (Majmū’ Fatāwā 4 /436)

2. Sunnah dalam arti lawan dari bid’ah.

Arti inipun masih mencakup seluruh makna, sebab bid’ah adalah lawan dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam bersabda:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ



“Tidak ada satu bid’ah pun yang dilakukan oleh suatu kaum, kecuali dicabut satu sunnah yang semisalnya” (HR. Ahmad 4/105, dan dihasankan oleh al-Suyūthi)

3. Sunnah dalam arti hadits Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam.

4. Sunnah dalam arti ushuluddin yaitu dasar-dasar agama dan aqidah.



Ibnu Rajab berkata:

“Banyak dari ulama mengkhususkan arti sunnah dengan aqidah, karena aqidah adalah dasar agama yang mana setiap penyimpangannya berada dalam bahaya besar“

Banyak pula buku-buku al-Salaf al-Shalih yang berjudul“al-Sunnah” yang berisi ilmu-ilmu aqidah seperti al-Sunnah yang ditulis oleh Abū Bakr al-Atsram, Kitāb al-Sunnah oleh Ibnu Abī ‘Āshim,al-Sunnah oleh Muhammad bin Nāshir al-Mirwāzi, Sharīh al-Sunnah oleh Abū Ja’far al-Thabari dan lain-lain.

5. Sunnah dalam arti nāfilah atau mustahabbah, artinya amal-amal yang apabila dikerjakan berpahala dan apabila kalau ditinggalkan tidak mengakibatkan dosa.



Secara bahasa, arti jama`ah adalah persatuan atau orang-orang yang bersatu. Sedangkan secara istilah, arti jama`ah sama dengan arti bahasa, dengan tambahan “Di atas Sunnah”. Hal ini karena adanya dua kalimat yang berbeda namun mempunyai satu makna, yaitu “Jama’ah” dan “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak shahabat-shahabatku”. Kalimat yang kedua menafsirkan arti jama`ah, dengan demikian arti jama’ah secara istilah adalah “Persatuan di atas sunnah” atau“Orang-orang yang bersatu di atas sunnah”



Dan memang demikianlah keadaan para shahabat dalam kehidupannya. Oleh karena itu, maka arti jama`ah yang berarti “shahabat” adalah benar. Berdasarkan pengertian di atas, maka tafsiran Imam al-Bukhari serta para ulama salaf lainnya dan pengikut pengikut mereka, bahwa jama`ah adalah “kaum ulama sunnah”, termasuk dalam tafsiran-tafsiran yang benar. Arti jama`ah secara syar’i juga berarti “Jama`atul muslimin (jama`ah Ahlus sunnah) yang dipimpin oleh seorang imam”.

Setelah Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam wafatnya, firqah-firqah sesat mulai bermunculan, keluar dari sunnah dan jama`ah. Maka firqah yang tidak keluar dari sunnah dan jama’ah yaitu al-Firqah al-Nājiyyah pun mulai secara resmi menamakan diri mereka dengan “AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH”.

Penamaan ini diambil berdasarkan hadits-hadits tentang iftirāq (perpecahan) ummat serta dariilmu mereka yang meyakinkan bahwa asas dan dasar keselamatan di dunia dan di akhirat adalah berpegang teguh pada sunnah dan jama`ah. Secara singkat mereka juga disebut dengan istilah Ahlus Sunnah.

Untuk lebih jelasnya, definisi Ahlus Sunnah wal Jama`ah adalah:

“Golongan yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan al-Sunnah serta pemahaman dan penerapan para shahabat dalam memahami dan mengamalkan Islam. Termasuk dalam golongan mereka adalah para shahabat, tabi`in, tabi’it tabi`in, para ulama sunnah dan para pengikut mereka (dari semua lapisan ummat) hingga hari kiamat”.

Tidak ada keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali dengan sunnah dan jama’ah. Bahkan tidak ada agama dan sikap keberagamaan yang benar dalam Islam kecuali dengan sunnah dan jama’ah. Demikian pula, tidak akan tercapai masuk syurga, tempat yang diridai AllahSubhanahu Wa Ta’ala dan selamat dari neraka, tempat yang dimurkai-Nya, kecuali dengan menjadi Ahlus Sunnah dan tidak menjadi Ahlul Bid’ah.

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهُُ وَ تَسْوَدُّ وُجُوهُُ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitammuram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu”[QS. Āli Imrān (3): 106]

Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat ini berkata:



يَعْنِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَ الْجَمَاعَةِ وَ تَسْوَدُّ وُجُوهُُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَ الْفُرْقَةِ

“Yaitu pada hari kiamat di saat wajah-wajah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersinar putih dan wajah-wajah ahlul bid’ah dan furqah hitam legam” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/42). [teamhasmi.org]


www.hasmi.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar