Rabu, 01 Juli 2009

...GHIRAH...

Kalau kita pencemburu, maka Allah Swt Zat Yang Maha Cemburu sehingga syirik dosa yang tak terampuni. Bagaimana membuat Allah tidak cemburu?

Cemburu, dalam bahasa Arabnya disebut ghirah yang berarti " semangat yang menggelora karena tidak mau dihina, diremehkan, atau karena kehormatannya dikurangi."

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan, cemburu itu ada dua macam. Yaitu cemburu karena kekasih, dan cemburu terhadap kekasih.

Apakah bedanya?

Cemburu karena kekasih adalah semangat yang menggelora dan marah jika kekasihnya itu diremehkan haknya, direndahkan kehormatannya, dan mendapat gangguan dari pihak lain (rivalnya).
Cemburu ini adalah kecemburuan hakiki yang merupakan manifestasi rasa cinta. Cinta yang sedemikian besar, sehingga sang pencemburu merasa nothing to lose untuk mengorbankan raga, harta, bahkan jiwanya demi sang kekasih, sampai penyebab cemburunya itu hilang dan sirna.

Cemburu yang kedua, adalah cemburu terhadap kekasih...?
cemburu yang kedua ini adalah kemarahan dan ketersinggungan orang yang jatuh cinta terhadap pihak lain yang juga mencintai kekasihnya. Baik sang kekasih mengabaikannya, apalagi bila sang kekasih menyambutnya.Bisa berbunga-bunga rasanya, pokoknya Seperti terbang.

Nah..., Allah Swt yang menciptakan rasa cemburu pada manusia itu pun, adalah Zat Yang Maha Cemburu. Rasululloh Saw menginformasikan bahwa, " Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah" (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana Allah Swt itu cemburu?
Allah itu Maha Pencemburu karena kekasihnya, dan Dia juga cemburu bila kekasihnya melebihkan cintanya kepada pihak lain (selain Allah, tentunya...)

Jika orang yang tidak beriman saja masih diperhitungkan Allah Swt, apalagi kaum mukmin, maka setiap mukmin adalah kekasih Allah Swt. Alloh dekat dengan kaum mukmin, bahkan lebih dekat ketimbang urat lehernya sendiri. DIA marah bila ada mukmin seperti kita tidak butuh kepada-Nya, dan... Dia tentu akan mengabulkan setiap pinta mukmin, yang meminta kepada-Nya. " Berdo'alah kepada-KU, niscaya akan ku kabulkan".

" Sungguh, Allah Swt senantiasa melindungi hamba-Nya yang mukmin dari dunia, sebagaimana salah seorang di antara kalian melindungi orang sakit dari makanan dan minuman," demikian wasiat Nabi Muhammad Saw sebagaimana diriwayatkan At-Tarmidzi.

Namun, seperti dilagukan Bimbo: ' dia dekat Aku dekat, dia jauh Aku jauh '. Oleh karena itu, dan sabda Nabi :
" sesungguhnya Alloh sangat cemburu untuk orang islam, maka orang muslim pun harus cemburu untuk Allah " (HR. Thabrani).

Bagaimana agar mukmin tidak membuat cemburu Allah?
Yaitu jangan melakukan apa yang dibenci oleh Allah.
Wasiat Nabi Saw, " Tak ada sesuatu pun yang lebih cemburu daripada Alloh, maka dari itu Dia mengharamkan perbuatan buruk dan maksiat " (HR. Bukhari-Muslim). Juga sabda Beliau Saw lagi, " Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah. Untuk itu Dia mengharamkan berbagai kekejian, yang tampak maupun yang tersembunyi..." (HR. Bukhari-Muslim)

" Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang Mukmin itu cemburu. Kecemburuan Allah itu ialah jika ada orang mukmin melakukan apa yang diharamkan atas dirinya." (HR. Bukhari-Muslim).

Selain kemaksiatan, hal yang dicemburui Allah adalah bila mukmin menomorduakan cintanya pada Allah. Baik kepada manusia maupun kepada harta benda.
ALLAH Berfirman : " Katakanlah: ' Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq." (QS. At-Taubah: 24 ).

" Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintai sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah..." (QS. Al-Baqarah: 165)

Salah satu sahabat Nabi Saw yang mencintai Alloh setulusnya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah. Di perang Badar, Abu Ubaidah pun berusaha menghindari ayahnya yang masih berpihak di barisan kafir Quraisy. Namun, setelah Al Jarrah menantangnya duel, Abu Ubaidah akhirnya bersedia melayani. Al Jarrah pun tewas di tangan puteranya sendiri, yakni Abu Ubaidah

Betapa hancur hati Abu Ubaidah, harus membunuh ayahnya sendiri meskipun untuk mempertaruhkan kebenaran. Allah Swt lalu menghibur Abu Ubaidah dan kaum muslimin dengan ayat 22 Al-Mujaadilah:
" Kamu tidak akan mendapati suatu kaum beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang berkasih sayang dengan para penentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanam keimanan dalam hati dan menguatkannya dengan pertolongan Allah..."

Orang-orang seperti Nabi Muhammad Saw lah yang menjadi kekasih terdekat Allah. Beliau sudah sampai pada derajat seperti yang dilukiskan dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari:
" Siapa yang memusuhi wali-KU, kumaklumatkan perang kepadanya. Tidaklah lebih kusukai pendekatan hamba kepada-KU,kecuali dengan amalan yang telah KU-wajibkan. Jika hamba-KU berupaya terus-menerus lebih dekat dengan-KU melalui amalan-amalan sunah, akhirnya AKU mencintainya. Dan bila AKU mencintainya, pendengarannya adalah pendengaran-KU, penglihatannya adalah penglihatan-KU, gerka tangannya adalah gerakan tangan-KU, dan langkah kakinya menjadi langkah-KU. Bila ia memohon pasti KU-kabulkan, dan bila ia meminta perlindungan pasti KU-melindungi."

LUV,
Vi's

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar