Rabu, 01 Juli 2009

Sakinah Mawaddah wa Rahmah

Ketika kesempitan datang menghampiri. Saat kebutuhan begitu banyak yang harus dipenuhi. Mulai dari kebutuhan pokok berupa makanan, pakaian sampai pendidikan anak-anak sepertinya semua berkejaran dengan waktu. Hal yang kadang menyebabkan pertengkaran antara suami istri. Awalnya pertengkaran kecil yang berakhir dengan saling tuding dan menyalahkan. Begitu menyakitkan. Anak-anak dipaksa untuk menjadi penonton pelampiasan kemarahan antara ayah dan ibu mereka. Kadang-kadang kesabaran telah sampai di kerongkongan dan amat menyesakkan…Kemana harus mengadu...?...Bagaimana harus bersikap....?

Rasulullah mengajarkan, “Setiap umat dari Rasul-rasul terdahulu memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta kekayaan” (HR At-Tirmidzi)

Suatu ketika di Madinah, Ali bin Abi Thalib ra telah memperistri putri Rasulullah saw sendiri, Fatimah Azzahra. Dimasa-masa awal kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi kesulitan dan kesempitan. Saat itu kota Madinah sedang mengalami masa krisis. Masa-masa yang teramat sulit yang harus dilalui. Karena kesulitan itu memaksa mereka harus berpuasa untuk menahan lapar ketika tidak ada sesuatu untuk membeli bahan makanan.

Suatu hari Fatimah rha berkata kepada suaminya Ali ra., “Wahai Suamiku, semalam kita sudah berpuasa karena tidak ada yang dapat kita makan. Ini ada sebuah kalung pemberian Ayahku. Jual lah ke pasar dan belilah roti.” Ali menyetujuinya dan membawa kalung tersebut ke pasar. Setelah Ali ra. menjualnya, ia belikan roti secukupnya.

Ketika dalam perjalanan pulang, Ali ra. bertemu dengan seorang ibu peminta-minta bersama ketiga orang anak-anak yang masih kecil. Melihat Ali ra. membawa roti, ia berkata, “Ya Tuan, berilah kami sedikit dari roti itu. Anak-anakku dari kemarin belum makan sedangkan aku sudah 3 hari ini tidak makan.” Ali berhenti dan memberikan semua yang ia miliki kepada sang ibu dan anak-anaknya dan Ali ra melanjutkan perjalanannya kembali ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Ali ra bercerita tentang apa yang baru saja ia alami. Ali menambahkan, “Mereka lebih membutuhkan daripada kita. Kita baru 1 hari tidak makan sedangkan sang ibu sudah 3 hari dan Ia memiliki anak-anak yang masih kecil.” Fatimah rha hanya tersenyum dan berkata, “kalo begitu biarlah kita berpuasa lagi. Mudah-mudahan Allah memberi kelapangan kepada kita.”

Dapatkah kita becermin pada kisah ini? Dapatkah kita mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri kita sendiri? Inilah yang Allah sebut dengan sifat hamba-Nya yang mukhsin (orang-orang yang selalu berbuat kebaikan) dan Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mukhsin (QS Ali Imran [4]:148). Sifat mukhsin adalah sifat yang selalu dapat merasakan penderitaan orang lain ada pada dirinya.

Pernahkah kita berpikir bahwa rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah itu adalah sebuah rumah tangga yang penuh dengan kecukupan, kemapanan dan kelapangan? Pernahkah kita tahu arti dari kata “Sakinah” adalah ketenangan setelah kegoncangan? Seperti air yang kita tepuk mengalami riak dan akhirnya diam kembali. Dapatkah kita merasakan nikmatnya kecukupan tanpa merasa kesempitan terlebih dahulu? Atau ketentraman sebelum kita merasakan kegoncangan?

Sebuah buku telah mengingatkan kita bahwa, “Dapatkah kehidupan yang indah dan tenang serta terhindar dari segala kesulitan dan rintangan akan melahirkan orang-orang yang paling bahagia dan orang-orang besar?” Sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya. Justru orang-orang yang pernah merasakan kesusahan dan kesempitan dalam hidupnya yang akan muncul sebagai orang-orang yang berbahagia dan menjadi panutan bagi orang yang datang sesudahnya. Bercerminlah pada kisah Ali ra dan Fatimah rha di atas. Siapakah dari kita yang tidak mengenal Ali ra, Fatimah rha dan anak-anak mereka Hasan ra dan Husin ra sebagai mujahid-mujahid islam terbesar sepanjang sejarah?

Allah berfirman di QS Ath Thalaaq [65]:7, “Hendaklah orang yang mampu (suami) memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Pada ayat diatas Allah SWT berjanji “Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan kepada sebuah rumah tangga”. Tidakkah kita yakin akan janji Allah ini? Kenapa kita harus bertengkar antara suami dan istri dan saling menyalahkan hanya karena rizki? Bukanlah rezeki itu milik Allah, dan Allah jua yang berhak menentukannya kepada siapa yang ia kehendaki?

Allah berfirman di QS Ar Ra’d [13]:26, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit”

Dan Allah berfirman di QS An Nisaa’ [4]:32 “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebahagian dari karunia Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya.”

Allah SWT ingin kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang memandang jauh melebihi apa yang terlihat di dunia ini. Bukanlah kekayaan yang dikejar tetapi kehidupan yang menentramkan. Suatu kehidupan yang penuh keridhaan terhadap apapun yang Allah tetapkan.Bersabar dalam kesempitan dan bersyukur ketika kelapangan menerpa. Bukankah Allah SWT berjanji akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan pada QS Ath Thalaaq 7 diatas?

Benarlah Rasulullah dengan sabdanya: “Kalaulah dunia ini berharga disisi Allah seberat sebelah sayap nyamuk saja, maka Allah tidak akan memberi kekayaan walaupun seteguk minuman kepada orang-orang kafir” (HR At-Tirmidzi). Dunia indah bukanlah karena harta, tapi dunia ini indah karena dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya yang mukhsin, yang selalu berbuat baik dan ridha terhadap apapun yang ia terima...

“…Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan (Q.S. Al A’raf [7]: 56)

"Ya Allah, jadikanlah hatiku ridha untuk menerima segala ketetapan-Mu dan anugerahkanlah keberkahan atas apa yang Engkau taqdirkan bagiku agar aku tidak ingin mempercepat apa yang Engkau lambatkan bagiku dan aku tidak ingin memperlambat apa yang Engkau cepatkan untukku.” (HR Ibnu Sunni)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar