Sabtu, 04 Juli 2009

UNTUK KITA RENUNGKAN

UNTUK KITA RENUNGKAN

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat 2X

Kita mesti berjuang, memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini
Berusahala agar Dia tersenyum 2X

Masih ingatkah bait syair sebuah lagu Ebiet G. Ade (1 lagu dari 141 koleksi lagu), yang masih sering disenandungkan, sering kita dengar, walau jarang kita renungkan?

Kita mencoba mengkaji makna yang tersirat ataupun tersurat dalam lagu tersebut dalam aktifitas keseharian.

“KITA MESTI TELANJANG”.

Karena kita harus mandi setelah bangun tidur untuk melakukan sholat subuh yang tentunya harus benar2 bersih. Namun, apa yang sering kita lakukan adalah hanya berwudhu untuk melakukan sholat Subuh. Adapun mandinya menjelang berangkat kerja dengan harapan badan lebih fresh.

Jangankan untuk suci di dalam batin, sementara suci lahir pun belum bisa kita laksanakan. Belum lagi ketika kita mengangkat tangan saat takbiratul ihram, kita berniat untuk sholat, dilanjutkan dengan do'a iftitah yang di dalamnya kita ucapkan “inna sholati wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillahi robbil ‘alamin…”.

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah, Robb semesta alam”.

Tidak lain, itu hanyalah bagian dari gerakan mulut kita, namun hati dan pikiran kita ke mana-mana. Kita teringat sarapan yang belum tersedia, kita harus pergi kerja lebih awal agar tidak terlambat, dan lain sebagainya.

Setelah salam kita berdo'a : “…robbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzabannar”. Q.S. Al-Baqarah (2) : 201.

Tidak lain adalah do'a sapu jagat yang intinya meminta kebaikan dunia dan akhirat, dan dihindarkan dari siksa api neraka.

Cobalah kita berpikir, patutkah kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung, sementara kita sholat masih belum bersih lahir dan batin, serta masih berpikir macam2 dalam sholat kita.

Kita berangkat kerja seiring dengan do'a, “bismillahi tawakkaltu ‘alallah…”.

Di tengah perjalanan lalu lintas macet karena salah satu mobil menyerobot dan terjepit di antara mobil-mobil yang lain. Dalam hati kita bergumam betapa egoisnya supir mobil tersebut, tidak pernah memikirkan kepentingan orang lain. Seakan kita selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan kita sendiri.

Di kantor kita lihat atasan sedang kebingungan di depan komputer dan selalu bertanya pada staffnya, bagaimana cara menjalankan Microsoft Office. Dalam hati kita berkata, “ah… ternyata bener juga kata orang bahwa dia jadi atasanku karena ada KKN, habisnya pakai Microsoft Office aja nggak bisa”.

Tak lama kemudian anak buah datang menyerahkan data untuk bahan presentasi kita yang kita tolak karena cara mendapatkan datanya salah. Sekali lagi kita bergumam dalam hati kita, “apa saja yang dipelajari waktu sekolahnya sih…. toh dia lulusan dari sekolah terkenal dan nilai rata2 nya lebih tinggi dariku, tapi kenapa sebodoh itu...”.

Sepintas terlihat ada karyawati baru yang menarik perhatian. “Dia cantik, tinggi semampai, tapi sayangnya kalau berjalan sedikit miring”.

“Ah… malu rasanya dengan lagu yang aku nyanyikan, selalu saja kulihat kekurangan orang lain”.

“Mengapa debu di hatiku tak pernah aku bersihkan…?”.

“KITA MESTI BERJUANG MEMERANGI DIRI, BERCERMIN DAN BANYAKLAH BERCERMIN”.

Kita sepertinya lupa bahwa yang kita perangi selama ini adalah kemalasan untuk membaca buku2 ilmu pengetahuan yang bisa menghambat karir kita dalam bekerja.

Selain itu, dengan penuh semangat kita perangi kemiskinan demi meningkatkan status sosial. Memeras otak hanya untuk mencari jalan agar mendapat tambahan penghasilan…

Padahal terkadang kita ingat sebuah kisah sahabat Rasulullah SAW yang bertanya sesaat setelah peperangan Badar. “Ya Rasulullah, adakah perang yang lebih dahsyat daripada perang badar ini?”. “jihadun nafs”, jawab Rasulullah SAW. Yaitu “perang melawan hawa nafsu”.

“Beginilah aku yang lebih pandai berucap dan berkhotbah ketimbang melakukannya”.

“Kalau masalah bercermin aku tidak pernah lupa sehari pun. Apalagi kalau akan keluar rumah, kulihat wajahku, dandananku tak lupa kusemprotkan parfum kebanggaanku dan dengan percaya diri aku keluar rumah”.

“Aku juga bercermin kepada kawanku, tetanggaku, keluargaku tentang apa yang telah dia lakukan, sehingga mereka berhasil menduduki jabatan yang tinggi, kekayaan yang berlimpah hingga tak perlu khawatir tentang anak keturunannya”.

“Jeleknya aku, jarang, kalau tidak boleh dikatakan tidak pernah bercermin kepada saudaraku yang senantiasa beribadah kepada Allah, yang selalu mensyukuri apa yang dia miliki, lebih miskin dariku, namun bersedekah jauh melebihi aku”.

Padahal kita pernah mendengar bahwa lihatlah ke bawah tentang harta dan lihatlah ke atas mengenai ilmu.

Demikian juga ketika kita mendengar ayat-ayat Allah dibacakan "…lain syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi lasyadid", kemudian ditutup dengan “shodaqollohul adhim”.

Aku hafal tentang arti ayat Allah ini, “…sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Q.S. Ibrahim (14) : 7.

Kemudian ditutup dengan “maha benar Allah dengan segala firman-Nya).

dan, semua itu berlalu begitu saja di telingaku…

“Ya Allah, di manakah tempatku setelah Engkau perhitungkan amal dan dosaku?”

“Allah ada di dalam jiwa ini” adalah kalimat puitis yang sering didendangkan tatkala kita lagi menghadapi masalah atau menerima musibah.

Tak lupa kita sertakan kalimat pengharapan dan keyakinan, “Allah akan membantu hamba-Nya yang berusaha”, tidak lain hanyalah demi untuk memotivasi keyakinan kita untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Tidak demikian halnya tatkala kita lagi happy seakan kalimat2 tersebut tak pernah kita mendengarnya.

Bagaimana tidak, kita bisa berkata bohong untuk menolak permintaan shodaqoh untuk masjid, yatim piatu, kaum dhuafa…

Kita dengan leluasa membawa alat tulis kantor ke rumah untuk kepentingan pribadi, semuanya seakan Allah tidak ada dalam jiwa kita dan tiba2 ada ketika kita butuh pertolongan-Nya.

“Ya Allah, berilah aku petunjuk, karena hanya dari-MU-lah petunjuk itu datang.

“Dalam kebodohanku aku masih yakin bahwa Engkau akan selalu "tersenyum...", sayang padaku meski aku sering ingkar pada-Mu”.

“Siapakah Aku?”

Untuk kita renungkan…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar