Sabtu, 04 Juli 2009

Ciri-ciri Orang yang Akan Mendapatkan Kebahagiaan

Tidak ada diantara kita yang tidak ingin menggenggam kebahagiaan dan sering kali kita membaca do’a untuk mendapatkan kebahagiaan baik dunia maupun akhirat “robbanaa atfnaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qina adzaabannaar“. Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.

Nabi Muhammad SAW pernah memberikan gambaran yang dapat kita jadikan cermin untuk melihat dan untuk mengintrospeksi diri kita masmg-masing, beliau pernah menggambarkan tentang ciri-ciri orang yang akan mendapatkan kebahagiaan itu adalah :

1. Dzikru min azabillah

Ingat dengan dosa-dosa yang telah ia lakukan. Selanjutnya Rasul menyampaikan bahwa orang yang akan celaka adalah dia lupa dengan dosa-dosa yang pernah dia perbuat padahal disisi Allah itu tersimpan dengan rapi karena didokumentasikan dengan sempurna oleh Malaikat Rokib dan Atib.

Orang yang akan mendapatkan kebahagiaan ingat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan, bahkan menurut Abu Bakar Ashidiq ra, mengatakan orang yang bahagia “merasa besar akan kesalahan-kesalahan serta dosanya, bahkan salah satu ayat yang berbicara tentang orang-orang yang akan bahagia dan orang-orang yang taqwa dalam tafsir Al Thobari, bahwa ia merasa mendapatkan kejelekan yang sangat luar biasa dari perbuatan maksiat dan perbuatan dosa”, namun para ulama banyak yang menjelaskan “perbuatan dan perkataan yang jelek, itulah yang disebut fahisyah, sementara menurut para ulama mengatakan fahisyah itu dzolim pada diri sendiri.

Orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan acapkali saat melakukan perbuatan dosa dia selalu ingat kepada Allah dan takut akan siksa Allah dan dzat yang sangat jauh yang tidak ada cela sama sekali, menyampaikan bahwa orang yang akan celaka adalah dia lupa dengan dosa-dosa yang pernah dia perbuat padahal disisi Allah itu tersimpan dengan rapi karena didokumentasikan dengan sempurna oleh Malaikat Rokib dan Atib.

Orang bahagia ingat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan, bahkan menurut Abu Bakar Ashidiq ra, orang yang bahagia “merasa besar akan kesalahan-kesalahan serta dosanya”, bahkan salah satu ayat yang berbicara tentang orang-orang yang akan bahagia dan orang-orang yang taqwa dalam tafsir Al Thobari, “ia merasa mendapatkan kejelekan yang sangat luar biasa dari perbuatan maksiat dan perbuatan dosa“, namun para ulama banyak yang menjelaskan perbuatan dan perkataan yang jelek, itulah yang disebut fahisyah. Sementara menurut para ulama mengatakan, fahisyah itu dzolim pada diri sendiri.

Orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan acapkali saat melakukan perbuatan dosa dia selalu ingat kepada Allah dan takut akan siksa Allah dan dzat yang sangat jauh yang tidak ada cela sama sekali, kemudian mereka mohon ampun pada Allah. Jadi orang-orang yang bahagia itu adalah orang yang selalu ingat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan, mesti dosa itu sangat kecil ia senantiasa memperbanyak istigfhar mohon ampun kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh. Beliau adalah sosok manusia yang diampuni dosa-dosanya surga telah menanti, tetapi beliau sendiri tidak kurang 70 kali setiap hari mohon ampun kepada Allah SWT. Dalam riwayat lain tidak kurang dari 100 kali mohon ampun kepada Allah, ini pula diikuti oleh orang-orang sholeh.

Imam Khodadah yang mengartikan bahwa orang-orang saleh itu sedikit tidur diwaktu malam dan memperbanyak sujud di malam hari dan sholat malam bahkan dipenghujung malam mereka mohon ampun kepada Allah bukan hanya kepada keluarganya saja akan tetapi untuk memohon ampun untuk kaum muslimin.

2. Nisyanul hasanatil maadiyah

Orang yang akan mendapatkan kebahagiaan melupakan amal-amal baik yang ia lakukan. Berbeda dengan orang-orang yang akan mendapatkan kecelakaan yang selalu ingat akan kebaikan yang pernah ia perbuat. Orang yang akan celaka selalu ingat kebaikan yang ia perbuat meski amal baiknya sangat kecil dan dia tidak mengetahui apa perbuatan baiknya itu diterima oleh Allah SWT atau justru ditolak.

Orang-orang yang akan menggenggam kebahagiaan merasa sedikit amal kebaikan amat sangat tidak berbanding antara kenikmatan amat luar biasa yang Allah SWT berikan, jika engkau menghitung-hitung tentang nikmat dan karunia Allah yang engkau terima tidak mungkin engkau bisa menghitungnya.

Dalam surat Ibrahim ayat 34 disebutkan, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat“. Asma binti Abu Bakar, kakak ipar Rasulullah SAW - kakaknya Siti Aisyah namun lain ibu, pernah dinasehati oleh Rasul “janganlah engkau menghitung-hitung amal mu kepada Allah, janganlah engkau merasa banyak amal mu nanti juga Allah SWT bisa berhitung kepadamu. Tiap detik, menit dan jam berapa karunia dari Allah yang engkau terima, tiap detik pula berapa banyak amal ibadahmu kepada Allah amat sangat tidak berbanding. Terlalu banyak karunia Allah yang
sudah Allah berikan kepada kita dan teiialu sedikit amal ibadah kita kepada Allah SWT.

3. Wanadzruhuu illa man fauqohuu fiddinn

Jika sudah urusan agama dia selalu melihat ke-atas yaitu dia selalu melihat orang yang lebih hebat dan kalau dia sudah mampu melakukan sholat 5 waktu dengan mantap, dia melihat orang-orang sholat dhuhanya lebih hebat dari dia, kalau dia sudah mampu, dia melihat orang-orang yang sujudnya di waktu malam cukup banyak. Kalau toh dia sudah mampu, ia akan melihat orang-orang yang di atasnya mungkin ibadah kita sebelum seberapa dibandingkan dengan Robiatul Addawiyah yang setiap malam dalam sejarahnya tidak kurang 400 rakaat sujud kepada Allah SWT.

Kalau toh kita sudah banyak infaq dijalan Allah, hal itu belum seberapa bila dibandingkan infaqnya sahabat Rasul yaitu Abu Bakar Shidiq ra. Kalau kita sudah membela agama-agama Allah yang dihina oleh orang kafir quraisy mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan para sahabat dan tabiin yang berusaha meluruskan orang-orang yang berusaha membengkokkan ajaran Allah SWT. Mungkin belum seberapa apa yang pernah kita lakukan.

Kalau sudah menyangkut urusan agama orang yang akan mendapatkan kebahagiaan selalu melihat ke atas, namun kalau sudah urusan dunia dia melihat orang yang ada di bawahnya. Dia tidak melihat ke atas agar senantiasa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan. Memang usaha harus semaksimal mungkin, tetapi yang mempunyai ketentuan adalah Allah SWT, yang menggengam segalanya serta yang menentukan segalanya adalah Allah SWT, acapkali jika Allah sudah menentukan orang-orang yang akan bahagia senantiasa menerima dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan.

Orang tersebut sadar betul dunia memang seringkali membuat kita terkecoh, dan Allah SWT sendiri telah mengingatkan kepada kita bahwa jangan sampai kesenangan dunia membuat engkau tertipu, terlalu banyak orang yang selalu mengejar target lalu harus mengobrak-abrikkan tatanan hukum Allah hanya untuk mengejar kekayaan, kemewahan, kekuasaan serta kemegahan kemudian melanggar aturan-aturan Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT menggambarkan dalam surat Al Hadid yang artinya “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendaugurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan diakhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu“.

Kalau sudah urusan dunia ia tidak melihat ke atas agar senantiasa selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Mudah-mudahan semua ini dapat kita jadikan renungan dan pelajaran agar kita termasuk orang-orang dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kelak, amin.

Sumber : Indah Mulya Edisi No. 480 Th. VI - 6 Juli 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar