Sabtu, 04 Juli 2009

Kepada Engkau, aku berharap...

Seorang hamba itu kembali bersimpuh kepada Rabb nya. Jauh ditengah malam. Dalam keheningan dan kedamaian. Sebelum ia memulai sholat tahajud nya, telah menjadi kebiasaannya untuk duduk sebentar dan merenung dalam muhasabah. Ia pandangi istri dan anaknya yang sedang tertidur pulas, satu persatu. Dalam hatinya terlintas sesuatu yang menyatakan bahwa istri dan anak-anak nya lah yang begitu berharga dalam hidupnya. Mereka adalah anugerah Rabb nya yang begitu membahagiakan. Ia tidak ingin kehilangan mereka. Di saat itu juga, ia teringat akan segala usahanya. Begitu berharga nya jika usaha itu tetap berjalan langgeng tanpa ada hambatan sesuatupun yang menjadikan dirinya cukup dan merasa mapan.

Ia teringat akan suatu ayat. Salah seorang teman SMA nya mengingatkannya siang tadi. Sebuah ayat Al Quran dari surat Maryam yang begitu indah. Satu-satunya surat yang Allah SWT namakan dengan nama seorang wanita yang begitu agung. Hanya satu dan tiada yang lain. Ia teringat akan ayat-ayat awal dari surat Maryam yang telah lama ia hafal. Setiap akhir ayat yang selalu diakhiri dengan lafal kata yang sama dan sangat puitis. Awal ayat yang dibuka dengan cerita mengenai seorang nabi yang begitu sabar dalam menghadapi ujian Allah SWT. Seorang Nabi yang tidak pernah kecewa dalam memohon kepada Rabb nya selama bertahun-tahun sampai dengan usia tua. Terus meminta dan berharap akan Allah SWT memberinya seorang putra yang akan mewarisinya.

“Ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhan mu kepada hamba-Nya Zakariya. Yaitu saat ia berdoa kepada Rabb nya dengan suara yang lembut dan lirih.” (QS Maryam [19]:2-3)

Sampai disini ia terhenti. Air mata nya mulai menggenangi kelopak matanya. Ia kemudian melanjutkan kembali hafalannya.

“Zakaria berkata, “ Ya Rabb ku sesungguhnya tulangku telah lemah, dan kepalaku telah ditumbuhi uban, tetapi aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku” (QS Maryam [19]: 4).

Ia tak tahan lagi. Saat ini air matanya benar-benar mengalir deras. Kata-kata terakhir ayat itu yang begitu indah yang membuatnya limbung. Zakariya memanggil Rabb nya dengan kata yang dalam bahasa arab tersebut: “Rabbi Syakiyya” Suatu kata yang tidak dijumpai di ayat lain di Al Quran kecuali di ayat ini. Panggilan lirih seorang hamba kepada Tuhannya. Panggilan yang penuh kepasrahan yang menyadari bahwa walaupun Zakariya seorang Nabi, ia tidak berdaya dan jauh dari kesempurnaan di depan Rabb nya.

Ia berdiri untuk memulai sholat tahajudnya. Air matanya telah mengalir deras. Dalam sujud-sujud nya yang panjang ia selalu berdoa, untuk nya, untuk istri dan anak-anak nya, untuk kedua orang tuanya. Untuk kedua mertua nya. Semua tak terlewatkan olehnya. Diantara rakaat-rakaatnya kadang ia berhenti dan bermuhasabah.

Di akhir sholatnya, setelah salam, ada yang terlintas dalam pikirannya yang dibenarkan oleh hatinya. Bukankah yang paling berharga dalam hidup ini adalah hidayah Allah? Hidayah untuk menapaki jalan Nya yang lurus. Jalan yang Allah SWT ridhai. Bisa jadi harta yang banyak adalah suatu nikmat, tapi apakah itu suatu yang sangat berharga dalam hidup ini? Begitu banyak orang yang tidak bahagia justru disaat ia memiliki harta yang melimpah? Begitu banyak orang yang tidak memiliki harta tapi itu tidak menjadikannya terhalang dari memperoleh kebahagian? Justru dengan hidayah Allah, disaat seorang hamba memiliki kekayaan, dia akan banyak bersyukur, tapi disaat ia dalam kesempitan, ia akan banyak bersabar. Demikian dengan istri dan anak-anak nya. Istri dan anak-anak adalah suatu nikmat yang berharga dari Allah SWT baginya. Tapi apakah itu yang paling penting? Kadang anak-anak mengecewakannya. Kadang istri nya juga tak sesuai dengan harapannya. Tapi bukankah dengan hidayah Allah, ia akan merasa istri dan anak-anak itu hanyalah amanah Allah yang kadang memiliki kelebihan dan kekurangan? Bukankah dengan hidayah Allah, amanah-amanah Allah SWT tersebut harus selalu dijaga, dibimbing dan disayangi dengan sepenuh hati? Bukankah dengan hidayah Allah SWT, jalan kehidupan itu cukup memiliki bekal? Itulah yang dirasakannya. Pantaslah Allah SWT, sang Rahman, meminta hamba Nya untuk selalu memohon di 17 rakaat sholat sehari semalam. Hanya untuk meminta hidayah Nya. “Ihdinnas sirratal mustaqim” Karena itulah yang terpenting dalam hidup ini. Apapun ujian yang Allah berikan, senang atau susah, kaya atau miskin, kecewa atau bahagia, semuanya tak berarti apa-apa dengan hidayah Allah. Sesuatu yang amat menenangkan dan membahagiakan.

Ia kembali berdoa sebagai penutup rangkaian ibadah malamnya. “Ya Allah, di hari kelahiran ku ini, sebelum seorangpun memberikan selamat kepadaku, aku bersimpuh dihadapan Engkau. Sesungguhnya aku bermohon kepada Engkau dengan kemuliaan Engkau, dan kehinaanku. Demi kekayaan Engkau dan kemiskinanku. Demi kekuasaan Engkau dan ketidakberdayaanku, sudilah kiranya Engkau Mengasihiku di setiap relung-relung kehidupanku. Aku tidak tahu berapa lama lagi Engkau memberiku kesempatan untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini, tapi yang pasti, sisa hari untuk bertemu dengan Engkau makin berkurang. Itu yang membahagiakanku. Ya Rabb aku ingat sabda Rasul Engkau yang mulia, “Dunia ini adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir. (HR Muslim)” Penjara yang selalu menghalangiku untuk bertemu dan memandang wajah Engkau dan merasakan kenikmatan hidup yang kekal. Tidak mengapa bagiku ya Rabb. Anugerahkanlah kepadaku hidayah Engkau agar aku selalu menapaki jalan yang lurus. Kuatkan kesabaranku dalam menghadapi segala ujian Engkau dan keikhlasan untuk selalu taat kepada Engkau. Disaat Engkau berikan aku nikmat kelapangan dan kebahagiaan, ajari aku untuk menjadi hamba Engkau yang bersyukur. Disaat Engkau berikan aku kesempitan dan kesulitan, ajari aku untuk menjadi hamba Engkau yang sabar.”

Ia teringat akan suatu doa sahabat Rasulullah saw yang agung, Abu Bakr As Shiddiq disaat ia berusia 40 tahun. Allah SWT mengabadikan doanya di Al Quran QS Al Ahqaaf [46]:15, “…Ya Tuhanku, tunjukillah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua ibu bapak ku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku yang akan mengalir sampai ke anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk hamba Engkau yang berserah diri.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar