Rabu, 01 Juli 2009

Ar Rahman dan Ar Rahim

Seorang teman bertanya kepada seorang hamba Allah, “Kalau Allah memiliki sifat Ar Rahman dan Ar Rahim, kenapa di dunia ini masih banyak penderitaan, penindasan dan kemiskinan? Tidakkah Allah Maha Berkuasa atas semua itu dan dapat merubahnya menjadi kebahagian, kecukupan dan kekayaan. Dimana letak keadilan Allah SWT?

Hamba itu berusaha untuk menjawabnya. Awalnya ia bercerita tentang hakikat penciptaan manusia yang Allah SWT sampaikan di dalam kitab-Nya yang mulia Al Quran. Dalam QS Al Insaan [76] ayat 2, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.”

Inilah sebenarnya hakikat penciptaan manusia tersebut. Allah SWT hendak menguji setiap diri manusia dengan keadaan yang ia alami. Apakah keadaan itu menyenangkan buatnya ataupun menyusahkan baginya. Bukankah Allah memberi sesuatu yang paling berharga bagi manusia? Yang dapat ia pakai sebagai alat survival bagi keadaannya. Allah SWT memberi manusia "Akal". Ayat diatas menyebutkan, “Karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” Bukankah Akal akan bekerja dengan input pendengaran dan penglihatan? Data yang masuk melalui pendengaran dan penglihatan akan dicerna melalui akal dan kemudian ia akan memutuskan langkah apa yang akan ia ambil untuk menghadapi apa yang sedang meliputi dirinya. Jika apa yang ia lihat dan ia dengar menjadikan ia sedih, ia akan berusaha mengatasi kesedihannya. Ketika ia kekurangan, ia berusaha untuk mencukupi dirinya. Demikian seterusnya.

Di ayat berikutnya Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur” (QS Al Insaan [76]:3).

Di ayat ini Allah ingin menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan hati nurani bagi manusia yang dalam bahasa arab disebut Qalb. Sesuatu yang dipenuhi nilai-nilai ke-Illahiah-an. Dalam bahasa “Science Modern” disebut dengan “God Spot”. Sesuatu yang dapat menuntun manusia ke suatu jalan yang Allah ridhai. Tapi kenapa banyak dari manusia tersesat walaupun hati tersebut dipenuhi dengan nilai ke-Illahiah-an? Karena manusia sendiri yang tidak dapat menerjemahkan sinyal-sinyal ke-Illahiah-an tersebut. Ia selalu menutup hatinya untuk memahami. Ego dirinya lebih kuat dari keinginan untuk menerima kebenaran. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan Nya? Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al Jatsiyah [45]: 23)

Ada suatu riwayat dari Al Quran ketika Allah SWT menyuruh para makhluknya (malaikat) untuk bersujud kepada Adam. Allah berfirman di QS Al Hijr [15]: 29, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Dalam tafsir Al Mishbah, Dr Quraish Shihab menafsirkan bahwa Allah menyuruh malaikatnya untuk bersujud kepada ruh-Nya yang ada pada Adam as tersebut, bukan kepada bentuk manusia-nya. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia itu memiliki nilai yang sangat tinggi disisi Allah karena ada ruh Allah SWT di dalam dirinya. Karena hal yang demikian Allah telah memilih manusia untuk menjadi khalifahnya di muka bumi ini. Hal yang pada mulanya dipertanyakan oleh para malaikatnya. Hal ini Allah SWT sampaikan di QS Al Baqarah [2]:30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensyucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

Dalam bukunya “Even the Angel Ask” yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul “Bahkan Malaikatpun Bertanya” karya seorang mualaf amerika Dr. Jeffrey Lang, hal ini menjadi pokok bahasannya yang sangat panjang. Ia menyimpulkan bahwa manusia diberi Allah sesuatu yang tidak ada pada malaikat yaitu hati dan akal.

Jadi kenapa Allah seolah-olah membiarkan kemiskinan, penderitaan dan penindasan itu terjadi, hal itu tak lain adalah hakikat dari penciptaan manusia itu sendiri. Allah SWT ingin mengujinya dan Allah telah memberi manusia “akal dan hati” untuk dapat survive dalam kehidupannya yang tidak dimiliki makhluk lain.

Dalam hal menjawab pertanyaan yang kedua: “Dimana letak adilnya Allah?” Mungkin sang teman lupa kalau hakikat dunia bukan tempat meraih hasil. Setiap shalat 17 kali sehari semalam kita membaca “Maliki yau middin” dalam surat Al Fatihah yang berarti “Yang Menguasai hari Pembalasan.” Bukankah pembalasan itu kelak di akhirat nanti?

Kita baru dapat mengatakan seseorang telah berbuat adil kepada kita jika apa yang kita lakukan telah mendapat balasannya. Bagi seorang pekerja, ia akan mengatakan majikannya adalah seorang yang adil jika si majikan telah membayarnya upah sesuai dengan beban yang ia kerjakan. Dapatkah kita mengatakan Allah SWT tidak adil saat didunia ini? Sementara hasil dari apa yang menjadi amal shaleh kita belum mendapat balasannya? Kalaupun ada balasan itu baru hanya sekedar panjar karena dunia ini bukanlah tempat menuai hasil.

Allah mengibaratkan hubungan-Nya dengan hamba-Nya seperti hubungan jual beli (tijarah). Hal ini termaktub dalam QS Ash Shaff [61] ayat 10. Allah ‘Azza wa Jalla tidak berjual beli tunai karena jual beli tunai tidak memerlukan saling percaya. Jika dua orang melakukan jual beli tunai, maka tidak perlu ada kepercayaan antara si penjual dengan si pembeli asal tercapai kesepakatan diantara penjual dan pembeli mengenai mutu barang dan harga yang sesuai. Tapi jika si pembeli ingin mencicilnya, atau si penjual memerlukan panjar (DP), maka diperlukan saling percaya dan menghormati. Saling percaya inilah yang disebut keimanan kepada Allah SWT. Saat ini, di dunia, kita diperintahkan untuk mentaati Allah SWT dan sabar serta ikhlas dalam mentaatinya. Jika tidak ada keimanan dalam hati kita, dapatkah kita melakukannya?

Cobalah kita bayangkan jika si miskin dengan doanya tiba-tiba menjadi kaya; yang kaya karena didoakan oleh si miskin langsung jatuh menjadi miskin; yang sakit tiba-tiba menjadi sembuh; yang terbunuh tiba-tiba bangkit dan membunuh si pembunuh; yang bersedeqah langsung dibalasi dengan berlipat ganda oleh Allah SWT di dunia ini; Seorang pengendara sepeda motor yang menyalip sebuah mobil langsung terjatuh karena didoakan celaka oleh pengemudi mobil dan anak yang berbohong kepada orang tuanya akan langsung terjulur lidahnya. Apakah semua ini dapat dikatakan pembalasan yang adil? Jika semua ganjaran dari segala usaha kita balasannya di dunia ini justru “dunia sebagai tempat ujian” sudah tidak berlaku lagi. Dan yang sangat tidak adil adalah balasan di dunia itu hanya bersifat sementara karena “umur” manusia hanya sementara. Berbeda dengan balasan di akhirat yang bersifat kekal dan berkesinambungan.

Dapat dipastikan juga keimanan kita secara perlahan akan memudar karena segala bentuk ibadah kita hanya mengharapkan balasannya saja di dunia ini. Ke-ikhlas-an untuk berbuat karena Allah semata luntur dan tak terasa manisnya lagi. Taqwa jadi hanya tinggal nama. Kita menjadi manusia-manusia yang hanya mengukur segalanya dari materi.

Demikianlah yang dapat disampaikan. Penulis tak luput dari sifat khilaf dan salah. Kebenaran hanya milik Allah SWT. Wallahu ‘alam bissawab…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar