Rabu, 01 Juli 2009

Setiap Kebaikan Ada Balasan

Suatu hari seorang suami bernama Abdullah berniat untuk pergi haji. Istrinya, Rahma, mendukungnya meski ia tak ikut. Uang yang mereka miliki hanya cukup untuk 1 orang.

Abdullah berkata pada istrinya, " Hai istriku, uang yang ada hanya cukup untuk 1 orang. Apakah kau rela bila aku berangkat haji terlebih dahulu?"

"Tentu saja, suamiku. Tak usah kau bingung memikirkan aku. Insyaallah, jika Allah berkehendak tentulah Allah akan memberi rezki supaya aku bisa berangkat suatu saat nanti." jawab istrinya sambil tersenyum.

"Aku berjanji, sepulangku dari ibadah haji aku akan bekerja keras supaya engkau dapat menunaikan ibadah haji secepatnya." jawab suaminya.

"Insyaallah, suamiku, insyaallah." kata istrinya.

Maka Abdullah dibantu istrinya segera mempersiapkan bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan menuju kota Mekkah yang cukup jauh jaraknya. Ketika semua telah siap, Abdullah berpamitan, belum sempat kakinya melangkah keluar, terdengar ketukan pintu di luar. Abdullah membuka pintu.

"Assalamualaikum, Abdullah." kata seorang pria yang tak lain adalah Ali, kerabatnya.

"wa alaikumsalam, Ali. Masuklah." jawab Abdullah.

"Hai Abdullah, sesungguhnya aku memohon pertolonganmu..aku telah kehilangan pekerjaanku sebagai penggembala unta. Saat aku pulang rumahku telah habis terbakar, tak ada yang tersisa. Alhamdulillah istri dan 2 anakku selamat. Aku bermaksud meminjam uang sekedar untuk membeli pakaian dan makanan."

Abdullah merasa iba, diambilnya uang yang hendak ia gunakan sebagai biaya perjalanan. "Ini, ambillah. Keluargamu lebih membutuhkan daripada kami. Tak usah kau pikirkan cara mengembalikannya."

Ali terkejut tak menyangka dia langsung mendapat uang segitu banyak. Langsung ia peluk erat tubuh Abdullah dengan berlinang air mata. "Terima kasih, Abdullah. Sungguh Allah akan membalas kebaikanmu."

Setelah sang kerabat pulang, Abdullah pun terduduk, air mata mengalir di pipinya. Istrinya menghampirinya dan menghiburnya. "Bersabarlah suamiku. Sesungguhnya Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Apabila kau tetap berangkat, bukankah kau akan berdosa besar jika kerabatmu mati kelaparan."
"Sungguh aku tak menyesali keputusanku tadi, istriku. Justru aku merasa kerinduanku kepada Allah SWT semakin besar."
"kalau begitu, marilah kita sholat berjamaah, kita syukuri kejadian hari ini." ajak istrinya.
Abdullah tersenyum dan menyambut ajakan istrinya.

Musim haji berlalu, tiba-tiba Abdullah dan istrinya dikejutkan oleh serombongan orang yang mengetuk pintu rumah mereka. Abdullah segera membuka pintu.
"Assalamualaikum. Benarkah kau Abdullah bin Hasyim?" tanya salah seorang di antara rombongan.
"Wa alaikumsalam. Benar aku Abdullah bin Hasyim. Ada keperluan apakah kalian kemari? Sesungguhnya kami tidak memiliki apa-apa yang berharga."
"Hai Abdullah, kami kemari bukan ingin meminta sesuatu padamu. Kami ingin memberi ucapan selamat karena kau telah menjadi haji yang mabrur." jawab seorang pria yang lain dibarengi dengan anggukan setuju anggota rombongan yang lain.
"Hai saudaraku, sungguh aku tidak menunaikan ibadah haji. Aku tidak berkesempatan tahun ini. Tentulah kalian salah orang."
"Kami tidak salah orang. Guru kamilah yang mendengar sendiri ucapan orang bahwa kau, Abdullah bin Hasyim adalah salah satu dari 6 orang yang haji mabrur tahun ini. Sedangkan guru kami bukanlah pembohong."

Makin bingunglah Abdullah dan istrinya.. Apakah yang sebenarnya terjadi..? Ternyata guru dari para rombongan itu adalah seorang alim yang sedang menunaikan ibadah haji. Saat ia sedang berbaring di dekat Ka'bah, ia mendengar perbincangan 2 orang lelaki.
"Berapa orangkah yang mabrur tahun ini?" kata lelaki pertama.
"Hanya 6 orang. Salah satunya adalah Abdullah bin Hasyim" jawab lelaki kedua.
Seketika itu sang guru langsung melihat ke arah suara para lelaki itu. Ternyata tidak ada siapa-siapa. Sadarlah dia bahwa yang berbincang tadi adalah 2 malaikat. Segera dia sampaikan berita itu pada para muridnya setelah ia selesai menunaikan ibadah haji.

Maha Adil Allah atas hambanya. Sungguh setiap muslim diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji. Bagi orang yang tidak mampu pun mereka bisa menjadi haji yang mabrur. Tergantung seberapa besar pengorbanan mereka terhadap kepentingan mereka sendiri. Bukankah esensi dari haji adalah pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap Nabi Ismail, anak yang paling dicintainya. Turunnya perintah penyembelihan itu semata-mata supaya Nabi Ibrahim rela mengorbankan apapun dan siapapun demi cintanya pada Allah SWT saja. Jangan sampai cinta pada dunia dan anak-anak melebihi cinta pada Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar