Sabtu, 04 Juli 2009

Aku bagai Seorang Musafir…

“Dan janganlah kamu hadapkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka (berupa anak-anak, harta dan kekuasaan), sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan mu adalah lebih baik dan lebih kekal. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Q.S. Thaahaa [20]: 131-132)

Suatu hari ketika Rasulullah saw selesai mengimami sholat berjamaah, Rasulullah bangkit. Ketika itulah terdengar suara berderak keras seperti tulang yang patah. Sahabat terkejut dan bertanya, “Ya Rasulullah, bunyi apakah itu?” Rasulullah menunjuk ke arah perutnya. Rasulullah memperlihatkan kepada para sahabatnya bahwa beliau mengganjal perutnya dengan batu yang diikatkan dengan seutas ikat pinggang. Hal ini dilakukan untuk menahan rasa lapar. Para sahabat meneteskan air mata.

Melihat keadaan ini Rasulullah menghibur para sahabatnya, “Wahai para sahabatku, Allah mengharamkan bagi diriku dan keluargaku untuk menerima sedeqah. Hidupku di dunia ini adalah bagai seorang musafir yang sebentar berteduh dibawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya. Perbandingan kehidupan dunia ini dengan akhirat adalah seperti seorang diantara kalian yang memasukkan jari tangannya ke dalam lautan. Lautan itu adalah kehidupan akhirat sedang air yang menempel pada jarinya adalah kehidupan dunia. Perhatikanlah apa yang ia peroleh! Air yang menempel di jarinya tersebut akan menetes habis sedang lautan itu akan kekal berada. Janganlah kalian menumpuk harta, karena akan mengakibatkan kalian sangat mencintai dunia” (HR Muslim dan At Trimidzi)

Disaat yang lain Rasulullah bersabda, “Perhatikanlah orang yang berada dibawahmu (dalam hal harta dan kekuasaan) dan jangan kamu memperhatikan orang yang berada diatasmu (dalam hal harta dan kekuasaan), karena yang demikian adalah lebih pantas, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah SWT yang telah dikaruniakan-Nya kepadamu." (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar