Sabtu, 04 Juli 2009

MEMAHAMI BERBAGAI "KEBETULAN" DALAM KEHIDUPAN

Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika tahun 1860.
John F. Kennedy jadi presiden Amerika tahun 1960.
Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808.
Sedangkan pengganti Kennedy juga Johnson (Lindon) lahir tahun 1908.
Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy tewas terbunuh.

Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839, pembunuh Kennedy lahir tahun 1939.
Kedua pembunuh presiden ini terbunuh sebelum sempat diadili.
Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, sekretaris Kennedy bernama Lincoln.
Kedua sekretaris menyarankan kepada presiden agar tidak pergi ke tempat di mana kemudian terjadi pembunuhan, namun keduanya menolak.
Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan di teater kemudian bersembunyi di pasar swalayan.
Pembunuh Kennedy, sebaliknya.

Apakah semua itu "kebetulan"?

Dalam kehidupan Rasulullah SAW terdapat pula hal-hal seperti berikut :

Beliau lahir, hijrah dan wafat pada hari Senin bulan Rabiul awal.
Ayah beliau bernama Abdullah (pengabdian kepada ALLAH).
Ibunya Aminah (Kedamaian dan Keamanan)

Bidan yang menangani kelahirannya bernama Asy-Syifa (kesembuhan, perolehan sempurna dan memuaskan).
Sedangkan yang menyusukan beliau bernama Halimah (Yang Lapang Dada).

Beliau sendiri diberi nama Muhammad (Yang Terpuji), suatu nama yang sebelumnya tidak dikenal sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, "mengapa kakeknya menamainya demikian?"

Apakah nama-nama tersebut merupakan kebetulan-kebetulan atau ia merupakan isyarat tentang kepribadian-kepribadiannya?

Suatu peristiwa yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau terjadi secara tidak terduga biasa kita sebut "kebetulan".

Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan mengantarkan kita untuk menamainya demikian.

Tidak ada "kebetulan" di sisi ALLAH SWT.

Bukankah Dia Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Pengendali dan Pengatur alam ini?

Dalam Al-Quran, banyak sekali Allah menggunakan istilah yang menyangkut ‘ketetapan’, yaitu :

‘Sunnatullah.

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku”. Q.S. Al-Ahzab (33) : 38.

“Taqdir”.

“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. Q.S. Yasin (36) : 38.

“Qadla”.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”. Q.S. Al-Ahzab (33) : 36.

“Kitabillah”.

“dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)". Q.S. Ar-Rum (30) : 56.

“Hukum” – “hukmullah”.

“…dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya”. Q.S. Ar-Ra’d (13) : 41.

“Kalimatih” – “kalimatullah”.

“dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan -Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)”. Q.S. Yunus (10) : 82.

“Amrullah”.

“…dan ketetapan Allah pasti berlaku”. Q.S. An-Nisa (4) : 47.

“Faridlah” – “faridlatam minallah”.

…Ini adalah ketetapan dari Allah… Q.S. An-Nisa (4) : 11.

“Ajalallah”.

“…Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". Q.S. Nuh (71) : 4.

Diartikan “Inayah”, menggunakan kalimah “hukum”.

Dalam surat Ath Thuur diterangkan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu berada di bawah inayah Allah.

“dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu…”. Q.S. Ath-Thuur (52) : 48.

Juga Allah berfirman :

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)”. Q.S. Al-Qalam (68) : 48.

Bahasa yang umum, di samping sunnatullah, ada juga yang dinamai inayatullah (‘uluran tangan’ – ketetapan Allah) yang tidak harus selalu sama dengan sunnah-NYA.

Bukankah sunnatullah, yang sering diterjemahkan "hukum-hukum alam" tidak lain adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami kemudian diformulasikan ?

Sebahagian dari kebetulan-kebetulan itu tidak dapat ditafsirkan dengan teori kausalitas (sebab-akibat).

Bukankah ia pada hakikatnya hanyalah ikhtisar dari pukul rata statistik?

Itulah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNYA…

Marilah kita berdo’a, berusaha, dan bertawakkal (berserah diri) sepenuhnya kepada Allah untuk menggapai kesuksesan di setiap dimensi kehidupan…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar