Rabu, 01 Juli 2009

...IQRA...

Perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Karena, membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna, sebagaimanajanji Allah swt.
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi”

Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ‘membaca’ adalah syarat utama guna membangun peradaban. Dan bila diakui bahwa semakin luas pembacaan semakin tinggi peradaban, demikian pula sebaliknya. Maka uasaha untuk menggalakkan budaya membaca adalah hal yang sangat urgen untuk selalu dikampanyekan dan diusahakan. Maka, tidak mustahil jika pada suatu ketika ‘manusia’ akan didefinisikan sebagai ‘makhluk membaca’, suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya semacam ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berfikir’.

Sejarah umat manusia, secara umum dapat dibagi dalam dua priode uatama: ’sebelum penemuan tulis-baca’ dan ‘priode sesudahnya’ sekitar lima ribu tahun yang lalu. Dengan ditemukannya tulis-baca, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak-rangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaris sampai peradaban Amerika masa kini. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh generasi yang lalu dan dapat dibaca oleh generasi yang kemudian. Manusia tidak lagi memulai dari titik nol, berkat kemampuan tulis-baca itu.

Kejayaan peradaban romawi, peradaban Islam, peradaban Eropa saat ini tentunya semua dibangun dari tradisi membaca dan menulis. Beribu-ribu karya intelektual serta penemuan-penemuan yang original yang muncul pada zamannya. Intelektual bukanlah komunitas manusia yang hanya bergelut dengan tulis menulis, tetapi lewat berbagai macam eksperimentasi sehingga melahirkan suatu teori baru, begitu seterusnya hingga kini.

Tugas sebagai ‘Abd lillah dan khalifatullah fi al-ardh yang diemban oleh makhluk manusia adalah merupakan konsekuensi dari potensi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sekaligus sebagai persyaratan mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. Dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada (Adam) manusia, ia memiliki kelebihan dari malaikat, yangtadinya meragukan kemampuan manusia untuk membangun peradaban. Dan dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, maka manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Ilmu, baik yang kasby (acquired knowledge) maupun yang ladunny (abadi, perennial), tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira’at - bacaan dalam arti yang luas.

Kekhalifahan menuntut hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya, dengan alam serta hubungan dengan Allah. Kekhalifahan menuntut juga kearifan. Karena, dalam kaitannya dengan alam, kekhalifahan mengharuskan adanya bimbingan terhadap makhluk agar mampu mencapai tujuan penciptaannya. Untuk maksud tersebut, dibutuhkan pengenalan terhadap alam raya. Pengenalan itu tidak akan dapat tercapai kalau tanpa usaha qira’at (membaca, menelaah, mengkaji, dan sebagainya).

Demikianlah, Iqra’ merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah mengherankan jika ia menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia.

LUV,
Vi's

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar