Kamis, 09 Juli 2009

Adab Menggapai Bekal Kehidupan

Imam Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:

( وَلَوْ صُوِّرَ الْعِلْمُ صُوْرَةً، لَكَانَتْ أَجْمَلَ مِنْ صُوْرَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ )



“Seandainya keindahan ilmu dapat dilukiskan dalam guratan kanvas, tentu akan lebih indah dari lukisan mentari dan rembulan.”(Rawdhah al-Muhibbīn: 201)



Beliau Rahimahullah juga berkata:



( وَأَمَّا عُشَّاقُ الْعِلْمِ فَأَعْظَمُ شَغْفًا بِهِ وَعِشْقًا لَهُ مِنْ كُلِّ عَاشِقٍ بِمَعْشُوْقِهِ، وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ لاَ يَشْغَلُهُ عَنْهُ أَجْمَلُ صُوْرَةٍ مِنَ الْبَشَرِ )

“Adapun orang-orang yang merindukan ilmu, maka

kerinduan mereka jauh lebih besar dari kerinduan para

perindu lainnya terhadap kekasihnya. Karena banyak di antara

mereka (yang merindukan ilmu), tiada sedikitpun tergoda oleh

kecantikan ataupun ketampanan seseorang.” (Rawdhah al-Muhibbīn: 69)

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ



Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan.” [QS. al-‘Alaq (96): 1]



Ungkapan iqra’ yang menggunakan bentuk fi’il amr (kata kerja perintah) dalam ayat tersebut memberikan pe-tunjuk dan kandungan makna yang sangat mendalam, yaitu perintah yang pasti untuk banyak membaca, sekali-gus sebagai hatsts (anjuran) untuk be-lajar dan juga mengajar.

Dan hal ini sudah sangat mencu-kupi untuk mengkaji permasalahan ilmu, tanpa harus berpanjang kata.



Di samping itu, untuk memperkuat perintah tersebut, maka Allah sw pun menganjurkan untuk mendapatkan tambahan ilmu, dalam firman-Nya:



“…dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempur-nakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkan-lah kepadaku ilmu pengetahuan.” [QS. Thāhā (20): 114]

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:

( وَكَفَى بِهَذَا شَرَفًا لِلْعِلْمِ، أَنْ أَمَرَ نَبِيَّهُ أَنْ يَسْأَلَ الْمَزِيْدَ مِنْهُ )

“Dan cukuplah ayat ini menjadi bukti bagi kemuliaan ilmu, bahwa Allah meme-rintahkan Nabi-Nya untuk meminta tam-bahan ilmu.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:



( أَيْ: زِدْنِيْ مِنْكَ عِلْمًا، قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: وَلَمْ يَزَلْ فِي زِيَادَةٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ



“Maksudnya: Ya Allah, tambahkan-lah kepadaku ilmu dari-Mu. Ibnu ‘Uyay-nah berkata: Dan Rasulullah senantiasa memohon tambahan ilmu hingga beliau wafat!”

Oleh karena itu, maka ada yang berpendapat



( مَا أَمَرَ اللهُ رَسُوْلَهُ بِطَلَبِ الزِّيَادَةِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ فِي الْعِلْمِ )

“Allah tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan apa-pun, kecuali tambahan ilmu!”

Pelita Penerang (Adab-Adab) Dalam Mencari Ilmu.

Di antara adab-adab yang harus di-perhatikan dalam mencari atau menun-tut ilmu adalah:



1. Taqwa Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Murā-qabah (Merasa Diawasi) Oleh-Nya.



Yaitu beristi’ānah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan taat dan khasyyah tunduk ta-kut) kepada-Nya, baik dalam belajar maupun dalam menghafal.

Imam asy-Syafi’iy Rahimahullah berkata:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِـي

فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصـِى

اِعْـلَمْ بِأَنَّ الْـعِـلْـمَ فَـضْلٌ

وَفَـضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتِيْهِ لِلْعَاصِـي



Aku mengadu kepada Waki’ (guru beliau) mengenai buruknya hafalanku

Maka beliau menyarankan kepada-ku agar meninggalkan maksiat

Ketahuilah, bahwa ilmu adalah ka-runia

Dan karunia Allah, tak akan dibe-rikan kepada orang yang bermaksiat

Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu berkata:



( إِنِّي َلأَحْسَبُ الرَّجُلَ يَنْسَى اْلعِلْمَ كَانَ يَعْلَمُهُ بِالْخَطِيْئَةِ يَعْمَلُهَا )



“Saya beranggapan bahwa seseo-rang melupakan ilmu yang telah dipe-lajarinya adalah karena kesalahan (mak-siat) yang dikerjakannya.”



2. Mengatur dan Memenej Waktu Dengan Baik.



Di antara sifat atau karakter utama yang harus dimiliki seorang pencari ilmu adalah memanfaatkan waktu de-ngan baik, menyusun kewajibannya dengan cermat dan mampu membe-rikan porsi yang layak sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Sering diungkapkan:



( العُمْرُ قَصِيْرٌ، وَاْلعِلْمُ كَثِيْرٌ، فَلاَ يُضِيْعُ اْلأَوْقَاتِ وَالسَّاعَاتِ، وَيَغْتَنِمُ اللَّيَالِيَ وَالْخَلَوَاتِ )



“Umur sangatlah pendek, sedang-kan ilmu sangat berlimpah. Maka ja-nganlah menyia-nyiakan waktu dengan percuma, serta manfaatkanlah dengan baik waktu malam dan waktu kosong.”

Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata:



( اللَّيْلُ طَوِيْلٌ فَلاَ تَقْصُرْهُ بِمَنَامِكَ، وَالنَّهَارُ مُضِيْءٌ فَلاَ تُكَدِّرْهُ بِآثَامِكَ )



“Waktu malam sangatlah panjang, maka jangan kau persingkat dengan tidurmu. Waktu siang sangatlah terang, maka jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu.”



3. Himmah (Tekad Kuat) dan Jiddiy-yah (Antusiasme).



Dua hal ini merupakan tali kekang atau kendali yang mampu menuntun jiwa untuk menyongsong kemuliaan, meredam sikap malas dan menunda-nunda, serta mendatangkan sabar, te-kun dan kerja keras.

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:

( فَإِنَّ الْعَزِيْمَةَ وَالْمَحَبَّةَ تُذْهِبُ الْمَشَقَّةَ، وَتُطَيِّبُ السَّيْرَ )

“Sesungguhnya tekad kuat dan cinta dapat mengenyahkan kesulitan dan memperindah jalan (berliku).”

Seorang penyair berkumandang:

بِـقَدْرِ الْكَدِّ تُكْسَـبُ اْلمَعَالِـي

وَمَنْ طَلَبَ اْلعُلاَ سَهَرَ اللَّيَالِـيْ

تَـرُوْمُ الْـعِزَّ ثُمَّ تَنَـامُ لَيْـلاً

يَغُوْصُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ الَّلآلِيْ



Kemuliaan digapai dengan susah payah

Barangsiapa mencari kemuliaan, harus banyak begadang malam

Kau kejar kemuliaan dengan banyak tidur di malam hari

Adalah bagaikan menyelam di la-utan untuk mencari mutiara

Yayhya bin Abi Katsir Rahimahullah berkata:

( لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ )

“Ilmu tidak akan diperoleh hanya dengan bersantai ria (malas-malasan)!”





4. Tadarruj (Bertahap).



Tadarruj yang dimaksud ada dua macam, yaitu:

a. Tadarruj Kammiy (bertahap dalam porsi belajar).



Yaitu memberikan porsi jam atau kurikulum pelajaran (ilmu yang harus diserap) sesuai dengan kadar kemam-puan. Oleh karena itu, seorang ustadz tidak boleh banyak memberikan ilmu kecuali sesuai dengan kemampuan muridnya.



az-Zuhriy Rahimahullah menasehati muridnya, Yunus bin Zayd Rahimahullah dengan berkata:



( يَا يُوْنُسُ، لاَ تُكَابِرِ الْعِلْمَ فَإِنَّ الْعِلْمَ أَوْدِيَةٌ، فَأَيُّهَا أَخَذْتَ فِيْهِ قَطَعَ بِكَ قَبْلَ أَنْ تَبْلُغَهُ، وَلَكِنْ خُذْهُ مَعَ اْلأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ، وَلاَ تَأْخُذِ الْعِلْمَ جُمْلَةً، فَإِنَّ مَنْ رَامَ أَخْذَهُ جُمْلَةً ذَهَبَ عَنْهُ جُمْلَةً، وَلَكِنَّ الشَّيْءَ بَعْدَ الشَّيْءِ مَعَ اْلأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ )



“Wahai Yunus, janganlah engkau menantang ilmu, karena ilmu adalah lembah-lembah. Lembah mana saja yang engkau tempuh, niscaya sebelum sampai engkau pun akan berhenti me-nyusurinya. Oleh karena itu, susurilah lembah (ilmu) dengan sabar dan tekun seiring waktu. Janganlah engkau me-ngambil ilmu sekaligus. Barangsiapa menggapai ilmu sekaligus, niscaya akan hilang seluruhnya (tidak dapat ilmu sedikitpun). Yang benar, gapailah se-suatu secara bertahap, seiring perja-lanan waktu!”



b. Tadarruj Kayfiy aw Naw’iy (bertahap dalam metode).



Yaitu memulai menuntut ilmu dari yang mudah, ringan dan sederhana, baru kemudian mempelajari ilmu yang lebih sulit, detail dan menyeluruh.

Contohnya dalam aqidah; dengan mempelajari Ushūl ats-Tsalātsah, kemu-dian Kitāb at-Tawhīd, baru kemudian al-‘Aqīdah ath-Thahāwiyyah.

Dalam fiqih; dengan mempelajari al-‘Umdah, kemudian al-Muqni’, baru kemudian al-Mughnī.

5. Menjaga Atau Memelihara Ilmu Dengan Beramal.



Karena amal adalah buah dari ilmu, maka tidak ada kebaikan bagi ilmu apabila tidak mewariskan amal pada diri yang memiliki ilmu tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:



وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ





“Siapakah yang lebih baik perkataan-nya daripada orang yang menyeru ke-pada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” [QS. Fushshilat (41): 33]

Sufyan Rahimahullah berkata:

( يَهْتِفُ اْلعِلْمُ بِالْعَمَلِ فَإِنْ هُوَ أَجَابَهُ، وَإِلاَّ ارْتَحَلَ )

“Ilmu memanggil untuk beramal. Apabila panggilan tersebut dipenuhi, kekallah ilmu. Bila tidak, maka ilmu pun akan lenyap!”

Apabila seorang yang berilmu mau mengamalkan ilmunya, maka dia ada-lah seorang faqih, sebagaimana Rasulullah sa bersabda:

(( مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا، يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ. ))

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Allah akan memahamkan agama kepadanya.” (HR. al-Bukhāriy No. 71 dan Muslim No. 1037).



Seandainya ilmu diibaratkan sebuah pohon, maka amal adalah buahnya. Kemuliaan dan kemanfaatan sebuah pohon tidak dapat dirasakan kecuali dengan adanya buah. Apabila sebuah pohon tidak berbuah, maka keberada-anyapun tidak akan kekal.



6. Di Samping Mempelajari Ilmu, Jangan Lupa Mempelajari Adab (Mencari Ilmu).

Ibnu Sirin Rahimahullah berkata:

( كَانُوْا يَتَعَلَّمُوْنَ الْهُدَى كَمَا يَتَعَلَّمُوْنَ اْلعِلْمَ )

“Mereka (salaf) mempelajari petun-juk (adab) seperti mereka mempela-jari ilmu.”

Mukhallad bin al-Hasan Rahimahullah berkata:

( نَحْنُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنْ حَدِيْثٍ! )

“Kami lebih banyak membutuhkan adab daripada mendengar hadits!”



7. Dari Ujung Pena Hingga Liang Lahat (Kuburan).



Mencari ilmu tidak ada batas waktu berakhirnya, bahkan tidak akan ada ijazah yang membanggakan penuntut-nya, karena ia senantiasa ingin menam-bahnya.

Ibnu ‘Abbas Rahimahullah berkata:

( وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمُ مِنِّيْ بِكِتَابِ اللهِ تَبْلُغُهُ اْلإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ )

“Seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih pintar tentang al-Qur’an dari diriku, dan kediamannya dapat dijangkau dengan naik unta, maka akupun akan menemuinya (un-tuk belajar).”

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya:

( إِلَى مَتَى تَطْلُبُ الْعِلْمَ؟ قَالَ: مِنَ اْلمَحْبَرَةِ إِلَى اْلمَقْبَرَةِ )

“Sampai kapan anda mencari ilmu? Dijawab: Dari guratan pena hingga ke lubang kuburan!”



8. Berkawan Dengan Teman Yang Baik.



Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

(( اْلمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ ))

“Seseorang tergantung agama kawan karibnya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidziy, Abū Dāwud dan al-Bayhaqiy. al-Albāniy dalam al-Misykāh menilainya sebagai hadits hasan)



9. Bermusyawarah.

Karakter ini merupakan sifat utama bagi para pencari ilmu yang mau me-ngikuti bimbingan imam mereka, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam yang diperintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk:

“…dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu….” [QS. Āli ‘Imrān (3): 159]

“…sedang urusan mereka (diputus-kan) dengan musyawarah antara me-reka….” [QS. asy-Syura (42): 38]

al-Hasan Rahimahullah berkata:

( وَاللهِ، مَا اسْتَشَارَ قَوْمٌ قَطُّ إِلاَّ هُدُوا ِلأَفْضَلِ مَا بِحَضْرَتِهِمْ )

“Demi Allah, tidak ada suatu kaum yang bermusyawarah, melainkan mereka akan dapat menemukan jalan keluar yang lebih baik!”

Seorang bijak berkata:

( اْلاِسْتِشَارَةُ عَيْنُ اْلهِدَايَةِ، وَقَدْ خَاطَرَ مَنِ اسْتَغْنَى بِرَأْيِهِ، وَمَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ )

“Bermusyawarah adalah inti hidayah. Seseorang yang berpegang kepada penda-patnya semata-mata, maka ia berada dalam bahaya. Tidak akan rugi orang yang ber-istikharah dan tidak pula akan menyesal orang yang bermusyawarah!”



10. Berguru Kepada Para Ulama.



Ini adalah jalan atau metode terbaik, yaitu agar para pencari ilmu berguru secara langsung kepada para ulama, sehingga mereka dapat menghimpun ilmu, amal, ketaqwaan dan sikap wara’ dari guru-gurunya.



Metode ini memiliki banyak faedah, di antaranya:

a. Meneladani jejak as-salaf ash-shalih.

b. Mempersingkat waktu untuk men-cari solusi dalam berbagai masalah yang muncul, seperti tentang cara berinteraksi dengan karya-karya ilmiah yang hendak dipelajari.

c. Dapat meneladani atau mencontoh akhlak para ulama, maka hendak-nya seorang pencari ilmu pandai-pandai memilih gurunya.

Ibnu Wahab Rahimahullah berkata:

( مَا نَقَلْنَا مِنْ أَدَبِ مَالِكٍ أَكْثَرُ مِمَّا تَعَلَّمْنَا مِنْ عِلْمِهِ )

“Apa yang kami ambil dari adab Imam Malik, jauh lebih banyak dari ilmu yang kami pelajari darinya.”

Referensi:

· Ādāb Thālib al-‘Ilm karya Syaykh Dr. Anas Ahmad Karzūn.

· Hilyah Thālib al-‘Ilm karya Syaykh Dr. Ba-kar bin ‘Abdillah Abu Zayd.

· Kitab al-‘Ilm karya Syaykh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaymīn Rahimahullah.

· Ma’ālim fī Tharīq Thalab al-‘Ilm karya Syaykh ‘Abd al-‘Azīz bin Muhammad as-Sadhān.

· al-Musyawwiq ilā al-Qirā’ah wa Thalab al-‘Ilm karya Syaykh ‘Ali bin Muhammad al-‘Imrān.

· ar-Ra’id karya Syaykh Mazin bin ‘Abd al-Karim.

· Syarh Hilyah Thālib al-‘Ilm karya Syaykh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaymīn Rahimahullah. (teamhasmi.org)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar