Rabu, 01 Juli 2009

Surah itu Berarti Perceraian

Mushaf itu telah selesai dibaca. Suatu surah dari Al Quran yang penuh makna dan dijelaskan dengan sangat rinci. Surah itu bernama Ath Thaalaq [65] yang berarti perceraian. Hamba itu begitu terkesan dengan ayat-ayatnya yang agung. Dimulai dari ayat pertama sampai dengan ayat ketujuh, ada suatu kalimat seperti selalu terulang dengan penekanan yang berbeda:

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan kemudahan dalam urusannya”
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”

Rasulullah bersabda, “Allah menghalalkan perceraian tapi membencinya.” (HR Bukhari). Dalam hal ini, Rasulullah saw menjelaskan, kelak di hari kiamat Allah SWT enggan untuk membuka tabir diri-Nya dengan hamba-Nya yang pernah bercerai ketika di dunia. Allah SWT berpaling dan tidak ingin melihat kepada hamba-Nya tersebut walaupun Dia mengampuninya.

Apakah yang menjadikan kata-kata “Taqwa” disebut berulang-ulang didalam ayat-ayat mengenai perceraian?

Hamba itu kembali mengingat arti sebuah kata “taqwa” bagi dirinya. Sejak kecil ia selalu diberi pemahaman bahwa: “Taqwa adalah sebuah kewajiban untuk selalu mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya.” Dan ia selalu bertanya baik kepada dirinya maupun guru mengajinya, “Dimanakah kita harus menempatkan diri kita? Apakah kita harus bersikap seperti seorang “budak” yang sangat takut kepada tuannya, sehingga seluruh yang diperintahkan tuannya harus ia turuti dan segala larangannya harus ia jauhi demi untuk terhindar dari murka tuannya kepadanya? Atau apakah kita harus bersikap seperti seorang “pedagang” yang selalu berorientasi pada keuntungan (dalam bahasa iman adalah pahala). Jika kita mengerjakan sesuatu, kita akan memperoleh keuntungan (pahala), dan selalu berlomba-lomba untuk meraih keuntungan (pahala) yang sebanyak-banyaknya?” Selama ini, tidak ada jawaban yang memuaskannya.

Ternyata tafsir dari ayat-ayat "surah perceraian” ini begitu menakjubkan. Bagi yang sudah berumah tangga, kita pasti pernah bertanya: “Apakah yang terpenting dalam kehidupan sebuah rumah tangga?” Dapat dipastikan jawabnya adalah cinta dan ke-ikhlas-an. Tanpa dua hal ini sebuah rumah tangga tidak akan bertahan dan kemungkinan besar akan terjadi perceraian. Jika bertahanpun, pastilah akan kehilangan “ruh” dan akan terasa hambar. Bayangkan jika kita berbuat sesuatu kebaikan kepada pasangan hidup kita karena keterpaksaan? Bayangkan jika kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri tanpa keikhlasan? Dan Bayangkan jika seorang istri melayani seorang suami tanpa rasa cinta dan ke-ikhlas-an, pastilah berbuah penderitaan. Demikian juga dalam hal mendidik anak. Mendidik anak tanpa cinta dan ke-ikhlas-an pastilah akan berbuah pamrih dan kejengkelan jika si-anak tumbuh tidak sesuai dengan keinginan kita.

Allah ingin mengajarkan kepada kita di "surah perceraian” ini bahwa taqwa yang kita pahami sebagai “sebuah kewajiban untuk selalu mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya” haruslah didasarkan kepada cinta dan ke-ikhlas-an kepada-Nya. Dua hal yang akan mendatangkan ridha-Nya dan dengan ridha-Nya itu, kita akan dibimbing-Nya untuk menemukan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapi, memberi rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka, memberi kemudahan dalam setiap urusan kita, menghapus setiap kesalahan yang kita lakukan dan melipatgandakan pahala bagi kita. (lihat QS Ath-Thalaaq 2-6). Bukankah hal ini yang selalu kita inginkan dalam setiap langkah kehidupan kita?

Maha Benarlah Allah, yang telah menjelaskan kata “Taqwa” disebuah surah yang berarti “Perceraian”. Dan hal ini juga membuktikan betapa Al Quran itu jauh dari buatan manusia. Bukanlah sebuah kebetulan kata “taqwa” disandingkan dengan “perceraian”. Dan hal ini adalah semata-mata untuk menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya begitu agungnya ayat-ayat yang diturunkan-Nya melalui Rasul-Nya yang mulia.

Jika taqwa itu didasarkan pada cinta dan ke-ikhlas-an kepada-Nya, pastilah kehidupan ini berbuah ketentraman dan kebahagian serta terasa indahnya. Demikian juga jika sebuah rumah tangga yang didasari pada cinta dan ke-ikhlas-an, pastilah juga akan berbuah pada ketentraman dan kebahagian dan dapat dipastikan akan terasa indahnya. Demikianlah Allah mengajarkan kepada kita….


Rasulullah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orang-orang mukmin itu, semua urusan adalah baik baginya. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur dan hal itu adalah kebaikan baginya. Jika ia memperoleh kesusahan, ia bersabar dan hal itu adalah kebaikan pula baginya.” (HR Muslim)

Wallahu 'alam bissawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar