Sabtu, 04 Juli 2009

Fitnah Adalah Kebaikan...

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong (fitnah) itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong (fitnah) itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong (fitnah) itu, baginya azab yang besar." (QS An Nuur [24]:11)

Sebab yang mengiringi turunnya ayat diatas adalah suatu ketika di tahun ke 5 H sehabis terjadi peperangan dengan Bani Mushthaliq, rombongan Rasulullah saw sudah bersiap-siap meninggalkan pos tempat mereka bermalam. Ketika itu istri Rasulullah saw yang ikut bertugas adalah Aisyah rha. Karena disebabkan oleh kehilangan kalungnya, Aisyah berusaha untuk mencarinya kesana dan kemari sehingga ia tertinggal oleh rombongan. Lama baru ia tersadar kalau rombongan Rasulullah saw telah meninggalkannya. Ia berusaha untuk tidak panik dan tidak menyusul rombongan Nabi karena takut akan terjadi sesuatu dalam perjalanan. Ia menunggu dan berharap Rasulullah saw menyadari bahwa Aisyah tidak ada dalam rombongan dan kembali menjemputnya. Ketika itulah Aisyah tertidur. Pada masa itu kewajiban hijab (jilbab) belum diturunkan sehingga Aisyah rha tidak mengenakannya.

Tidak berapa lama, seorang yang ditugasi oleh Rasulullah untuk mengamati pasukan musuh agar tidak mengikuti pasukan muslim, sampai di tempat Aisyah berada. Ia adalah seorang sahabat Nabi yang shalih. Syuhada perang Badar yang bernama Shafwan bin Mu'aththal ra. Syafwan adalah seorang pemuda yang jujur dan bersih. Ketika Syafwan pertama kali melihat tempat itu, didapatinya seorang wanita sedang tertidur. Ia kaget dan berkata, "Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, istri Rasul!" Hal ini menyebabkan Aisyah terbangun. Syafwan mempersilahkan Aisyah rha. untuk menaiki untanya dan ia berjalan sambil menuntun unta tersebut.

Menjelang siang, keduanya menemukan rombongan pasukan Rasulullah saw dan kembali bergabung dengan mereka. Ketika itu dalam rombongan pasukan muslim terdapat seorang tokoh munafik bernama Abdullah bin Ubayy. Melalui tokoh inilah, ketika sampai di Madinah, berita bohong (fitnah) tersebar kepada penduduk Madinah. Telah terjadi pemutarbalikkan fakta bahwa Aisyah sengaja bersembunyi agar tertinggal oleh Rasullah saw dan menunggu Syafwan ra untuk berhubungan mesra antara keduanya. Dari sini isu menyebar bagai api dalam sekam dan akhirnya di dengar oleh Rasulullah saw.

Dengan tersebarnya isu tersebut, Rasulullah gundah dan bimbang. Rasulullah berusaha mencari informasi dari banyak pihak antara lain dari istri-istri Nabi sendiri mengenai prilaku Aisyah. Juga dari beberapa sahabat-sahabatnya yang mengenal Syafwan. Disatu sisi Rasulullah tidak pernah mempercayai fitnah tersebut tetapi tidak memiliki cukup bukti untuk membela istrinya dan sahabatnya. Rasulullah terus berdoa kepada Allah SWT agar Allah menunjukkan kebenaran dari sisi-Nya. Dalam kegundahan ini, Rasulullah sampai-sampai mengantarkan Aisyah kembali ke rumah Abu Bakar ra untuk berpisah sementara menenangkan Aisyah dan dirinya. Kejadian ini juga sangat memukul Abu Bakr sebagai besan Rasulullah saw dan ayah dari Aisyah. Tapi Abu bakr sangat menghargai keputusan Rasulullah saw. Inilah periode yang begitu mengguncangkan bagi penduduk Madinah.

Dalam peristiwa ini ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah yang mengambil peran yang besar dalam penyebaran fitnah ini. Mereka, selain Abdullah bin Ubayy, adalah Misthah Ibn Atsatsah (kerabat Abu Bakr), Hasan bin Tsabit (penyair Rasulullah) dan Hamnah (saudara perempuan Zainab, istri Rasulullah saw). Sebagai pembelaannya terhadap Aisyah, Abu Bakr ra sampai-sampai bersumpah untuk tidak lagi menyantuni Misthah yang miskin beserta anak-anak dan istrinya. Saat itu, keluarga Misthah adalah salah satu keluarga miskin yang selalu disantuni oleh Abu Bakr setiap harinya.

Lebih dari sebulan peristiwa ini berlalu, Allah SWT menurunkan ayat ke 11 dari QS An Nuur diatas. Hal ini membuat perasaan Rasulullah saw lega. Aisyah kembali dijemput oleh Rasulullah untuk kembali dan Rasulullah saw meminta maaf kepadanya.

Dalam tafsir ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan seandainya Al Quran ini adalah ciptaan Muhammad saw, tentulah Beliau dapat dengan segera menghapus berita bohong (fitnah) tersebut dengan mengatasnamakan wahyu, dan bila itu terjadi, tidaklah seorang muslim pun meragukannya. Alangkah indah perangai Rasulullah saw, Ia terpaksa harus hidup menderita, menanggung beban kegelisahan yang begitu lama hanya untuk menunggu turunnya wahyu yang membenarkan. Allahumma Shalli 'ala Muhammad...

Allah SWT juga ingin menyampaikan kepada kita bahwa siapapun yang menjadi korban dari suatu berita bohong (fitnah), hal itu merupakan kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Karena ayat diatas tidak menyebutkan nama Rasulullah saw atau Aisyah rha secara khusus, maka ayat ini berlaku umum untuk siapapun dan bisa terjadi kepada siapapun dan pada masa kapanpun. Seseorang yang difitnah akan memperoleh ganjaran yang luar biasa berupa pahala dan kebaikan di sisi Allah SWT. Dengan fitnah juga, kedudukan seseorang menjadi terhormat di dalam suatu masyarakat karena banyaknya empati yang akan muncul. Orang yang menjadi korban fitnah akan mendapat simpati dan kehormatan di tengah masyarakat sedangkan orang yang menfitnah akan memperoleh cercaan dan tidak akan pernah dipercaya oleh siapapun lagi selama hidupnya.

Sumpah Abu Bakr ra dijawab Allah SWT dengan turunnya QS An Nuur [24]: 22 yaitu, "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sedangkan Abdullah bin Ubayy diganjar Allah dengan ganjaran yang luar biasa menyakitkan bahwa ia meninggal dalam keadaan dicap sebagai seorang tokoh munafik terbesar. Ketika ia meninggal dan Rasulullah ingin mensholatkannya, Allah menurunkan suatu ayat di QS At Taubah [9]: 84 yaitu, "Dan janganlah kamu sekali-kali mensholatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik."

Begitulah Allah membalas kejahatan orang penyebar fitnah. Bukankah doa Rasulullah saw tidak pernah ditolak oleh Allah? Para sahabat Rasulullah saw sangat mendambakan disetiap kematian mereka, Rasulullah lah yang akan memimpin sholat jenazah karena mereka yakin doa Rasulullah saw akan membebaskan mereka dari segala azab kubur dan siksaan api neraka. Bayangkan jika Allah SWT sampai melarang Rasulullah saw mensholatkan seorang Abdullah bin Ubayy. Dan tidak hanya itu, sekedar berdoa dikuburnya pun Allah SWT melarang Rasul Nya. 'Auzubillahi min dzalik.

Adapun Misthah Ibn Atsatsah (kerabat Abu Bakr), Hasan bin Tsabit (penyair Rasulullah) dan Hamnah (saudara perempuan Zainab, istri Rasulullah saw) semuanya memohon maaf kepada Aisyah rha dan Rasulullah saw serta Abu Bakr ra sebagai orang yang bersalah. Dalam suatu riwayat Hasan bin Tsabit dimasa tua-nya menderita kebutaan.

Mudah-mudahan kisah ini menjadi iktibar (pelajaran berharga) bagi kita...


Rasulullah bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa letih, penyakit, fitnah pada dirinya, kegundahan, sedih, rasa sakit, kegagalan sampai duri yang mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah akan menghapus dosa-dosanya." (HR Bukhari dan Muslim)

Kunjungi blog eDakwah di http://edakwahkita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar