Selasa, 07 Juli 2009

PENGADILAN

Ceritanya ada seorang pemuda yang diajukan ke pengadilan dengan tuduhan yang lumayan bikin heboh : menampar dan memukul seorang nenek di dalam kereta api jurusan Jakarta-Surabaya sampai nenek tersebut terluka parah dan pingsan.

Hakim yang memimpin persidangan berkata kepada si pemuda, "Sekarang coba Anda ceritakan apa saja yang sebenarnya terjadi secara lengkap dan detail. Bayangkan... kok Anda kejam sekali ya, tega-teganya menampar dan memukuli nenek-nenek sampai luka parah dan pingsan!"

Pemuda itu pun memulai. "Begini Pak Hakim. Tiga hari yang lalu saya naik kereta jurusan Jakarta-Surabaya dari Stasiun Gambir. Saya duduk berhadapan dengan seorang nenek tua. Kereta berangkat dan beberapa saat kemudian sampai di stasiun Jatinegara. Nah di stasiun Jatinegara ini kereta berhenti untuk pemeriksaan karcis... Kondektur pun datang ke gerbong tempat saya berada, dan tak lama kemudian menanyakan tiket saya. Saya langsung tunjukkan ke dia".

"Kemudian giliran dia meminta tiket si nenek. Nah si nenek mengeluarkan handbag dari kopernya, terus dari dalam handbag itu dia mengeluarkan dompet besar, dari dompet besar itu dia mengeluarkan dompet kecil. Dari dompet kecil itu dia mengeluarkan bungkusan, terus dia buka bungkusan itu dan ternyata masih ada bungkusan yang lebih kecil.
Bungkusan kecil itu dia buka, dan di dalamnya ada kotak korek api. Rupanya dia menyimpan tiketnya di kotak korek api itu.
Setelah diperiksa pak kondektur, dia menaruh tiketnya lagi ke kotak korek api itu, lalu kotak korek api dibungkus lagi pakai bungkus kecil itu, lalu bungkus besar, lalu ditaruh dalam dompet kecil, lalu dalam dompet besar, lalu dompet besar itu dimasukkan kembali ke dalam handbag, lalu handbag-nya dimasukkan lagi ke kopernya...".

"Kita pun meneruskan perjalanan. Perhentian berikutnya di stasiun Bekasi. Di sana juga sama, ada pemeriksaan karcis oleh kondektur. Saya dengan cepat diperiksa tiketnya, sementara nenek itu mengeluarkan handbag dari kopernya, terus dari dalam handbag itu dia mengeluarkan dompet besar, dan dari dompet besar itu dia mengeluarkan dompet kecil. Lalu berturut-turut keluar bungkusan besar, lalu bungkusan kecil yang di dalamnya masih ada kotak korek api. Tiket dia keluarkan dari kotak korek api, diperiksa kondektur, lalu masuk lagi kotak korek api, bungkusan kecil, bungkusan besar, lalu dompet kecil, dompet besar, handbag, dan akhirnya masuk koper lagi...".

"Kereta jalan terus, dan kita sampai di stasiun Karawang. Lagi-lagi ada pemeriksaan tiket. Tiket saya cepat diperiksa, sementara si nenek itu mengeluarkan handbag dari koper, lalu dompet besar, lalu dompet kecil, lalu dari dalam dompet kecil dia mengeluarkan....".

Belum sempat si pemuda selesai, hakim keburu membentaknya. "Hei kamu, jangan main-main ya!! Kamu ini cerita atau ngomong yang bukan-bukan??? Ini pengadilan tahu!!!".

Langsung saja pemuda itu menyambar, "Naaah lihat kan, Bapak Hakim baru mendengar cerita yang cuma segini saja sudah marah. Sekarang bayangkan saya yang mesti MENYAKSIKAN HAL SEPERTI INI SEPANJANG
PERJALANAN DARI JAKARTA KE SURABAYA !!!".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar