Rabu, 01 Juli 2009

Kenapa Aku Tak Memperoleh Apa yang Aku Inginkan?

Seorang hamba itu termenung memikirkan apa yang telah ia lalui. Sesuatu yang sangat melelahkan. Sesuatu yang telah diniatkan dengan baik, diusahakan dengan sungguh-sungguh dengan segala daya upaya, tapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya. Seolah-olah Allah menutup pintu ketika hamba-Nya itu berusaha untuk membukanya. Ia dengarkan suara hatinya. Ia ambil mushaf yang agung dan mulai membacanya. Tanpa sadar jemarinya menuju suatu surat yang sarat dengan makna.

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas dimuka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy Syuura [42]:27)

Ia kembali teringat akan suatu hadish yang dibacanya tadi malam sebelum tidur, suatu yang menjadi penguat dirinya menghadapi persoalan hidup.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berkata, “Allah Azza wa Jalla berfirman dalam hadish qudsi, ‘Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat-Ku.’” Rasulullah melanjutkan, “Demi Allah, Allah SWT lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang diantara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang ketika ia sibuk mencarinya kesana dan kemari, secara tiba-tiba unta itu muncul dihadapannya. Allah, Azza wa Jalla berfirman, ‘Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.’” (Muafaqun Alaihi)

Maha Benarlah Allah. Dia menurut sangkaan hamba-Nya. Jika hamba-Nya berburuk sangka kepada-Nya, maka seperti itulah keadaannya. Tapi Allah SWT menegaskan di dalam Al Quran: “Allah tiada pernah menzalimi manusia sedikitpun.” (QS Yunus [10]:44). Jika hamba-Nya itu berbaik sangka kepada-Nya dan berusaha dengan amal shaleh, maka Allah akan memberi suatu penghidupan yang baik kepadanya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl [16]:97)


“Kehidupan yang baik” pada ayat diatas bukanlah berarti kehidupan mewah yang luput dari ujian, tetapi ia adalah kehidupan yang menentramkan yang diliputi rasa lega, kerelaan, serta kesabaran dalam menerima ujian dan rasa syukur atas segala yang diperoleh. Sesuatu yang jauh dari rasa takut yang mencekam akan apa yang datang dihadapan atau kesedihan yang melampaui batas atas apa yang telah dilewati. Sesuatu yang tidak pernah menggoyahkan jiwa, kapanpun dan seperti apapun.


Wallahu ‘alam bissawab…

http://edakwahkita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar