Sabtu, 04 Juli 2009

Kisah Luqman ra.

Ada sebuah kisah tentang hamba yang shaleh dalam mendidik anaknya. Ia bukanlah seorang Nabi dan bukan pula seorang Rasul. Ia hanya seorang hamba Allah yang hidup sebelum masa Rasulullah saw. Rasulullah pernah menceritakan kepada sahabatnya ibnu Umar ra mengenai Luqman, “Sesungguhnya Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi dia adalah seorang hamba Allah yang banyak menampung kebajikan, banyak merenung dan keyakinannya lurus. Dia mencintai Allah, maka Allah mencintainya, menganugerahkan kepadanya hikmah.” (dari kitab hadish Musnad al Firdaus)

Allah SWT mengabadikan kisah Luqman untuk diteladani dalam hal mendidik anak-anaknya. Sering kali kita mengatakan setelah membaca kisah-kisah di Al Quran bahwa kisah itu hanya berlaku untuk Nabi dan Rasul Allah SWT dan sulit terjadi pada kita sebagai manusia yang penuh kelemahan. Allah SWT mengerti pikiran hamba-hamba-Nya. Dari puluhan Rasul yang diutus-Nya, dari Ribuan Nabi yang dipilih-Nya, tidak satupun kisah mereka yang Allah SWT abadikan dalam hal mendidik anak di dalam Al Quran yang mulia. Allah SWT ingin kisah teladan dalam hal mendidik anak ini membumi bagi seluruh ummat manusia. Allah telah memilih Luqman. Seorang yang sangat awam seperti kita semua. Allah SWT telah memberi hikmah kepada Luqman karena hamba-Nya itu mencintai-Nya. Suatu penghormatan yang luar biasa.

Kisah Luqman diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Quran QS Luqman [31]: 12-19 sebagai pokok-pokok dasar pendidikan kepada anak.

1. Mengenalkan Allah SWT kepada anak sebagai perwujudan aqidah yang benar dalam kehidupan sebagai pokok dasar yang pertama. “…Hai Anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (ayat 13)

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua dan tetap menghormati keduanya walaupun keduanya mengajak kepada kekufuran sebagai pokok dasar yang kedua. “…Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapamu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutlah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku…” (ayat 14-15). Ada sesuatu yang luar biasa dari ayat-ayat ini. Ketika sampai kepada kewajiban untuk berbuat baik kepada orang tua, bukanlah Luqman yang menyampaikannya, tapi semua ini adalah perkataan Allah SWT. Allah SWT sendiri yang memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Hal ini dapat kita pahami, jika Luqman yang memberi nasihat kepada anaknya untuk berbuat baik kepada dirinya sendiri sebagai orang tua, pastilah Luqman membuat pernyataan yang menguntungkan dirinya sendiri sebagai orang tua. Tapi hal ini tidak terjadi. Allah SWT yang menyampaikan dengan kata-kata “…Dan Kami perintahkan…” Sungguh suatu pembuktian bahwa Al Quran itu bukanlah buatan manusia. Begitu banyak detail-detail penyampaian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dapat tersampaikan dengan baik.

3. Sifat Kejujuran sebagai pokok dasar yang ketiga. Menanamkan kejujuran kepada anak adalah hal yang sangat penting setelah aqidah, dan bakti kepada kedua orangtua. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya), Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (ayat16)

4. Mendirikan Shalat; Menegakkan ammar ma’ruf dan nahi munkar; dan Bersabar terhadap apa yang menimpa sebagai pokok dasar yang keempat, kelima dan keenam (ayat 17). Shalat adalah bentuk perwujudan ketaqwaan kepada Allah (hubungan vertikal). Amal ma’ruf nahi munkar adalah suatu amal shaleh dalam hal mengajak orang lain untuk mengerjakan yang baik dan mencegah mereka dari perbuatan buruk (hubungan horizontal) sedangkan bersabar dalam menerima taqdir (qadha dan qadar) adalah bagian dari rukun iman yang harus diajarkan kepada anak sedari dini.

5. Tidak berlaku angkuh dan sombong sebagai pokok dasar yang ketujuh. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai” (ayat 18-19).

Demikianlah Luqman telah membekali anak nya dengan tujuh pokok dasar pendidikan akhlak sebagai bekal yang paling berharga dalam kehidupan. Maha Suci Allah yang telah mengabadikan dasar-dasar pendidikan ini di dalam Al Quran. Semoga menjadi iktibar bagi kita semua.

Wallahu ‘alam bissawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar