Selasa, 07 Juli 2009

Merantau

Seorang anak meminta izin kepada ibunya untuk merantau. Kemiskinan telah membuat sang anak ingin mengadu nasib di kota lain. Jika bertahan di kotanya ia hanya akan menjadi seorang buruh sedang dia adalah lelaki satu-satunya di keluarganya. Ayahnya telah meninggal dan dua adik perempuannya masih kecil. Maka sang ibu pun dengan berat hati mengizinkannya.

"Pergilah, anakku. Restu dan doaku akan selalu menyertaimu. Ingatlah pesanku, jangan sampai kau melupakan Tuhanmu, niscaya Ia pun akan melupakanmu. Jangan berlaku curang ataupun dengki. Jujurlah, adillah dan tekunlah dalam bekerja. Dan jangan sampai kepergianmu membuatmu lupa siapa dirimu. Ingatlah selalu akan asal usulmu."

Sambil mencium tangan sang bunda, sang anak berkata,
"Insyaallah, ibu. Kau akan mendapati aku sebagai orang yang menepati janji. Tunggulah hingga aku pulang."

Maka sang ibu melepas kepergian putranya dengan berlinang air mata.

Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun terlewati. Tak terasa sudah tujuh tahun sang putra merantau. Tak ada kabar tentangnya. Ia sedih, bertanya-tanya dalam hati apakah putranya telah melupakan janjinya.

Hingga suatu hari terdengar kehebohan dari kejauhan. Sang ibu dan dua putrinya terheran-heran, ada apa gerangan?
Tampak dari jauh unta-unta beriringan. Punggungnya tampak penuh dg barang. Sang ibu dan dua putrinya keluar dari rumah ingin tahu milik siapakah unta-unta itu. Hingga tampak kejauhan seorang pria duduk di atas unta yang terakhir. Semakin lama semakin mendekat. Barulah sang ibu sadar bahwa pria itu adalah anak lelakinya. Wajahnya pun tersenyum bahagia, air matanya bercucuran. Tak henti-hentinya mulutnya bersyukur pada Allah SWT. Saat sang anak tiba ia langsung mencium kaki sang bunda lalu memeluknya erat jg memeluk adik-adiknya.

Sang bunda bertanya, "Unta siapakah ini? Apakah mereka milikmu? Bagaimana kau bisa memperoleh unta sebanyak ini?"

Sang putra tersenyum dan berkata,
"Ini adalah unta-untamu, ibuku. Mereka semua adalah milikmu. Semua ini kuperoleh berkat restu dan doamu. Karena itu kuserahkan semuanya kepadamu. Maafkanlah aku yang tak pernah memberi kabar. Aku bekerja keras seperti pesanmu."

"Subhanallah...bukankah ini semua adalah hasil kerja kerasmu, nak."

"Iya, tapi ini tak sebanding dengan semua yang aku dapatkan darimu. Kudapatkan semua ini karena restu dan doa darimu, ibu. Selama merantau aku tetap memegang teguh pesanmu. Karena itulah aku berhasil. Sesungguhnya ridhamu adalah ridha Allah. Bukanlah aku yang membuatmu bangga karena memiliki anak seperti diriku. Tapi akulah yang bangga karena memiliki ibu seperti engkau, ibu."

Tak ada kata-kata lagi dari sang ibu, hanya air mata yang berlinang. Keduanya saling berpelukan, saling mensyukuri apa yang telah mereka peroleh dalam hidup mereka.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa; Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang sholeh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan padaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri."
QS.Al Ahqaaf:15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar