Rabu, 01 Juli 2009

Dua Persepsi

Alkisah, hidup seorang lelaki yang sudah tua, terkenal sholeh dan dermawan. Ia selalu menjadi orang pertama yang tiba di mushola saat adzan selesai berkumandang. Ia selalu membantu siapapun yang kesulitan, tak peduli tua, muda, kaya, miskin, hampir seisi kampung pernah dibantunya, meski ia bukanlah orang kaya. Hidupnya sangat sederhana, tak pernah ia mengucapkan sesuatu yang buruk.

Pada suatu malam setelah selesai sholat tarawih, ia berjalan kaki pulang ke rumahnya. Saat melewati warung remang-remang yang selalu dilewatinya saat pulang, ia merasa letih.

"Assalamualaikum..maaf, saya boleh numpang duduk disini, saya lelah." kata lelaki itu.

"wa..wa..wa alaikumsalam pak haji..silakan.." para pengunjung warung itu bingung dan salah tingkah. Mereka tahu betul bahwa lelaki itu terkenal sholeh di kampung mereka. Beberapa dari mereka segera menyingkirkan botol-botol miras dari atas meja. Ada yang langsung membayar dan pergi. Ada yang pura-pura sibuk. Bahkan wanita penunggu warung cepat-cepat mengambil jaket untuk menutupi auratnya yang terbuka.

"Pak Haji tidak apa-apa?" tanya salah seorang pengunjung.

"Tidak apa-apa..cuma letih.." kata lelaki tua itu.

Tiba-tiba, "laa ilaha illallah.." ucap lelaki tua itu, tubuhnya jatuh ke samping, ke pangkuan seorang preman.

"Eh..pak haji..pak haji!"

"Lho kenapa, pak..pak..?"

Seluruh orang disitu kebingungan..tak menyangka bahwa lelaki tua yang mereka panggil pak haji itu ternyata sudah meninggal.

Berita kematian lelaki tua itu menyebar. Hanya saja diikuti dengan fitnah bahwa di akhir hidupnya, lelaki tua yang sholeh itu sedang berbuat maksiat. Semakin menyebar, semakin besarlah fitnahannya. Bahkan saat mensholati jenazahnya hanya keluaraga dan beberapa warga yang tidak percaya dengan fitnah itu yang bersedia mengikuti. Sementara para preman yang menjadi saksi kematian tidak bisa berbuat apa-apa. Kehadiran mereka saja sudah dianggap sampah masyarakat. Siapa yang akan percaya bahwa lelaki tua itu hanya numpang duduk dan tiba-tiba meninggal.

Sementara itu, beberapa waktu setelah kejadian itu, pada suatu subuh ada seorang preman kampung itu yang baru saja pulang dari warung remang-remang. Saat sedang berjalan kaki, tak sengaja sendalnya menginjak kotoran. Ia pun memaki-maki, sambil mencari-cari sumber air untuk membersihkan sendal dan kakinya. Lalu ia melihat mushola, dan langsung menuju tempat wudhu. Tak peduli ia itu adalah tempat bersuci, bukan tempat membersihkan kotoran. Setelah selesai, dipakainya kembali sendalnya. Baru beberapa langkah, jatuhlah ia terpeleset karena licinnya lantai akibat tersiram air. Kepalanya membentur ujung tembok, ia pun langsung meninggal.
Lalu, saat tibanya waktu subuh, tubuh preman itu ditemukan oleh muadzdzin. Dan langsung tersebarlah berita tentang preman kampung yang meninggal yang diduga saat hendak bertobat. Semakin lama, berita itu semakin besar, dengan penambahan disana-sini. Para warga berbondong-bondong memenuhi mushola, ingin ikut mensholatkan jenazahnya, hingga mushola tak muat lagi. Semua mensyukuri keinsafannya di saat terakhir hidupnya. Yakin bahwa kematiannya adalah syahid, pasti masuk surga.

Dari dua kisah di atas, tentu kita menyadari, bahwa kejadian itu bisa jadi terjadi di sekeliling kita. Kita langsung percaya, kita langsung mempersepsikan bahwa lamarhum begini atau begitu. Padahal bisa jadi persepsi kita sangat jauh dari kebenaran. Berhati-hatilah kita dengan persepsi, prasangka dan praduga. Karena sebagian dari persepsi, prasangka dan praduga itu adalah kebohongan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar