Selasa, 07 Juli 2009

TENTANG COBAAN...

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan, maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah.

Jarang sekali kalau kita dapat rizki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun meru¬pakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada di antara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula di antara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a : "…Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang se¬belum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… ". Q.S. Al-Baqarah (2) : 286.

Do'a tersebut lahir dari sebuah prinsip bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut. Yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta, dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau mene¬rima komisi tidak sah jutaan rupiah?

Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi" yg lebih empuk? Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh?

Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, ke¬kurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar". Q.S. Al-Baqarah (2): 155.

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang kaya atau orang yang gagah. Tapi orang yang sabar!

Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah… sabar kan ada batasnya… ".

Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar…, saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?"

Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia cipta¬kan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas : "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un”. Q.S. Al-Baqarah (2) : 156.

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi… ".

Orang sabarkah kita?

Andaikata kita mau merenung makna kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un”, maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali".

Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an.

Ikhlaskah kita bila handphone, mobil, rumah yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang? Relakah kita bila proyek yang sudah di depan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dan diberikan kepada saingan kita?

Berubah menjadi dengkikah kita bila meli¬hat tetangga kita sudah membeli TV baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kem¬bali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah…

Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, di tengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Q.S. Al-Baqarah (2) : 157.

Allah menegaskan pula dalam Al-Qur'an : “Laa yukallifullahu nafsan illa wus ‘aha…”, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Q.S. Al-Baqarah (2) : 286.

Untuk itu, tak usah buru-buru meratapi kondisi kita yang miskin, sakit-sakitan, ditimpa ben¬cana, dll seakan hanya kita yang mendapat cobaan yang berat dari Allah…

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”. Q.S. Al-Baqarah (2) : 185.

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”. Q.S. Al-Insyirah (94) : 5-6.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar