Rabu, 01 Juli 2009

Hamba yang Bankrut

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu diantaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan” (QS An Nahl [16]:92)

Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “wahai sahabat-sahabatku tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Salah seorang sahabat Nabi menjawab, “Ya Rasulullah, orang yang bangkrut itu adalah orang yang mengalami kerugian akan harta bendanya sehingga ia tidak memiliki apa-apa lagi.” “Tidaklah demikian wahai sahabatku.” Jawab Nabi saw. “Orang yang bankrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala sholatnya, puasanya, zakatnya, sedekahnya, wakafnya, hajinya dan umrohnya; tetapi ketika seluruh pahala kebaikannya itu ditimbang dihadapan Allah SWT, datanglah istrinya yang mengadukan kezaliman yang diterimanya ketika hidup di dunia dahulu. “Ya Allah dahulu aku selalu mendapat perlakukan kasar darinya dan ia selalu menyakitiku.” Maka Allah menyuruh agar orang itu membayar kepada istrinya dengan sebahagian pahalanya. Kemudian datang lagi anaknya mengadukan kezaliman yang diterimanya kepada Allah SWT. “Ya Allah dahulu ketika aku hidup di dunia, ayahku ini memperlakukanku dengan tidak adil. Ia melebihkan saudaraku yang satu dari diriku. Disaat aku dalam kesulitan, ia tidak memperdulikanku walaupun aku selalu berbakti kepadanya.” Maka Allah menyuruh orang itu membayar kepada anaknya dengan sebahagian pahalanya. Kemudian datang lagi orang lain yang mengadukan kepada Allah. “Ya Allah dahulu ia menyebarkan berita bohong (fitnah) tentang diriku.” Maka Allah menyuruhnya lagi untuk membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu. Kemudian datang lagi orang yang lain yang mengadukan kezalimannya, sampai akhirnya seluruh pahala shalat, haji, umroh, puasa, zakat, sedeqah, dan wakafnya itu habis dipakai untuk membayar orang-orang yang pernah ia zalimi dan ia rampas hak-hak mereka sewaktu ia hidup di dunia. Sementara itu orang-orang yang mengadu masih saja datang. Maka Allah ‘Azza wa Jalla dengan adil memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kezaliman yang pernah ia lakukan ketika di dunia dahulu.”

Rasulullah melanjutkan, “Itulah orang yang bankrut. Ia rajin beribadah tetapi ia tidak memiliki akhlak yang baik. Ia banyak melakukan ketidakadilan, merampas hak orang lain, dan banyak menyakiti hati orang lain.” (HR At Tirmidzi)

Ketika Rasulullah saw dalam keadaan sakit di akhir hayatnya, Nabi berkata kepada seluruh istri-istrinya, Fatimah Az Zahra putrinya, sahabat-sahabatnya yang ada disekelilingnya, “Jika aku pernah melakukan kezaliman kepada kalian walau sebesar biji zarrah (biji sawi), balasnya kepadaku saat ini. Janganlah kalian datang kelak di hari kiamat kepada Allah SWT untuk menuntutku sesuatu perbuatan yang merugikan kalian di dunia ini.” Seluruh yang hadir hanya terdiam. Dalam suasana keheningan tersebut, seorang sahabat berkata. “Ya Rasulullah, izinkan aku menuntut balas darimu. Ketika aku dahulu masih kafir, dalam perang Badar, Engkau tanpa sengaja menarik bajuku hingga robek dan memukul pundakku dengan pedang. Aku ingin membalasnya ya Rasulullah.” Para yang hadir terkejut . Ketika itu Umar bin Khatab marah dan berkata, “Biarkan aku membawanya keluar ya Rasulullah, ia telah berlaku tidak sopan terhadap Engkau. Tidak pernah kami merasakan suatu kezalimanpun walau kecil yang Engkau lakukan terhadap kami.” Rasulullah tersenyum. Rasulullah saw melonggarkan bajunya sehingga terlihatlah dadanya yang bersih. Rasulullah berkata, “Lakukanlah wahai sahabatku. Aku ridha.” Semua yang hadir menangis melihat kejadian itu. Sahabat itu mendekati Rasulullah dan dengan tiba-tiba ia langsung memeluk Rasulullah sambil berurai airmata. “Wahai Rasul Allah, kulakukan ini karena sepanjang hidupku, aku ingin sekali memeluk dirimu. Hari ini aku bahagia telah melakukannya. Maafkan aku ya Rasulullah.” Ia menangis tersedu dan Rasulullah menghiburnya. “Temui aku kelak di telaga Al Kautsar wahai sahabatku.”

(Dari buku “Muhammad” karya Abu Bakr Siraj al-Din)

http://edakwahkita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar